Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1

Tourtaleslights
Chapter #15

PERJANJIAN

Malam itu, setelah Mavra pergi, aku tidak bisa tidur.

Bukan karena tubuhku tidak lelah tubuh ini sudah bekerja lebih keras dalam minggu terakhir daripada yang pernah dilakukannya dalam tujuh belas tahun hidup. Bukan karena aku tidak bisa tidur lantai gudang yang keras sudah menjadi teman akrabku. Aku tidak bisa tidur karena pikiranku terlalu penuh.

Di atas tikar anyaman yang sama, di kamar yang sama dengan langit-langit berlumut dan bau amonia yang sama, aku berbaring dengan mata terbuka, menatap kegelapan. Di tanganku, map merah yang diberikan Mavra. Di dalamnya, peta-peta gelap yang tidak ada di peta resmi. Rute-rute yang menghubungkan Pelabuhan Sunyi dengan dunia yang lebih luas. Jalur-jalur yang hanya diketahui oleh mereka yang hidup di luar sistem.

Aku membuka map itu lagi, meski sudah berkali-kali kubaca. Di bawah cahaya remang-remang dari celah jendela, aku melihat garis-garis yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sebuah pulau kecil di tengah laut tidak ada nama, tidak ada koordinat, hanya titik hitam di atas kertas yang sudah usang. Di sampingnya, tulisan tangan yang hampir pudar: "Getah pohon. Bahan bakar alternatif."

Aku menatap tulisan itu lama sekali.

Getah pohon. Bahan bakar alternatif.

Ini adalah sesuatu yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Sesuatu yang tidak tercatat dalam sistem mana pun. Sesuatu yang bisa mengubah segalanya.

Aku menutup map itu. Di luar, angin laut mulai bertiup lebih kencang, membawa aroma garam dan ikan asin yang sudah menjadi teman akrabku.

Besok, aku akan mulai bekerja dengan Mavra. Besok, aku akan mulai melihat peta-peta yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Besok, semuanya akan berubah.

Tapi untuk malam ini, aku membiarkan diriku tertidur dengan map merah di dadaku sebuah janji yang baru saja dibuat, sebuah perjanjian yang baru saja dimulai.

Pagi harinya, aku kembali ke dermaga.

Mavra sudah menunggu di sana, duduk di ujung dermaga dengan map merah di pangkuannya. Matanya menatap laut, tidak melihat ke arahku saat aku mendekat. Tapi aku tahu ia menyadari kehadiranku cara bahunya sedikit mengendur, cara tangannya sedikit melonggarkan genggamannya di map itu.

"Kau datang," katanya, masih tidak menatapku.

"Aku bilang aku akan datang," jawabku, duduk di sampingnya. "Aku tidak memberi janji palsu."

Mavra tersenyum senyum kecil, nyaris tidak terlihat, tapi aku melihatnya. "Aku ingat," katanya. "Itu sebabnya aku di sini."

Kami duduk dalam diam beberapa saat. Di depan kami, laut membentang tak berujung, abu-abu di bawah langit pagi yang masih mendung. Di belakang kami, Pelabuhan Sunyi mulai bangun suara orang-orang yang mulai bergerak, suara dermaga yang berderit, suara kehidupan yang mulai berdetak.

"Kau sudah memikirkan tawaranku?" tanya Mavra akhirnya.

"Aku sudah memikirkannya," kataku. "Dan aku setuju."

Mavra menoleh, menatapku dengan mata yang tajam. "Apa yang membuatmu yakin?"

"Aku tidak yakin," jawabku jujur. "Tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Dan kau..." aku menatapnya, "kau adalah satu-satunya orang yang datang kepadaku tanpa meminta imbalan."

Mavra tertawa tawa yang lebih ringan dari sebelumnya. "Aku meminta imbalan. Data jujur. Itu sudah cukup."

"Dan itu," kataku, "adalah alasan mengapa aku mempercayaimu."

Lihat selengkapnya