Birokrasisekai: LINTAS SAMUDRA & KONSORSIUM — Volume 2

Tourtaleslights
Chapter #1

BURONAN

Tiga hari setelah meninggalkan Pelabuhan Sunyi, aku menulis ini di atas kapal yang tidak memiliki izin berlayar.

Di belakangku, Pelabuhan Sunyi sudah menjadi titik kecil di cakrawala. Di depanku, lautan membentang tak berujung dan di dalam lautan itu, ada sesuatu yang lebih mengerikan dari badai: ketidakpastian.

Aku sekarang adalah buronan administratif. Tapi aku membawa Prinsip Kedua Pentavel. Aku membawa harapan.

Dan aku tidak akan menyerah.

Tapi sebelum aku menceritakan perjalanan ini, aku harus menceritakan bagaimana aku sampai di sini. Karena kapal ini Pancakarya bukanlah kapal yang kudapatkan dengan mudah. Ia adalah hasil dari negosiasi yang panjang, dari pertukaran yang rumit, dari keputusan yang mengubah segalanya.

Ini adalah cerita tentang bagaimana aku mendapatkan kapal pertamaku.


Aku menulis ini di ruang komando Pancakarya, dengan suara ombak yang masih terngiang di telingaku. Di atas meja kayu yang lapuk, buku catatan Nawapes terbuka. Di sampingku, Mavra tertidur di sudut ruangan, map merahnya masih tergenggam erat di tangannya.

Di luar, laut masih gelap. Tapi di kejauhan, garis jingga mulai muncul di ufuk timur cahaya yang hangat, lembut, dan penuh janji.

Besok, kami akan tiba di pulau pertama. Besok, semuanya akan berubah.

Tapi untuk malam ini, aku mencatat.


Aku masih ingat bagaimana kami mendapatkan Pancakarya.

Kami keluar dari ladang garam dengan dua hal: garam dan data. Garam yang kami selundupkan di balik pakaian. Data yang kukumpulkan selama bertahun-tahun rute-rute rahasia, nama-nama pejabat yang korup, jadwal patroli Kartel, semua yang kudengar dari para tahanan yang datang dan pergi.

Mavra bertanya, "Kau yakin ini cukup?"

Aku menjawab, "Kita akan lihat."

Kami tiba di sebuah pelabuhan kecil tidak ada nama di peta resmi. Hanya dermaga kayu yang lapuk, beberapa kapal nelayan yang tambal sulam, dan sebuah gudang tua yang hampir rubuh. Di sanalah aku bertemu dengan seorang pedagang tua bernama Pak Rahmat. Dulu ia birokrat Kartel. Sekarang ia menjual barang bekas.

Aku menawarkan garam. Ia tidak tertarik. Aku menawarkan data peta rute rahasia yang tidak dimiliki siapa pun. Ia tertarik.

"Kau tahu tentang Kartel?" tanyanya, matanya menyipit.

"Aku bekerja di sana selama bertahun-tahun. Aku tahu di mana mereka menyimpan barang. Aku tahu bagaimana mereka menyelundupkan. Aku tahu cara menjualnya tanpa ketahuan."

"Apa yang kau inginkan?"

Aku menunjuk ke kapal tua di sudut gudangnya kapal kayu jati yang lapuk, layar robek, tiang retak. Tapi aku melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain: tulang-tulangnya yang masih kokoh. Rangkanya yang masih kuat.

"Kapal itu," kataku. "Dan persediaan untuk satu bulan."

Pak Rahmat tertawa. "Kau gila, anak muda! Kau menawarkan peta untuk sebuah kapal?"

Aku menatapnya. "Kau tahu bahwa peta ini bernilai lebih dari kapal itu. Dengan peta ini, kau bisa menggandakan kekayaanmu dalam setahun. Dengan kapal ini, aku hanya bisa bertahan hidup."

Lihat selengkapnya