Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1

Tourtaleslights
Chapter #9

IKAN ASIN

Fajar belum sepenuhnya terbit ketika aku kembali ke gudang pabean.

Tapi aku bukan yang pertama datang. Pak Giman sudah ada di sana, duduk di atas peti kayu yang terbalik, mengasah pisaunya dengan batu asah yang usang. Di belakangnya, beberapa nelayan lain mulai berdatangan satu per satu. Mereka tidak bicara. Mereka hanya duduk, menunggu, seperti pasukan yang sudah tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu perintah.

"Pagi," sapa Pak Giman, tanpa menatapku. Matanya tertuju pada pisau yang terus digesekkan ke batu srek... srek... srek... gerakan yang sudah puluhan tahun ia lakukan, sampai tangannya bergerak tanpa perlu berpikir.

"Pagi," jawabku.

"Siap mulai?"

Aku menatap tumpukan ikan yang kemarin sudah terpilah rapi. Enam ton ikan. Ribuan ekor. Masih basah, masih berlendir, masih berbau tapi baunya sudah berbeda dari kemarin. Bau amonia mulai berkurang, digantikan oleh aroma yang lebih netral. Bau daging segar yang mulai mengering. Bau kehidupan yang mulai menggantikan kematian.

"Mulai," kataku.

Aku mengambil ikan pertama. Tangan yang kemarin masih sakit karena terlalu lama terendam lendir, kini mulai terbiasa. Aku membelahnya dengan pisau krik membuang isi perut yang masih tersisa, membuang sisik-sisik yang menempel. Lalu aku membawanya ke tumpukan garam yang sudah kupesan dari pedagang keliling semalam. Garam kasar, butirannya putih, tajam di ujung jari. Garam yang akan mengubah daging busuk menjadi makanan yang bisa bertahan berbulan-bulan.

Aku menggenggam segenggam garam. Aku meratakannya ke daging ikan yang masih merah muda, menggosokkannya perlahan ke setiap celah, ke setiap serat, ke setiap bagian yang bisa dijangkau. Aroma garam mulai bercampur dengan aroma ikan segar, menciptakan bau yang aneh tapi menjanjikan. Bau sesuatu yang sedang berubah.

"Begini caranya," kataku, lebih pada Pak Giman dan para nelayan yang mulai mendekat. "Garam harus meresap ke seluruh bagian. Kalau tidak, ikan akan tetap bau."

Pak Giman mengambil seekor ikan, menirukan gerakanku. Tangannya yang kasar dan kapalan ternyata bisa bergerak dengan lembut saat menyentuh daging ikan. Ia menggosok garam dengan gerakan yang sabar, penuh perhitungan, seperti orang yang sudah lama tidak melakukan sesuatu dengan hati-hati dan mulai mengingat kembali caranya.

"Seperti membelai istri," gumamnya, tanpa ekspresi. Para nelayan di belakangnya terkekeh. Aku hampir tersenyum.

Tapi aku tidak berhenti di garam saja.

Aku berjalan ke sudut gudang, di mana kemarin aku menyimpan beberapa rumpun rempah yang kukumpulkan dari belakang gubuk Sari dan kebun Mbok Ratih. Kunyit kering yang kujemur di bawah seng. Jahe yang sudah kupotong tipis dan kujemur. Lada hitam yang kutemukan di pasar keliling satu-satunya rempah yang tidak dikuasai Kartel karena terlalu kecil untuk dimonopoli. Rempah-rempah yang tumbuh liar, yang tidak membutuhkan izin, yang tidak pernah meminta bayaran.

Pak Giman menatapku dengan alis terangkat saat aku mulai menggiling kunyit dengan batu pipih. Grss... grss... grss... bubuk kuning halus mulai menumpuk di atas batu. Aroma kunyit yang tajam dan hangat menyebar di udara, memotong bau amonia yang tersisa.

"Apa itu?" tanyanya.

"Kunyit," jawabku. "Dan ini jahe kering. Dan ini lada hitam."

"Untuk apa?"

Aku mencampur bubuk kunyit dengan jahe kering yang sudah kutumbuk kasar, dan sedikit lada hitam yang kugiling halus. Aromanya tajam, hangat, sedikit pedas mulai memenuhi gudang. Para nelayan mengendus, dan untuk pertama kalinya, ekspresi mereka berubah. Bukan lagi ekspresi kelelahan atau keputusasaan. Ini ekspresi rasa ingin tahu. Ekspresi orang yang mulai percaya bahwa sesuatu yang baik bisa terjadi.

"Garam mengawetkan," kataku, mengangkat campuran rempah itu. "Tapi rempah memberi jiwa."

Aku menaburkan campuran rempah itu ke atas ikan yang sudah digosok garam. Warna kuning mulai mewarnai daging merah muda, memberi warna yang lebih hidup, lebih hangat. Aroma garam dan rempah bercampur, menciptakan sesuatu yang baru sesuatu yang tidak bisa dipalsukan oleh pabrik pengalengan mana pun. Sesuatu yang nyata.

"Ini," kataku, "adalah ikan asin Pancakarya. Bukan ikan asin biasa. Ikan yang dijemur di bawah sinar matahari Pelabuhan Sunyi, digosok dengan garam dan rempah, diberi waktu dan kesabaran."

Pak Giman mengambil ikan yang sudah kugosok rempah, menciumnya. Matanya sedikit melebar. "Ini... ini baunya tidak seperti ikan asin biasa."

"Karena ikan asin biasa hanya garam," kataku. "Ini adalah rasa."

Kami bekerja sepanjang pagi. Enam ton ikan. Ribuan ekor. Semuanya harus dibersihkan, digosok garam, ditaburi rempah, dan dijemur di bawah matahari. Matahari yang sama yang membakar kulit kami, sekarang menjadi sekutu kami, mengeringkan ikan, mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa bertahan.

Pak Giman memimpin para nelayan dengan efisiensi yang mengejutkan. Mereka sudah terbiasa bekerja dengan ikan, meski tidak pernah dengan cara seperti ini. Tapi tangan mereka tahu apa yang harus dilakukan membelah, membersihkan, menggosok, menata. Aroma kunyit dan jahe mulai menggantikan bau amonia sepenuhnya, dan gudang pabean yang tadinya berbau kematian kini berbau kehidupan.

Menjelang siang, Sari datang membawa air minum untuk semua orang. Denu mengikutinya, anak kecil itu sudah cukup sehat untuk berjalan sendiri, meski masih bersandar di kaki ibunya sesekali. Ia menatap tumpukan ikan yang mulai mengering dengan mata terbelalak.

"Kak Morekey, apa itu?" tanyanya, menunjuk ke bubuk kuning yang masih menempel di tanganku.

Lihat selengkapnya