Birokrasisekai: BUDAK PELABUHAN SUNYI — Volume 1

Tourtaleslights
Chapter #21

IZIN DITOLAK

Pagi itu, aku berdiri di depan kantor mandor pelabuhan dengan perasaan yang sudah pernah kualami sebelumnya.

Gedung itu sama seperti kantor registrasi cat mengelupas, papan nama nyaris tidak terbaca, bau karbol murahan bercampur keringat. Di dalamnya, ada loket-loket, ada petugas dengan mata kosong, dan ada tumpukan kertas yang tidak pernah habis. Sama seperti tiga minggu lalu, saat aku masih Silombra, saat aku masih tidak dianggap ada.

Tapi kali ini, aku tidak sendirian.

Di sampingku, Mavra berdiri dengan tangan di saku, map merah terselip di bawah lengan. Matanya tajam, waspada, seperti elang yang siap menerkam. Di belakangku, Kertos berdiri dengan map cokelat di tangannya, wajahnya tegang tapi matanya tajam bekas akuntan yang tidak pernah benar-benar hilang. Kami bertiga, berdiri di depan pintu kayu yang sudah lapuk, siap menghadapi apa pun yang akan datang.

"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Mavra.

"Aku tidak yakin," jawabku jujur. "Tapi kita harus mencoba."

"Dan jika mereka menolak?"

Aku menatapnya. "Kita akan menemukan cara lain."

Mavra tersenyum senyum yang sudah menjadi ciri khasnya, sinis tapi hangat. "Kau selalu punya rencana cadangan, ya?"

"Aku selalu punya rencana cadangan," kataku. "Itu yang membuatku tetap hidup."

Kami masuk ke dalam gedung.

Ruangan di dalam gelap, berdebu, dan berbau kertas tua. Di dinding, papan pengumuman besar bertuliskan kata-kata yang sama seperti di kantor registrasi: 

 

"Pelayanan adalah Kebahagiaan Kami."

 

Dan di bawahnya, seseorang mungkin orang yang sama, mungkin orang lain telah mencoret dengan pulpen: 

 

"Kebahagiaan adalah saat kami pulang."

 

Aku tersenyum pahit. FLOKFLOK. Beberapa hal tidak pernah berubah.

 

Aku berjalan ke loket. Petugas di balik meja kaca seorang lelaki tua dengan kacamata tebal dan wajah yang sudah kehilangan kemampuan untuk tersenyum menatapku dengan mata yang kosong. Di belakangnya, aku bisa melihat tumpukan map cokelat yang menjulang, seperti gunung yang tidak pernah habis.

"Keperluan?" tanyanya, datar.

"Aku ingin mengurus izin berlayar," kataku. "Untuk kapal Pancakarya."

Petugas itu mengangkat alisnya. "Pancakarya? Kapal rongsokan yang kau beli di lelang?"

"Kapal yang sudah kuperbaiki," jawabku. "Dan siap berlayar."

Petugas itu menatapku lama. Aku bisa melihat matanya bergerak menilai pakaianku yang masih compang-camping, menilai bekas-bekas kerja di tanganku, menilai sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Lalu ia menggeleng.

"Tidak bisa. Kapal itu tidak memiliki dokumen lengkap. Tidak ada surat keterangan layak laut. Tidak ada sertifikat keamanan. Tidak ada..."

"Aku sudah menyiapkan semuanya," kataku, mengambil tumpukan kertas dari Kertos. "Ini surat keterangan perbaikan. Ini daftar bahan yang digunakan. Ini..."

Lihat selengkapnya