Di sudut penglihatanku, Norkath Kest berkedip pelan.
Aku mengabaikannya. Sudah menjadi kebiasaan seperti detak jantung kedua yang tidak pernah berhenti, seperti bayangan yang selalu mengikuti. Tapi pagi ini, aku tidak ingin membaca angka. Aku tidak ingin melihat status, peringatan, atau log merah yang mengingatkanku pada prosedur yang kulanggar dan izin yang kutolak.
Aku hanya ingin berdiri di haluan Pancakarya dan merasakan angin laut menerpa wajahku.
Tiga hari kami berlayar tanpa melihat daratan.
Tiga hari di atas kapal yang dulu hanya tumpukan kayu lapuk dan karat, kini berderak pelan di bawah kaki kami, seperti makhluk hidup yang mulai mengingat cara bernapas. Tiga hari di antara langit kelabu dan laut abu-abu yang menyatu di cakrawala, tanpa batas, tanpa penanda, tanpa tujuan yang terlihat.
Tiga hari yang memberiku waktu untuk berpikir.
Di belakangku, Pelabuhan Sunyi sudah menjadi titik kecil lalu menghilang sama sekali. Di depanku, tidak ada apa-apa selain ombak dan kabut dan ketidakpastian. Di tanganku, buku catatan Nawapes yang sudah usang, masih terbuka di halaman terakhir yang kutulis malam itu, di pelabuhan kecil bersama Pak Rahmat.
Aku belum menulis apa pun sejak kita berlayar. Entah mengapa, kata-kata tidak datang dengan mudah. Mungkin karena aku terlalu sibuk memikirkan apa yang menunggu di depan.
Atau mungkin karena aku terlalu sibuk memikirkan apa yang kutinggalkan di belakang.
"Kau melamun lagi."
Aku menoleh. Mavra berdiri di sampingku, rambut pendeknya berkibar tertiup angin, map merahnya terselip di bawah lengan. Matanya cokelat, tajam, dan sangat waspada menatapku dengan ekspresi yang sudah mulai kukenal. Campuran antara sinisme dan rasa ingin tahu.
"Aku merencanakan," kataku. "Ada perbedaan."
"Berencana untuk apa?" Ia menatap laut di depan kami. "Kita sudah berlayar tanpa izin, tanpa dokumen, tanpa apa pun. Ini bukan rencana. Ini pelarian."
"Pelarian adalah ketika kau lari dari sesuatu," kataku. "Aku tidak lari dari apa pun. Aku hanya mencari tempat di mana aku bisa membangun."
Mavra tertawa kecil sinis, seperti biasa. "Membangun? Dengan kapal rongsokan dan tiga minggu persediaan? Kau tahu apa yang ada di depan kita? Bajak laut. Badai. Wilayah perairan yang tidak ada di peta. Belum lagi " ia berhenti, menatapku, " fakta bahwa kau sekarang adalah buronan administratif."
Aku menatapnya. "Kau takut?"
Ia tidak menjawab. Tapi di matanya, untuk sepersekian detik, aku melihat sesuatu yang jarang ia tunjukkan. Keraguan.
"Aku tidak takut," katanya akhirnya. "Aku pragmatis. Dan secara pragmatis, ini adalah keputusan yang bodoh."
"Mungkin," kataku. "Tapi kadang, kebodohan adalah satu-satunya cara untuk menemukan sesuatu yang berharga."
Mavra menatapku lama. Lalu ia tersenyum senyum yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Kau benar-benar percaya pada apa yang kau katakan, ya?" tanyanya.
"Aku tidak perlu percaya," jawabku. "Aku hanya perlu mencoba."
Kertos muncul dari bawah geladak, membawa secangkir air yang masih beruap. Tangannya gemetar bukan karena dingin, tapi karena kebiasaan lama yang belum hilang. Ia adalah seorang akuntan narapidana yang diasingkan, yang telah kehilangan segalanya dan menemukan kembali sesuatu di atas kapal ini.
"Air," katanya, menyerahkan cangkir itu padaku. "Dari tangki penyaring. Masih hangat."
Aku menerimanya. Airnya jernih bukan air keruh seperti yang kami minum di Pelabuhan Sunyi, bukan air yang harus dibeli dengan setengah upah harian. Ini air yang aku saring dengan tanganku sendiri, di kapal yang aku perbaiki dengan tanganku sendiri.
Aku menyesapnya. Hangat. Segar. Jujur.
"Terima kasih, Kertos," kataku.
Ia tersenyum senyum yang masih jarang, tapi mulai sering muncul. "Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan."
"Aku tahu," kataku. "Dan itu sudah cukup."
Malam itu, kami berkumpul di ruang komando ruang kecil di bawah geladak yang cukup untuk tiga orang duduk. Di atas meja kayu yang lapuk, Mavra membentangkan peta-peta gelapnya, sementara Kertos mencatat angka-angka di buku catatannya.
"Kita berada di sini," kata Mavra, menunjuk ke sebuah titik di peta yang tidak memiliki nama. "Menurut perhitunganku, kita masih berada di perairan Pelabuhan Sunyi. Tapi dalam dua hari, kita akan memasuki wilayah yang tidak dikuasai oleh Kartel Naveth."