Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1

Tourtaleslights
Chapter #12

AKUNTAN NARAPIDANA

Aku menatap lelaki kurus itu lama sekali.

Ia berdiri di ambang pintu gudang pabean, map cokelat di tangannya, tubuhnya yang ringkih seperti akan roboh oleh tiupan angin. Pakaiannya compang-camping lebih buruk dari pakaianku. Matanya cekung, dengan lingkaran hitam di bawahnya yang menceritakan kisah tentang malam-malam tanpa tidur, tentang hari-hari tanpa makanan, tentang kehidupan yang perlahan-lahan hancur. Tapi di matanya, ada sesuatu yang lain. Ada api kecil yang tidak mau padam.

"Aku tidak punya nama lagi," katanya, suaranya serak seperti suara orang yang sudah lama tidak bicara pada siapa pun. "Tapi dulu, aku adalah akuntan Kartel Naveth."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, menunggu.

"Aku tahu semua yang mereka lakukan," lanjutnya. "Semua transaksi. Semua pengeluaran. Semua pemasukan. Semua... korupsi."

Kata terakhir itu keluar dari mulutnya seperti sesuatu yang pahit, sesuatu yang sudah lama ia pendam dan tidak pernah ia ucapkan dengan keras. Aku bisa melihat tangannya gemetar bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Kemarahan. Atau mungkin kesedihan. Atau mungkin keduanya, bercampur menjadi satu.

"Namaku Kertos," katanya, akhirnya memberikan identitas yang sudah lama tidak ia pakai. "Aku bekerja untuk mereka selama lima tahun. Aku mencatat semuanya. Lalu suatu hari, aku bertanya. Aku bertanya pada atasanku: 'Mengapa air harus dijual dengan harga setinggi itu?' Dan keesokan harinya, aku dipecat."

Ia tertawa tawa yang pahit, tawa yang aku kenal dengan baik.

 

FLOKFLOK.

 

"Mereka tidak membunuhku," katanya. "Mereka hanya menghapusku. Tidak ada Tassex. Tidak ada identitas. Aku adalah Silombra. Dan sebagai Silombra, aku tidak bisa bekerja. Tidak bisa membeli makanan. Tidak bisa..." ia menatap tangannya yang kosong, "...hidup."

Aku menatapnya lama. Di wajahnya, aku melihat bekas-bekas perjalanan panjang perjalanan dari seorang akuntan yang percaya pada sistem, menjadi seorang pengungsi yang tahu bahwa sistem itu busuk. Tapi di matanya, aku juga melihat sesuatu yang lain. Keinginan. Keinginan untuk membalas. Keinginan untuk memperbaiki. Keinginan untuk tidak mati sebelum melihat keadilan.

"Kau membawa map itu," kataku, menunjuk ke map cokelat di tangannya. "Apa isinya?"

Kertos membuka map itu dengan tangan yang gemetar. Di dalamnya, ada tumpukan kertas beberapa sudah kuning, beberapa masih putih, semuanya penuh dengan angka-angka dan catatan-catatan. Tinta di beberapa halaman sudah memudar, tapi di halaman lain, tulisannya masih tajam, masih jelas, seperti baru ditulis kemarin.

"Ini adalah salinan laporan keuangan Kartel Naveth selama 5 tahun terakhir," katanya. "Aku menyimpannya sebelum mereka memecatku. Aku tidak tahu mengapa aku menyimpannya. Mungkin karena aku pikir suatu hari, seseorang akan membutuhkannya."

Lihat selengkapnya