Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1

Tourtaleslights
Chapter #10

PAPAN PENGUMUMAN

Aku tidak tidur malam itu.

Bukan karena aku tidak lelah tubuh ini sudah bekerja lebih keras dalam tiga hari terakhir daripada yang pernah dilakukannya dalam tujuh belas tahun hidup. Bukan karena aku tidak bisa tidur lantai gudang yang keras sudah menjadi teman akrabku. Aku tidak bisa tidur karena aku sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bertahan hidup.

Di atas lantai kayu yang berdebu, di antara tumpukan ikan asin yang mulai mengering sempurna, aku berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit gudang yang tinggi dan berkarat. Di luar, laut masih memukul dermaga dengan ketukan yang sama. Tapi malam ini, ketukan itu tidak lagi terdengar seperti ancaman. Ia terdengar seperti detak jantung sesuatu yang sedang lahir.

Besok, aku akan memasang papan pengumuman. Besok, semuanya akan berubah. Besok, aku akan mengumumkan perang dengan cara yang paling damai yang bisa kulakukan.

Fajar belum sepenuhnya terbit ketika aku bangun.

Aku berjalan ke luar gudang, membawa sepotong kayu yang kutemukan di tumpukan sampah kayu bekas peti, sudah lapuk dimakan cuaca, retak di sana-sini, tapi masih cukup kuat untuk menahan tulisan. Kayu yang sudah dibuang, yang tidak dianggap berharga oleh siapa pun sama seperti aku dulu. Aku meletakkannya di atas meja kayu di depan gudang, menatapnya seperti seorang pelukis menatap kanvas kosong.

Tapi aku bukan pelukis.

Aku mengambil arang dari sisa unggun semalam arang yang masih hangat, masih berasap tipis di ujungnya. Arang yang terbuat dari kayu yang sama yang dulu dibakar untuk menghangatkan malam yang dingin. Aku mulai menulis. Hurufku tidak rapi. Tanganku masih gemetar karena kelelahan, masih sakit karena luka-luka kecil di antara jari-jariku. Tapi aku tidak berhenti. Aku tidak bisa berhenti.

 ═════════════════

"IKAN ASIN PANCAKARYA"

"Kualitas Premium"

"Harga: 40% lebih murah dari daging kaleng Kartel"

"Tersedia di Terminal Pelabuhan  Mulai Hari Ini"

 ═════════════════

Aku menatap tulisan itu lama sekali. Kata-kata yang sederhana. Tapi di balik kata-kata itu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar ikan asin. Ada pernyataan. Ada tantangan. Ada janji bahwa dunia ini bisa berbeda.

Ini adalah transparansi pertama. Ini adalah papan pengumuman pertama yang tidak ditulis oleh Kartel. Ini adalah awal dari sesuatu yang belum pernah terjadi di Pelabuhan Sunyi. Aku mengangkat papan itu. Berat. Tapi entah mengapa, terasa ringan di tanganku.

"Kau benar-benar akan memasang itu?"

Aku menoleh. Mas Guntur berdiri di ambang pintu gudang seorang lelaki muda dengan rambut gondrong yang diikat longgar di belakang kepala, kain sarung melilit di pinggangnya, dan di tangannya, sebilah pisau ukir kecil yang sudah usang. Matanya tajam, mengamati papan kayu di tanganku dengan rasa ingin tahu yang mendalam. Ada sesuatu di matanya api yang sama yang kulihat di cermin setiap pagi.

"Kau siapa?" tanyaku.

"Mas Guntur," katanya. "Aku dengar kau butuh orang yang bisa mengukir." Ia menunjuk ke papan kayu di tanganku. "Tulisan itu bagus. Tapi tidak semua orang di sini bisa baca."

Aku menatap papan kayu itu. Kata-katanya rapi, tapi ia benar tidak semua orang di Pelabuhan Sunyi bisa membaca. Beberapa dari mereka hanya mengenali bentuk, gambar, simbol yang sudah lama tertanam di ingatan mereka. Dan gambar, tidak seperti kata-kata, tidak bisa distempel.

"Kau bisa membuat gambar?" tanyaku.

Mas Guntur tersenyum senyum yang aneh, bukan senyum sombong, tapi senyum seseorang yang sudah lama tidak punya kesempatan untuk menunjukkan keahliannya. "Aku bisa membuat apa pun yang kau mau."

Ia mendekat, mengambil papan kayu itu dari tanganku, dan meletakkannya di atas meja. Dengan pisau ukirnya yang kecil, ia mulai bekerja. Serpihan-serpihan kayu beterbangan. Tangannya bergerak cepat, seperti penari, seperti seseorang yang sudah melakukannya ribuan kali sampai gerakannya menjadi bagian dari tubuhnya.

"Kakekku dulu dalang," katanya, tangannya masih bergerak di atas kayu. "Ia mengajariku bahwa gambar bisa bercerita lebih dari kata-kata. Tapi ia juga bilang, di zaman dulu, dalang dilarang pentas kalau tidak punya izin dari istana. Sekarang, aku mengukir tanpa izin. Mungkin aku dalang ilegal." Ia tertawa kecil. "Tapi setidaknya, ukiranku masih hidup."

Aku menatap pisaunya yang berkilau di bawah cahaya matahari. "Dan bahasa itu masih hidup?"

Mas Guntur tersenyum senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. "Masih hidup. Karena selama ada tangan yang mengukir, selama ada cerita yang diingat, selama ada orang yang melihat dan berkata, 'Ini indah' bahasa itu tidak pernah mati."

Dalam waktu kurang dari satu jam, papan kayu itu berubah.

Di atas tulisan yang sudah kutulis, Mas Guntur mengukir sebuah gambar. Seekor ikan besar, gemuk, dengan sisik-sisik yang terukir detail berada di atas api yang menyala. Di sekelilingnya, daun-daun pisang melingkar, seperti bingkai yang melindungi gambar utama. Di bagian bawah, ada simbol kecil yang tidak kukenali seperti mata yang tidak berkedip, atau mungkin matahari yang sedang terbit.

"Apa itu?" tanyaku, menunjuk ke simbol di bawah.

Mas Guntur tersenyum. "Itu adalah simbol untuk 'harapan' dalam bahasa yang lebih tua dari kata-kata." Ia menatapku. "Aku belajar dari kakekku. Dulu, sebelum semuanya dihapus, orang-orang menggunakan gambar untuk bercerita. Gambar tidak bisa distempel. Gambar tidak bisa dihapus oleh dekrit."

Aku menatap ukiran itu lama sekali. Ada sesuatu di dalamnya sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ikan dan api. Ada kehidupan di sana. Ada cerita yang tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Ada harapan yang diukir di kayu, yang akan bertahan bahkan setelah kayu itu lapuk dimakan waktu.

"Ini," kataku akhirnya, "adalah papan pengumuman pertama Pelabuhan Sunyi."

Aku berjalan menuju terminal pelabuhan saat matahari sudah sepenuhnya terbit.

Di sepanjang jalan, orang-orang mulai memperhatikan. Wajah-wajah yang biasanya menunduk, sekarang mendongak sedikit. Mata-mata yang biasanya kosong, sekarang mulai berbinar. Mereka melihat papan kayu di tanganku. Mereka membaca tulisan di atasnya. Mereka melihat gambar ikan dan api dan daun pisang yang terukir di sana. Dan mereka mulai berbisik.

 

"Ikan asin... 40% lebih murah..."

Lihat selengkapnya