Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1

Tourtaleslights
Chapter #18

PRINSIP KEDUA

Tiga hari kami bekerja tanpa henti.

Tiga hari memaku, menggergaji, mengukur, dan mengulangi. Tiga hari di bawah terik matahari dan hujan gerimis yang datang tanpa peringatan. Tiga hari yang mengubah kapal rongsokan itu menjadi sesuatu yang mulai terlihat seperti kapal sungguhan masih tua, masih kumuh, tapi ada kehidupan di dalamnya yang mulai berdetak.

Pagi ini, kami hampir selesai dengan lambungnya. Hanya tersisa satu bagian sebuah papan di sisi kiri yang masih terlihat lebih gelap dari yang lain, lebih tua, lebih lapuk, seolah-olah ia telah berada di sana sejak kapal ini pertama kali dibangun.

Aku berdiri di depannya, menatap papan itu dengan perasaan yang aneh. Ada sesuatu di dalamnya sesuatu yang tidak bisa kujelaskan, seperti panggilan, seperti bisikan yang hanya bisa kudengar.

"Yang itu," kata Pak Jono dari belakangku, menunjuk ke papan itu. "Kenapa kita belum menggantinya?"

Aku tidak menjawab. Aku mendekat. Aku memeriksa papan itu dengan teliti. Kayunya hitam pekat lebih hitam dari kayu biasa, lebih hitam dari yang seharusnya. Di permukaannya, ada sesuatu yang tidak biasa. Bukan retakan, bukan lubang, tapi sesuatu yang lebih halus, lebih teratur, lebih disengaja. Seperti ukiran yang sudah tertutup oleh lapisan-lapisan debu dan kotoran yang menumpuk selama bertahun-tahun.

"Ada tulisan di sini," kataku.

Mavra mendekat. Kertos mendekat. Pak Jono mendekat. Kami bertiga kami berempat menatap papan itu dalam diam. Di belakang kami, angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan kayu segar.

Aku mengusap permukaannya dengan tangan. Debu dan lumut menempel di jariku, tapi di bawahnya, aku bisa merasakan sesuatu. Alur-alur yang dalam. Ukiran-ukiran yang sengaja dibuat, sengaja disembunyikan, sengaja dilindungi oleh lapisan-lapisan kotoran yang menumpuk selama bertahun-tahun. Di sela-sela alur itu, aku merasakan sesuatu yang aneh kehangatan, seperti kayu yang masih hidup, yang masih bernapas.

"Aku tidak percaya," bisik Mavra.

"Apa?" tanya Kertos. "Apa yang kau lihat?"

Aku tidak menjawab. Aku mengambil sepotong kain basah dan mulai membersihkan papan itu. Perlahan. Hati-hati. Seperti seseorang yang sedang mengungkap sesuatu yang suci. Seperti seseorang yang sedang membuka peti yang sudah terkunci selama bertahun-tahun.

Lapisan demi lapisan kotoran mulai terkelupas. Di bawahnya, ukiran-ukiran mulai terlihat. Huruf-huruf kuno. Kata-kata yang sudah lama tidak terucapkan. Kalimat yang sudah lama tidak terbaca.

Dan ketika aku selesai membersihkannya, aku melihat apa yang tertulis di sana.

"Kekuasaan sejati bukanlah kemampuan untuk memerintah. Ia adalah kemampuan untuk melayani."

Aku membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali.

Kata-kata itu tidak berubah. Mereka tetap di sana, terukir dalam kayu yang sudah lapuk, seperti pesan yang dikirim melintasi waktu, melintasi kematian, melintasi segalanya.

Prinsip Kedua Pentavel.

Aku tidak tahu kapan air mata mulai jatuh.

Mungkin saat aku membaca kata-kata itu untuk pertama kalinya. Mungkin saat aku menyadari siapa yang menulisnya. Mungkin saat aku mengerti bahwa pesan ini telah menunggu selama bertahun-tahun menunggu aku, menunggu momen ini, menunggu saat yang tepat untuk ditemukan.

Air mata jatuh ke papan kayu itu. Menetes di antara huruf-huruf kuno. Membasahi ukiran-ukiran yang sudah hampir hilang dimakan waktu.

"Ini," bisikku, suaraku pecah. "Ini tulisan kakekku."

Mavra menatapku dengan mata terbelalak. "Kakekmu?"

"Maskey XII," kataku. "Oskaren sebelum aku. Raja yang dikunci di istananya sendiri. Raja yang hanya bisa mendongeng." Aku menatap ukiran itu. "Tapi ia menulis ini. Ia mengukir ini di lambung kapal, entah kapan, entah bagaimana. Ia meninggalkan pesan ini untuk..."

Aku berhenti. Kata-kata tidak mau keluar. Tenggorokanku tercekat oleh sesuatu yang lebih besar dari tangis, lebih besar dari kesedihan, lebih besar dari segalanya.

Lihat selengkapnya