Malam itu, hujan turun deras.
Aku berdiri di geladak Pancakarya, merasakan butiran-butiran air dingin menghujam kulitku. Di depanku, Pelabuhan Sunyi gelap dan sunyi, lampu-lampu kecil dari gubuk-gubuk berkedip-kedip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Angin malam berhembus kencang, membawa aroma garam dan hujan dan sesuatu yang lain sesuatu yang terasa seperti permulaan.
Di sampingku, Mavra dan Kertos berdiri dengan wajah tegang. Mereka sudah tahu apa yang akan kulakukan. Mereka sudah setuju untuk ikut. Tapi di mata mereka, aku masih bisa melihat keraguan keraguan yang sama yang pernah kurasakan saat pertama kali memutuskan untuk melawan sistem ini.
"Kau yakin?" tanya Mavra. Suaranya nyaris hilang di antara deru angin dan hujan.
"Aku sudah yakin sejak lama," jawabku. "Aku hanya butuh waktu untuk sampai di sini."
Mavra tidak menjawab. Tapi di matanya, aku melihat sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang lebih dalam dari persetujuan. Sesuatu yang mirip dengan kepercayaan.
"Kertos," kataku, "apakah semua persiapan sudah selesai?"
Kertos mengangguk. Di tangannya, buku catatan yang selalu ia bawa buku yang berisi semua data, semua angka, semua bukti yang akan kami bawa. "Persediaan sudah dimuat. Air sudah cukup. Makanan sudah cukup. Bahan bakar..." ia berhenti, menatapku, "...bahan bakar cukup untuk tiga minggu."
"Tiga minggu," ulangku. "Cukup untuk mencapai pulau di peta Mavra."
"Aku sudah menandai rutenya," kata Mavra. "Tapi ada satu masalah."
"Apa?"
"Kita tidak punya izin berlayar." Ia tersenyum pahit. "Tapi kurasa itu sudah kau ketahui."
Aku tersenyum balik. "Aku sudah tahu sejak awal."
Aku menatap langit di atas kepala. Di antara rintik hujan, aku bisa melihat bintang-bintang samar, tapi masih terlihat. Dan di antara mereka, satu bintang bersinar lebih terang dari yang lain. Bintang Utara.
"Ke sana," kataku, menunjuk ke bintang itu.
Mavra mengikuti arah tatapanku. "Apa itu?"
"Bintang Utara," kataku. "Dulu, sebelum ada peta, sebelum ada kompas, orang-orang menggunakan bintang ini untuk navigasi. Ia selalu di utara. Ia selalu di tempat yang sama. Ia " aku berhenti, mencari kata yang tepat, " ia adalah pengingat bahwa di dunia yang selalu berubah, ada sesuatu yang tetap."
Mavra menatap bintang itu lama sekali. "Kau belajar itu dari mana?"
Aku tidak menjawab segera. Aku teringat pada Pak Giman, yang mengajariku membaca awan. Pada Pak Jono, yang mengajariku membaca kayu. Pada Mbok Ratih, yang mengajariku membaca tanaman. Mereka semua mengajariku satu hal yang sama: bahwa dunia ini berbicara jika kau tahu cara mendengarkannya.
"Aku belajar," kataku akhirnya, "dari orang-orang yang tidak pernah memakai stempel."
Di dermaga, orang-orang mulai berkumpul.
Bukan banyak. Hanya beberapa tapi mereka adalah orang-orang yang berarti. Sari dengan Denu dalam gendongannya, anak itu setengah tertidur tapi matanya masih terbuka sedikit, menatapku dengan tatapan yang sama seperti pertama kali ia tersenyum padaku. Mbok Ratih dengan cobek batu di pinggangnya, tersenyum dari kejauhan. Mas Guntur dengan pisau ukir di tangannya, mengangguk padaku. Mbok Tari dengan jari-jari yang masih lincah, membawa seikat daun pisang segar. Pak Giman dan beberapa nelayan, berdiri di belakang, wajah-wajah yang mulai percaya.
Dan di depan mereka semua, Pak Jono.
Ia berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi pasti. Di tangannya, sebuah bungkusan kecil terbungkus daun pisang, diikat dengan tali serat kayu.
"Ini," katanya, menyerahkan bungkusan itu padaku. "Untuk perjalananmu."
Aku menerimanya, membukanya. Di dalamnya, ukiran kayu kecil bentuk kapal, dengan layar terkembang, dengan api kecil di atasnya. Sama seperti yang ia ukir sebelumnya, tapi lebih kecil, lebih halus, lebih personal.
"Untuk mengingatkanmu," katanya, "bahwa kau selalu punya rumah untuk kembali."
Aku menatap ukiran itu lama sekali. "Terima kasih, Pak Jono."
Ia menggeleng. "Terima kasih padamu, Morekey. Kau mengingatkanku bahwa aku masih berguna." Ia menatapku. "Kapal ini akan berlayar. Aku tahu itu. Karena ia dibangun dengan tangan yang percaya."
Sari berjalan mendekat, Denu dalam gendongannya. Anak itu sudah terjaga sepenuhnya sekarang, matanya terbuka lebar, menatapku dengan senyum yang sama seperti pertama kali ia minum air bersih.
"Kak Morekey," katanya, suaranya masih serak tapi kuat. "Kak Morekey akan pergi?"
Aku berlutut, setinggi matanya. "Aku akan pergi," kataku. "Tapi aku akan kembali."
"Berjanji?"
Aku menatap matanya yang jernih. "Aku berjanji."
Anak itu mengulurkan tangannya yang kecil, menggenggam jariku sama seperti pertama kali. Tangannya masih dingin. Tapi genggamannya hangat.
"Aku akan menunggu," katanya.
Sari mendekat, memberikan bungkusan lain terbungkus daun pisang, lebih besar dari yang diberikan Pak Jono. Di atasnya, tulisan tangan yang rapi: "Untuk Perjalanan."
Aku membukanya. Aroma gulai ikan asin santan, jahe, kunyit, daun salam menyebar di udara pagi yang dingin. Aroma yang mengingatkan pada dapur, pada rumah, pada masa ketika makanan masih punya rasa.
"Aku memasaknya sendiri," kata Sari. "Dari resepmu. Aku hanya menambahkan sedikit cinta."