Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1

Tourtaleslights
Chapter #20

PANCAKARYA

Empat hari setelah penemuan Prinsip Kedua, kapal itu hampir selesai.

Aku berdiri di dermaga, menatap hasil kerja kami selama hampir dua minggu. Kapal yang dulu hanya tumpukan kayu lapuk dan karat yang dianggap sampah oleh semua orang, yang tidak ada yang mau membelinya bahkan dengan harga 600 Tassun kini mulai terlihat seperti kapal sungguhan.

Lambungnya yang dulu berlubang kini tertutup rapat oleh papan-papan baru. Kayu-kayu yang dulu lapuk dan menghitam kini digantikan oleh kayu segar yang masih berbau getah, yang masih hangat di bawah sinar matahari. Geladaknya yang dulu robek kini kokoh di bawah kakiku aku bisa berjalan di atasnya tanpa takut jatuh ke dalam rongga di bawah. Layarnya layar baru yang kami jahit dari kain bekas yang dikumpulkan dari tetangga, dari potongan-potongan yang tidak terpakai, dari sisa-sisa yang masih bisa digunakan mulai berkibar tertiup angin pagi, meski masih perlu diikat lebih kuat.

Tapi ada satu hal yang belum selesai. Satu hal yang membuat kapal ini berbeda dari kapal lain. Satu hal yang akan mengubahnya dari sekadar kapal menjadi sesuatu yang lebih.

Aku menatap papan di lambung kapal papan yang berisi ukiran Prinsip Kedua. Papan yang menjadi jantung dari kapal ini, yang menjadi alasan mengapa kapal ini dinamai Pancakarya. Papan yang telah menunggu selama empat puluh tahun untuk ditemukan kembali.

"Kau yakin ingin meninggalkannya di sana?" tanya Mavra dari belakangku. "Itu adalah artefak berharga. Mungkin kau harus menyimpannya di tempat yang aman."

Aku menggeleng. "Tidak. Itu harus tetap di sini."

"Kenapa?"

Aku menatap ukiran itu. "Kekuasaan sejati bukanlah kemampuan untuk memerintah. Ia adalah kemampuan untuk melayani."

"Karena itulah yang akan menjadi prinsip kapal ini," kataku. "Setiap orang yang melihat kapal ini akan melihat prinsip itu. Setiap orang yang menaiki kapal ini akan membawa prinsip itu. Setiap orang yang mendengar nama kapal ini akan mengingat prinsip itu."

Aku berbalik menghadap Mavra. "Ini bukan hanya kapal, Mavra. Ini adalah pernyataan. Ini adalah pengingat bahwa kekuasaan bukanlah tentang memerintah. Ini adalah pengingat bahwa kekuasaan sejati adalah tentang melayani."

Mavra terdiam. Lalu ia tersenyum senyum yang lebih lembut dari sebelumnya, senyum yang menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya, ia benar-benar percaya padaku.

"Kau benar-benar percaya itu, ya?" tanyanya.

"Aku percaya," jawabku. "Karena aku sudah melihat apa yang terjadi ketika orang memerintah tanpa melayani. Aku sudah melihat Kartel Naveth. Aku sudah melihat Osvor Naveth. Aku sudah melihat sistem yang dibuat untuk melindungi dirinya sendiri, bukan untuk melindungi rakyatnya."

Aku menatap ukiran itu. "Dan aku tidak ingin menjadi seperti mereka."

Kami menghabiskan sisa pagi itu untuk menyelesaikan detail terakhir.

Kertos memasang papan-papan terakhir di geladak, menghitung setiap potong kayu yang digunakan, memastikan tidak ada yang terbuang percuma. Matanya yang tajam bekas akuntan yang tidak pernah hilang memindai setiap sambungan, setiap paku, setiap sudut.

"Semua sudah terhitung," katanya, mengusap keringat di dahinya. "Tidak ada yang terbuang. Tidak ada yang hilang. Ini..." ia menatap kapal yang mulai utuh, "...ini sempurna."

Mavra mengencangkan tali-tali layar, memastikan semuanya terikat kuat. Tangannya yang kecil dan ramping ternyata kuat mampu menarik tali yang tebal, mengikat simpul yang rumit, memastikan semuanya aman.

"Layarnya sudah siap," katanya. "Tapi kita butuh angin yang cukup untuk mengujinya."

"Angin akan datang," kataku. "Seperti semuanya, ia datang pada waktunya."

Lihat selengkapnya