Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1

Tourtaleslights
Chapter #8

IKAN BUSUK

Tiga hari setelah keputusanku, dunia berubah.

Bukan karena aku menemukan kekuatan magis. Bukan karena aku bertemu sekutu rahasia. Tapi karena sesuatu yang lebih sederhana, lebih membumi, lebih dalam segala ketidaknyamanannya sempurna.

Seekor ikan busuk.

Atau lebih tepatnya, sepuluh ton ikan busuk yang membusuk di gudang pabean Pelabuhan Sunyi.

Pagi itu dimulai seperti biasa. Aku terbangun di tikar anyaman yang sama, menatap langit-langit berlumut yang sama, menghirup bau amonia yang sama. Di sudut penglihatanku, log merah Norkath Kest masih berkedip 50 Umara, pelanggaran prosedur, air ilegal tapi aku sudah belajar untuk mengabaikannya. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku sudah belajar bahwa kemarahan yang terus-menerus hanya akan menghabiskan energi yang tidak kumiliki.

Aku sudah belajar untuk melihatnya sebagai pengingat, bukan hukuman.

Aku keluar dari bilikku. Melewati lorong sempit. Melewati gubuk Sari, di mana Denu sudah bangun dan melambai padaku dengan senyum lebarnya. Setiap kali aku melihat senyum itu, log merah di sudut mataku terasa lebih redup. Melewati penyaring air yang masih menetes plok... plok... plok... setia seperti janji yang tidak pernah ingkar. Air itu masih mengalir. Masih jernih. Masih tanpa izin.

Dan kemudian aku mendengar suara yang tidak biasa.

Bukan suara ombak. Bukan suara mesin stempel. Ini suara yang lebih berat, lebih dalam, lebih berbau. Suara sesuatu yang sudah mati dan tidak mau dikubur.

Aroma amoniak menusuk hidungku sebelum aku sempat melihat sumbernya. Bau yang begitu kuat sampai mataku perih, sampai tenggorokanku tercekat, sampai aku hampir muntah di tempat. Bau itu seperti sesuatu yang hidup, yang merayap ke dalam paru-paruku, yang menempel di kulitku, yang tidak mau pergi. Aku sudah mencium berbagai bau di pelabuhan ini bau ikan, bau amonia, bau keputusasaan tapi ini berbeda. Ini lebih tua, lebih dalam, lebih mati.

Dan kemudian aku melihatnya.

Di depan gudang pabean, di sepanjang dermaga, tumpukan ikan membusuk menggunung. Tidak ada yang menghitungnya, tapi aku sudah bisa memperkirakan ini bukan beberapa ekor. Ini puluhan ton. Ikan-ikan yang sudah membiru, sudah mengeluarkan lendir, sudah dimakan lalat dari ujung kepala hingga ekor. Bau amoniaknya menyebar sejauh seratus langkah, menempel di pakaian, di kulit, di rambut. Bahkan dari jarak ini, aku bisa melihat lalat-lalat beterbangan dalam awan hitam yang bergerak-gerak.

Aku menutup hidungku. Tapi baunya tetap masuk. Baunya merayap ke dalam paru-paruku seperti sesuatu yang tidak bisa diusir dengan mudah.

Dan di tengah tumpukan busuk itu, berdiri seorang lelaki.

Dia tinggi. Tegap. Seragam hitamnya bersih terlalu bersih untuk lingkungan sekumuh ini dengan aksen emas di kerah dan manset. Di tangannya, selembar kertas yang tidak pernah ia baca. Di belakangnya, dua orang bawahan dengan wajah yang sudah kehilangan kemampuan untuk terlihat tidak nyaman. Mereka berusaha menahan napas, tapi aroma itu tetap masuk, dan ekspresi mereka adalah campuran antara kewajiban dan penderitaan.

Aku mengenalinya. Aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung, tapi aku sudah mendengar namanya berkali-kali dalam tiga hari terakhir.

Osvor Naveth.

Penguasa pelabuhan. Mandor besar. Dan seperti yang aku pelajari dari Broto dan tetangga-tetangga lain pemilik Kartel Air dan Pangan Lineth Naveth.

Ia tidak melihatku. Matanya tertuju pada tumpukan ikan busuk di depannya, dengan ekspresi yang tidak bisa kutebak campuran antara jijik dan ketidakpedulian, antara kesadaran akan bau dan kebiasaan untuk mengabaikannya. Ia menatap tumpukan itu seperti menatap masalah administratif yang harus diselesaikan, bukan seperti manusia yang melihat makanan membusuk. Baginya, ini bukan bau kematian. Ini hanya "masalah logistik."

"Morekey," katanya, tanpa menoleh. Suaranya dalam, datar, seperti seseorang yang sudah terlalu sering mengucapkan nama orang lain sampai kehilangan semua maknanya. "Aku mendengar tentangmu. Budak yang membuat air bersih tanpa izin."

Aku tidak menjawab. Aku hanya berdiri di tempatku, menatap punggungnya yang tegap, menunggu.

Osvor Naveth berbalik. Matanya abu-abu, dingin, tanpa ekspresi menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, menilai, mengukur, menimbang. Seperti seorang pedagang yang melihat barang dagangan, bukan manusia. Tapi di balik semua itu, untuk sepersekian detik, aku melihat sesuatu yang lain. Kelelahan. Kelelahan yang sama yang kulihat di cermin setiap pagi.

"Kau tahu apa ini?" Ia menunjuk ke tumpukan ikan busuk dengan dagunya.

"Sepuluh ton ikan busuk," jawabku. "Mungkin lebih."

"Tepat." Ia mengangguk, sedikit terkejut bahwa aku bisa memperkirakan dengan akurat. "Ini pesanan dari ibu kota. Pakan ternak untuk peternakan Osvor Naveth di Verad Zovlin Volka."

Ia berjalan mendekat. Aku tidak mundur. Aku tidak bergerak sama sekali.

"Tapi ada masalah," lanjutnya. "Kapal pengangkut ini terlambat tiga hari karena badai di Selat Utara. Ikan ini sudah membusuk sebelum sampai ke pelabuhan. Sekarang, tidak ada yang mau mengangkutnya. Tidak ada yang mau menyentuhnya."

Ia berhenti tepat di depanku. Aku bisa melihat garis-garis halus di wajahnya, uban di pelipisnya, kelelahan yang tersembunyi di balik seragam hitamnya. Bukan kelelahan fisik tapi kelelahan yang lebih dalam, kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama menjadi bagian dari mesin yang tidak pernah berhenti. Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama melakukan hal yang sama, tanpa pernah bertanya mengapa.

"Kau akan mengangkutnya," katanya. Bukan permintaan. Perintah.

"Ke mana?"

"Ke gudang pengolahan. Di ujung dermaga. Ada insinerator di sana kita akan membakarnya. Tapi pertama, kau harus memindahkannya dari sini. Semuanya."

Aku menatap tumpukan ikan busuk itu. Aku menatap Osvor Naveth. Aku menatap kedua bawahannya yang diam-diam menahan napas, berusaha tidak terlihat terganggu oleh bau yang bahkan mereka sendiri tidak tahan. Aku melihat lalat-lalat, tumpukan yang menggunung, dan bau yang akan tetap tinggal bahkan setelah semua ikan ini hilang.

Dan aku tersenyum.

Bukan senyum getir. Bukan senyum pahit. Ini senyum yang lebih halus, lebih sulit dibaca senyum seseorang yang baru saja melihat peluang di balik bau busuk. Senyum seseorang yang tahu bahwa di dunia ini, sampah seseorang adalah harta bagi orang lain.

Lihat selengkapnya