Tiga hari setelah papan pengumuman pertama, Pelabuhan Sunyi berubah.
Bukan perubahan besar yang terlihat dari kejauhan tidak ada gedung baru, tidak ada jalan baru, tidak ada bendera yang berkibar. Tapi ada sesuatu di udara. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Sesuatu yang mengubah cara orang berjalan, cara mereka berbicara, cara mereka menatap satu sama lain.
Harapan.
Orang-orang mulai tersenyum. Mereka mulai menyapa satu sama lain. Mereka mulai berbicara tentang masa depan bukan tentang hari esok yang sudah bisa mereka tebak isinya, tapi tentang sesuatu yang lebih jauh, lebih cerah, lebih hidup. Tentang kemungkinan bahwa sesuatu yang baik bisa terjadi.
Dan di tengah semua itu, ada aku.
Morekey. Budak yang memilih untuk tidak menyerah. Budak yang memasang papan pengumuman di terminal pelabuhan. Budak yang menjual ikan asin dengan harga 40% lebih murah dari Kartel Naveth.
Tapi aku tahu ini baru awal. Osvor Naveth tidak akan diam. Dan ketika ia kembali, ia akan membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar ancaman. Aku harus bersiap.
Malam itu, setelah semua pembeli pulang dan terminal pelabuhan mulai sepi, aku duduk sendirian di gudang pabean. Di depanku, tumpukan ikan asin yang tersisa masih banyak, tapi sudah jauh berkurang dari hari pertama. Di tanganku, sebuah benda kecil yang kusimpan di saku bajuku sejak hari pertama benda yang tidak pernah kugunakan, tapi selalu kuketahui keberadaannya.
Oskarnex.
Kartu Monopoli. Item langka yang hanya bisa diperoleh dengan menyelesaikan KLV tertentu. Aku mendapatkannya setelah KLV #1010 kematian seorang budak perempuan yang tidak pernah tercatat di sistem. Aku menyimpannya, tidak tahu kapan aku akan menggunakannya.
Tapi sekarang, aku tahu.
Aku menatap kartu itu. Kecil. Putih. Dengan tulisan biru pucat yang berkedip pelan di sudut penglihatanku.
─────────────────
OSKARNEX GARAM
Status: Tidak Aktif
Deskripsi: Mengunci seluruh perdagangan garam di Pelabuhan Sunyi selama 30 hari. Hanya pemegang kartu yang bisa mengakses distribusi garam.
Durasi: 30 Hari
Dampak: Monopoli total atas garam di wilayah target.
─────────────────
Aku menatap kata-kata itu lama sekali. 30 hari. Monopoli total. Ini bukan sekadar kartu. Ini adalah senjata. Senjata yang bisa menghancurkan Kartel Naveth atau menghancurkanku jika aku tidak berhati-hati.
Karena jika aku menggunakannya, aku akan mengumumkan perang. Dan dalam perang, tidak ada yang bisa mundur.
Aku ingat bagaimana aku mendapatkan kartu ini. Itu terjadi di hari-hari pertama setelah aku mendapat Tassex. Sebelum aku mengenal Sari, sebelum aku mengenal Denu, sebelum aku tahu bahwa air ilegal bisa menyelamatkan nyawa. Aku sedang berjalan melewati gudang-gudang kosong di belakang pelabuhan, mencari sesuatu apa pun yang bisa kugunakan untuk bertahan hidup.
Di antara tumpukan sampah, aku menemukan sebuah map cokelat tua. Di dalamnya, catatan-catatan tentang seorang budak perempuan yang mati karena tidak punya akses ke air bersih sama seperti Denu, tapi tidak ada yang datang menyelamatkannya. Namanya sudah dihapus dari semua sistem. Tidak ada Tassex. Tidak ada catatan. Tidak ada bukti bahwa ia pernah ada.
Kecuali satu hal. Sebuah KLV. KLV #1010. "Kematian yang Tak Pernah Dicatat."
Aku menyelesaikannya bukan dengan prosedur, bukan dengan tanda tangan, tapi dengan mengakui bahwa ia pernah ada, dengan menulis namanya di buku catatan Nawapes, dengan membuat catatan bahwa ia tidak boleh dilupakan.
Dan sebagai hadiahnya, sistem memberiku ini. Oskarnex Garam.
Seolah-olah sistem itu sendiri di balik semua prosedur dan stempel dan absurditasnya tahu bahwa suatu hari aku akan membutuhkannya.
Aku membuka mata. Aku menatap kartu itu sekali lagi. Dan aku mengaktifkannya.
─────────────────
SYSTEM NOTICE OSKARNEX GARAM DIAKTIFKAN!
Durasi: 30 Hari
Wilayah: Pelabuhan Sunyi
Efek: Seluruh perdagangan garam di Pelabuhan Sunyi hanya bisa diakses melalui Morekey.
Catatan: Kartel Naveth tidak dapat membeli, menjual, atau mendistribusikan garam selama periode ini.
─────────────────
Aku menatap log itu. Kata-kata sederhana. Tapi di balik kata-kata itu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar garam. Ini adalah serangan pertama. Ini adalah langkah pertama menuju kemenangan. Dan besok, semuanya akan berubah.
Pagi harinya, aku berjalan ke pasar.
Pasar Pelabuhan Sunyi adalah tempat di mana semua orang datang untuk membeli makanan, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari. Tapi lebih dari itu, pasar adalah tempat di mana Kartel Naveth menunjukkan kekuasaannya. Di setiap sudut, ada kios-kios yang menjual daging kaleng, beras, dan garam semuanya dengan harga yang ditentukan oleh Kartel, semuanya dengan kupon yang hanya bisa dibeli dengan upah yang tidak pernah cukup.