Fajar belum sepenuhnya terbit ketika aku kembali ke dermaga.
Tapi aku bukan yang pertama datang. Pak Jono sudah ada di sana, duduk di atas peti kayu yang terbalik, mengasah pisaunya dengan batu asah yang usang. Di sampingnya, tumpukan peralatan palu, paku, gergaji, dan beberapa potong kayu baru yang masih berbau segar tersusun rapi seperti pasukan yang siap berperang.
"Pagi," sapanya, tanpa menatapku. Matanya tertuju pada pisau yang terus digesekkan ke batu srek... srek... srek... gerakan yang sudah puluhan tahun ia lakukan, sampai tangannya bergerak tanpa perlu berpikir.
"Pagi," jawabku.
"Kau bawa orang?"
Aku menoleh ke belakang. Mavra sudah berdiri di ujung dermaga, map merah di tangannya, dengan ekspresi yang tidak bisa kutebak campuran antara sinisme dan rasa ingin tahu. Di belakangnya, Kertos berjalan tertatih-tatih, membawa sekantong peralatan tambahan yang dipinjam dari tetangga.
"Aku bawa," kataku.
Pak Jono mendongak, menatap Mavra dan Kertos dengan mata yang tajam. Ia menilai mereka seperti ia menilai kayu mencari retakan, mencari kelemahan, mencari sesuatu yang bisa dipercaya.
"Perempuan itu," katanya, menunjuk ke Mavra dengan dagu, "siapa?"
"Mavra. Dia punya peta-peta gelap. Dia tahu rute-rute yang tidak tercatat."
Pak Jono mengangguk. "Berguna." Ia menunjuk ke Kertos. "Lelaki kurus itu?"
"Kertos. Mantan akuntan Kartel. Dia bisa menghitung."
Pak Jono mengangguk lagi. "Juga berguna." Ia menatapku. "Dan kau?"
"Aku," kataku, "adalah orang yang akan membawa kapal ini berlayar."
Pak Jono tersenyum senyum yang aneh, bukan senyum ramah, tapi senyum seseorang yang sudah lama tidak punya alasan untuk percaya pada siapa pun, tapi mulai percaya lagi.
"Kalau begitu," katanya, "kita mulai."
Kami bekerja sepanjang pagi.
Pak Jono memimpin dengan gerakan yang sudah terlatih puluhan tahun. Tangannya yang gemetar saat istirahat, tiba-tiba menjadi stabil saat menyentuh kayu. Ia meraba setiap papan, mengetuk setiap sambungan, mendengarkan suara yang dihasilkan tok, tok, tok seperti dokter yang memeriksa pasien yang sakit.
"Ini masih bagus," katanya, menunjuk ke satu papan. "Ini lapuk. Ganti." Ia menunjuk ke papan lain. "Ini masih kuat. Ini juga." Ia menunjuk ke beberapa papan lain. "Tapi ini..." ia berhenti di depan lubang besar di lambung kapal, "...ini butuh kerja keras."
"Aku bisa membantu," kataku.
"Kau?" Ia menatapku. "Kau pernah memperbaiki kapal sebelumnya?"
"Tidak pernah," jawabku jujur. "Tapi aku bisa belajar."
Pak Jono menatapku lama. Lalu ia tersenyum senyum yang berbeda dari sebelumnya. Senyum yang lebih hangat, lebih tulus.
"Kalau begitu," katanya, "aku akan mengajarimu."
Ia mengambil sepotong kayu baru, meletakkannya di atas meja kerja, dan mulai mengukur dengan meteran kayu yang sudah usang. Sret... sret... sret... gerakan yang tepat, penuh perhitungan, seperti seorang seniman yang sedang mengukur kanvasnya.
"Ini," katanya, "adalah cara kakekku mengajariku. Dan kakeknya sebelum dia." Ia menatapku. "Kau tahu apa yang membuat sambungan kayu lebih kuat dari paku besi?"
Aku menggeleng.
"Pasak," katanya. "Paku besi berkarat. Ia merusak kayu dari dalam. Tapi pasak kayu ia menyatu dengan kapal. Ia menjadi bagian dari tubuhnya." Ia mengambil sebatang kayu kecil, membentuknya dengan pisau, memasukkan ke dalam lubang yang sudah dibuatnya. "Ini cara orang tua kita. Sebelum Kartel datang. Sebelum semua diukur dengan uang dan prosedur."
Aku menatap sambungan itu. Kayu yang menyatu dengan kayu tanpa paku, tanpa logam, tanpa sesuatu yang asing. Hanya kayu dan kayu, saling mengunci, saling menguatkan.