Dua minggu telah berlalu sejak aku mengunci garam.
Dua minggu sejak Osvor Naveth mundur dari terminal pelabuhan dengan langkah yang masih tegap tapi sudah mulai goyah. Dua minggu sejak aku berdiri di depan kerumunan dan melihat harapan mulai menyala di mata orang-orang yang sudah lama lupa caranya berharap.
Dua minggu yang mengubah segalanya.
Aku sekarang bukan lagi budak yang tidak punya apa-apa. Aku bukan lagi Silombra yang bahkan tidak dianggap ada. Aku adalah Morekey penjual ikan asin, pemegang Oskarnex Garam, dan entah bagaimana, pemimpin yang tidak pernah kuminta tetapi mulai kuterima.
Tapi aku tahu ini tidak akan bertahan selamanya. 30 hari Oskarnex Garam akan berakhir. Kartel Naveth akan kembali. Dan ketika mereka kembali, mereka akan membawa sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya.
Aku butuh sesuatu yang lebih besar juga.
Aku butuh kapal.
Pagi itu, aku berdiri di depan gedung lelang pelabuhan. Gedung tua dengan cat mengelupas dan papan nama yang sudah nyaris tidak terbaca. Di dalamnya, lelang kapal-kapal tua yang sudah tidak terpakai akan dimulai dalam satu jam.
Di sampingku, Mavra berdiri dengan tangan di saku, map merahnya terselip di bawah lengan. Matanya menatap gedung itu dengan ekspresi yang tidak bisa kutebak campuran antara sinisme dan rasa ingin tahu.
"Kau benar-benar akan membeli kapal?" tanyanya. "Dengan uang dari ikan asin?"
"Aku benar-benar akan membelinya," jawabku.
"Kau tahu kapal-kapal yang dilelang di sini adalah sampah, kan? Kapal-kapal yang sudah tidak bisa dipakai. Yang sudah lapuk dimakan garam. Yang..."
"Aku tahu," kataku. "Tapi aku tidak butuh kapal baru. Aku butuh kapal yang bisa diperbaiki."
Mavra menatapku lama. Lalu ia tersenyum senyum yang sama seperti saat kami membuat perjanjian di dermaga. Sinis. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang lebih hangat.
"Kau gila," katanya.
"Mungkin," kataku. "Tapi kadang, kegilaan adalah satu-satunya cara untuk melawan sistem yang gila."
Kami masuk ke gedung lelang.
Ruangan di dalam gelap, berdebu, dan berbau minyak mesin tua. Beberapa orang sudah duduk di kursi-kursi kayu yang berderit. Kebanyakan dari mereka adalah mandor pelabuhan, pedagang tua, dan aku melihatnya dengan jelas beberapa orang Kartel Naveth. Mereka duduk dengan ekspresi muram, garam yang hilang masih terasa di lidah mereka.
Mereka menatapku saat aku masuk. Beberapa dari mereka berbisik. Yang lain hanya menatap dengan mata yang tidak bisa disembunyikan lagi kebencian, ketakutan, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip dengan penasaran.
Aku tidak menghiraukan mereka. Aku duduk di kursi paling belakang, Mavra di sampingku. Dan aku menunggu.
Lelang dimulai dengan kapal-kapal kecil. Perahu nelayan. Tongkang tua. Semua dijual dengan harga yang masih terjangkau. Para pembeli mengangkat tangan, melempar tawaran, mengamankan barang-barang mereka dengan kepastian yang sudah biasa.
Tapi aku tidak tertarik pada itu. Aku menunggu.
Aku menunggu kapal yang kulihat di belakang gudang pelabuhan tiga hari lalu. Kapal tua yang sudah lapuk, yang lambungnya berkarat, yang layarnya robek, yang terlihat seperti sudah tidak bisa berlayar lagi.
Kapal yang dianggap sampah oleh semua orang.
Kapal yang kulihat dan langsung tahu itu milikku.
Aku tidak bisa menjelaskan mengapa. Mungkin karena aku melihatnya dan teringat pada diriku sendiri dianggap sampah, dianggap tidak berguna, dianggap sudah mati. Tapi di dalamnya, masih ada sesuatu yang hidup. Masih ada sesuatu yang menunggu untuk diperbaiki.
Sama seperti aku.
"Lelang berikutnya," kata pelelangan seorang lelaki tua dengan suara serak dan mata yang sudah kehilangan kilau dengan suara datar. "Kapal pengangkut batu bara. Kelas E. Dibangun 40 tahun lalu. Tidak pernah diperbaiki. Tidak pernah dirawat. Kondisi: buruk."
Ia menunjuk ke arah pintu belakang. Di sana, tertampang kapal itu dalam semua keburukannya. Kayu-kayunya sudah menghitam. Lambungnya berkarat. Di beberapa tempat, papan-papannya sudah terlepas, memperlihatkan rongga di dalamnya. Di tempat lain, lumut hijau tumbuh subur, memakan kayu dari dalam. Layar yang tersisa jika itu masih bisa disebut layar tergantung robek dan kusam seperti kain yang sudah terlalu lama dijemur di bawah matahari.
Para pembeli di ruangan itu tertawa.
"Kapal itu? Tidak ada yang mau membeli sampah itu."
"Bahkan untuk kayu bakarnya saja tidak berguna."
"Lebih baik dihancurkan saja."
"Kapal itu sudah mati. Tidak ada yang bisa menghidupkannya kembali."
Aku mendengar semua itu. Aku melihat semua itu. Dan aku tetap diam.
"Harga awal," kata pelelangan. "1.000 Tassun."
Keheningan.
"800 Tassun?"