Malam itu, Kertos dan aku mulai bekerja.
Di atas lantai gudang pabean yang berdebu, di bawah cahaya lentera minyak yang berkedip-kedip, kami membuka map cokelat tua itu dan mulai menyusun angka-angka. Kertos duduk di satu sisi, aku di sisi lain, dengan tumpukan kertas di antara kami. Di luar, angin laut mulai bertiup kencang, membawa aroma garam dan ikan asin yang sudah menjadi teman akrab kami.
"Kita mulai dari mana?" tanyaku.
"Kita mulai dari awal," jawab Kertos. "Dari hari pertama aku bekerja di Kartel."
Ia mengambil selembar kertas yang sudah menguning, dengan tulisan tangan yang rapi dan angka-angka yang teratur. "Ini laporan keuangan tahun pertama. Pendapatan Kartel dari penjualan air: 500.000 Tassun."
Aku menatap angka itu. 500.000 Tassun. Dalam satu tahun. Dari air yang seharusnya mengalir gratis.
"Dan ini," lanjut Kertos, mengambil kertas lain yang lebih baru, lebih putih, "adalah laporan keuangan tahun kelima. Pendapatan dari penjualan air: 2,5 Miliar Tassun."
Aku menatap angka itu. 2,5 Miliar. Lima kali lipat dalam lima tahun. Dan di balik angka itu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar uang.
"Bagaimana mereka bisa menaikkan harga secepat itu?" tanyaku.
Kertos tersenyum pahit. "Mereka tidak menaikkan harga. Mereka menaikkan prosedur."
Aku mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Ia mengambil kertas lain, menunjuk ke baris-baris angka dengan jarinya yang gemetar. "Setiap tahun, mereka menambahkan prosedur baru. Persyaratan baru. Dokumen baru. Setiap prosedur baru berarti waktu tunggu lebih lama. Setiap waktu tunggu lebih lama berarti lebih banyak orang yang tidak bisa menunggu. Dan setiap orang yang tidak bisa menunggu mereka membayar lebih."
Ia menggeser kertas ke arahku. "Lihat ini. Pada tahun pertama, untuk mendapatkan air, kau hanya perlu Tassex. Pada tahun kedua, kau perlu Tassex dan Arnex Kethor. Pada tahun ketiga, kau perlu Tassex, Arnex Kethor, dan surat keterangan dari mandor. Pada tahun keempat..."
"Aku mengerti," kataku. "Mereka membuat prosedur semakin rumit, sehingga orang-orang tidak punya pilihan selain membayar lebih."
Kertos mengangguk. "Tepat. Dan setiap prosedur baru, mereka menaikkan harga. Karena semakin rumit prosedurnya, semakin mahal biaya untuk memprosesnya. Dan biaya itu, tentu saja, dibebankan kepada rakyat."
Aku diam. Aku memikirkan semua orang yang telah kulihat di kantor registrasi. Semua orang yang menghabiskan berjam-jam, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun untuk mengurus dokumen. Semua orang yang membayar dengan uang, dengan waktu, dengan hidup mereka. Aku memikirkan ibu-ibu yang tidak bisa membeli air untuk anak-anak mereka. Aku memikirkan Pak Giman dan para nelayan yang kehilangan pekerjaan karena Kartel. Aku memikirkan Sari, yang suaminya meninggal di kapal tua yang seharusnya sudah diganti.
Dan sekarang, aku memiliki bukti bahwa semua itu adalah bagian dari rencana.
"Ada lebih banyak," kata Kertos, suaranya semakin berat. "Aku juga mencatat suap. Izin-izin yang dijual. Prosedur-prosedur yang dibuat untuk mempersulit rakyat. Dan..." ia berhenti, menelan sesuatu yang pahit, "orang-orang yang mati."
Ia mengambil tumpukan kertas lain lebih kecil, tapi lebih berat dari yang lain. "Ini catatan kematian. Aku mencatat semuanya. Setiap nama. Setiap tanggal. Setiap kematian yang seharusnya tidak terjadi."
Aku mengambilnya. Aku membukanya. Dan aku mulai membaca.
═════════════════
Nama: Aminah binti Suroto.
Usia: 4 tahun.
Penyebab: Diare karena air kotor.
Tanggal: Restorith 94.
─────────────────
Nama: Slamet bin Paimin.
Usia: 2 tahun.
Penyebab: Demam karena dehidrasi.
Tanggal: Restorith 95.
─────────────────
Nama: Karsih binti Suroso.