Malam itu, saat aku sedang duduk sendirian di dermaga, seseorang datang.
Aku mendengar langkahnya sebelum aku melihatnya langkah yang ringan, terukur, seperti seseorang yang terbiasa bergerak tanpa suara, yang sudah belajar bahwa di dunia ini, suara adalah kemewahan yang tidak semua orang bisa miliki. Aku menoleh, dan di bawah cahaya lentera minyak yang berkedip-kedip, aku melihat seorang perempuan muda berdiri di ujung dermaga.
Ia tidak mengenakan pakaian compang-camping seperti kebanyakan orang di Pelabuhan Sunyi. Pakaiannya sederhana, tapi rapi kemeja cokelat lusuh yang masih terlihat bersih, celana panjang yang sudah pudar warnanya, dan sepatu bot yang sudah usang tapi masih kokoh, sepatu yang sudah melalui banyak perjalanan. Di tangannya, sebuah map merah tua yang sudah usang, dengan sudut-sudut yang sudah terlipat karena sering dibuka dan ditutup, seperti buku yang sudah dibaca berkali-kali.
Rambutnya pendek, hitam, dipotong tidak rata seperti dilakukan dengan pisau yang tidak tajam, atau seperti ia tidak peduli dengan penampilan. Matanya cokelat, tajam, dan sangat waspada menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, menilai, mengukur, menimbang. Matanya seperti mata seseorang yang sudah melihat terlalu banyak, yang sudah kecewa terlalu sering, yang sudah belajar bahwa kepercayaan adalah kemewahan yang mahal.
Aku tidak mengenalnya. Tapi ada sesuatu di caranya berdiri, di caranya menatap, di caranya memegang map merah itu sesuatu yang mengatakan bahwa ia bukan orang biasa. Bahwa ia telah melalui sesuatu. Bahwa ia telah kehilangan sesuatu. Bahwa ia tidak lagi percaya pada apa pun kecuali pada apa yang bisa dibuktikan.
"Morekey?" tanyanya. Suaranya datar, pragmatis, tanpa basa-basi. Suara yang sudah terbiasa memotong pembicaraan yang tidak perlu.
"Aku Morekey," jawabku. "Siapa kau?"
Ia tidak menjawab segera. Ia berjalan mendekat, langkahnya tetap ringan dan terukur, sampai ia berjarak beberapa langkah dariku. Lalu ia berhenti, menatapku dengan mata yang tidak berkedip, seperti sedang membaca sesuatu di wajahku sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
"Aku mendengar tentangmu," katanya. "Kau mengunci garam. Kau menjual ikan asin. Kau memasang papan pengumuman." Ia berhenti sejenak. "Kau berani."
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan," kataku. "Aku masih tidak tahu siapa kau."
Ia tersenyum bukan senyum ramah, tapi senyum yang lebih tajam, lebih sinis, seperti seseorang yang sudah lama tidak percaya pada kebaikan siapa pun. Senyum yang mengatakan bahwa ia sudah melihat terlalu banyak janji yang diingkari untuk mempercayai kata-kata.
"Namaku Mavra," katanya. "Aku punya akses ke peta-peta gelap. Rute bajak laut. Jalur penyelundupan. Semua yang tidak ada di peta resmi."
Aku menatapnya. "Kenapa kau memberitahuku ini?"
"Karena aku tahu kau menipu Osvor Naveth dengan ikan busuk." Ia tersenyum lagi senyum yang sama, tajam dan sinis. "Aku suka caramu."
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, menunggu.
"Aku hanya akan membantumu dengan satu syarat," lanjutnya. "Data jujur. Jangan pernah memberiku janji palsu. Aku muak dengan janji."
Aku terdiam. Ada sesuatu di caranya bicara kejujuran yang aneh, kejujuran seorang yang sudah lama berhenti berpura-pura bahwa dunia ini baik. Kejujuran seseorang yang telah kecewa terlalu banyak kali, yang telah melihat sistem menghancurkan orang-orang yang dicintainya, yang telah belajar bahwa satu-satunya hal yang bisa dipercaya adalah angka.
"Bagaimana aku tahu kau bisa dipercaya?" tanyaku akhirnya.
Mavra menatapku. Lalu ia mengangkat map merah di tangannya dan melemparkannya ke arahku. Aku menangkapnya dengan canggung, membukanya, dan melihat apa yang ada di dalamnya.
Peta. Bukan peta biasa peta yang lebih tua, lebih usang, dengan garis-garis yang tidak ada di peta resmi. Rute-rute yang tidak pernah dicatat. Pelabuhan-pelabuhan yang tidak pernah terdaftar. Jalur-jalur yang hanya diketahui oleh mereka yang hidup di luar sistem, yang telah belajar bahwa kadang-kadang, satu-satunya jalan keluar adalah dengan tidak mengikuti aturan.
"Aku tidak percaya pada sistem," kata Mavra. "Aku tidak percaya pada Kartel. Aku tidak percaya pada siapa pun." Ia menatapku. "Tapi aku percaya pada data. Dan data menunjukkan bahwa kau berbeda."
Aku menatap peta di tanganku. Aku menatap Mavra. Aku menatap matanya yang tajam dan sinis dan di balik semua itu, aku melihat sesuatu yang lain. Luka. Luka yang sama seperti yang kulihat di mata Kertos, di mata Sari, di mata Pak Giman. Luka yang datang dari hidup di dunia yang terus-menerus mengatakan bahwa kau tidak berharga.
Dan aku mengambil keputusan.
"Baik," kataku. "Data jujur. Tidak ada janji palsu."
Mavra tersenyum senyum yang berbeda dari sebelumnya. Masih sinis, masih waspada, tapi ada sesuatu di dalamnya yang lebih hangat, lebih manusia. Seperti orang yang sudah lama tidak berharap pada siapa pun, tapi mulai berpikir bahwa mungkin, kali ini, berbeda.
"Kalau begitu," katanya, "kita mulai besok pagi."
Aku mengangguk. "Besok pagi."
Ia berbalik untuk pergi, tapi aku memanggilnya.