Aku melihat layar hitam itu sebelum siapa pun.
Di ufuk timur, di antara kabut pagi yang masih menggantung rendah di atas air, tiga titik hitam mulai bergerak. Lambat. Terukur. Seperti predator yang tidak terburu-buru karena tahu mangsanya tidak bisa kabur.
"Layar di cakrawala!" teriak Kertos dari atas tiang. Suaranya nyaris hilang di antara deru angin, tapi aku mendengarnya dengan jelas. "Tiga kapal! Mendekat dari timur!"
Aku tidak panik. Aku hanya berdiri di haluan Pancakarya, menatap titik-titik hitam yang mulai membesar. Di sampingku, Mavra menggenggam map merahnya lebih erat, tapi wajahnya tetap tenang.
"Bajak laut," katanya. Suaranya datar, pragmatis, seperti ia sudah menduga ini akan terjadi.
"Aku tahu," jawabku.
"Kita tidak punya senjata. Kita tidak punya tentara. Kita "
"Aku tahu," ulangku. "Tapi kita punya sesuatu yang lain."
Mavra menatapku. "Apa?"
Aku tersenyum bukan senyum getir. Bukan senyum pahit. Ini senyum yang lebih tajam, lebih dingin, lebih terarah. Senyum seseorang yang baru saja melihat peluang di balik ancaman.
"Kita punya prosedur."
Tiga kapal bajak laut itu mendekat dalam waktu kurang dari satu jam.
Mereka tidak terburu-buru. Mereka bergerak dengan presisi yang mengejutkan seperti kapal-kapal perang, bukan seperti perampok. Layar hitam mereka berkibar dengan angin yang sama, dan di setiap haluan, bendera dengan tengkorak dan tulang bersilang berkibar.
Kapal terbesar, yang berada di tengah, mendekati Pancakarya dengan jarak yang cukup untuk berbicara tanpa berteriak. Di haluannya, berdiri seorang pria bertubuh kekar dengan janggut tebal dan mata yang tajam. Ia tidak mengacungkan pedang. Ia tidak berteriak ancaman. Ia hanya berdiri di sana, menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Dan kemudian, tanpa peringatan, ia mengeluarkan selembar kertas.
"Kapal yang tidak dikenal," katanya, suaranya dalam dan berat, seperti seseorang yang terbiasa diperhatikan. "Kau memasuki wilayah kekuasaan Kapten Daru. Sesuai dengan Pasal 7 Perjanjian Lintas Selat, kapal asing dikenakan pajak masuk sebesar 20% dari total muatan."
Aku menahan tawa. Mavra, di sampingku, menatapku dengan ekspresi yang campuran antara ketidakpercayaan dan kekaguman.
"Bajak laut yang memungut pajak?" bisiknya.
"Bajak laut yang profesional," jawabku pelan. "Seperti yang kau katakan."
Aku melangkah maju ke haluan, sehingga aku bisa melihat Kapten Daru dengan jelas. Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menyengat, aku bisa melihat detail-detail kecil di wajahnya bekas luka di pipi kiri, uban di pelipisnya, dan sesuatu di matanya yang tidak bisa kujelaskan. Bukan kebencian. Bukan ketamakan. Tapi sesuatu yang lebih kompleks. Sesuatu yang mirip dengan kelelahan.
"Kapten Daru," kataku, suaraku tenang. "Aku Morekey. Kapten kapal Pancakarya."
Daru mengangkat alisnya. "Morekey? Aku pernah mendengar nama itu. Kau budak yang melarikan diri dari Pelabuhan Sunyi. Kau yang mengunci garam Kartel Naveth." Ia tersenyum senyum yang tidak bisa kutebak. "Kau terkenal, Morekey. Tapi terkenal tidak membebaskanmu dari pajak."
"Aku tidak datang untuk menghindari pajak," kataku. "Aku datang untuk menawarkan sesuatu."
Daru menatapku lama. "Apa?"
Aku mengambil napas dalam-dalam. Di dalam dadaku, sesuatu berdetak lebih cepat bukan ketakutan, tapi antisipasi. Ini adalah saat yang menentukan. Ini adalah saat di mana semuanya bisa berubah.
"Aku menawarkan Oskarnex Rute Laut," kataku. "Kartu monopoli yang akan memberi kalian hak eksklusif untuk mengawal semua kapal konsorsiumku. Kalian tidak perlu merampok lagi. Kalian menjadi Divisi Keamanan Laut."
Kapal itu terdiam.
Di atas kapal Daru, para bajak laut saling berpandangan. Di atas kapalku, Mavra dan Kertos menahan napas.
Daru menatapku lama. Lalu ia tertawa tawa yang dalam dan berat, tawa yang keluar dari perut, dari tahun-tahun pengalaman yang membuat lelucon semacam ini terasa lebih pahit daripada lucu.
"Kau orang pertama yang menawari kami pekerjaan resmi secara administratif," katanya. "Kau tahu betapa gilanya itu?"
"Aku tahu," jawabku. "Tapi aku juga tahu bahwa perampokan tidak berkelanjutan. Suatu hari, kapal-kapal akan berhenti datang. Suatu hari, pemerintah akan mengirim armada untuk menghancurkan kalian. Suatu hari "
"Kau menggertak," katanya, tapi senyumnya mulai pudar.
"Aku tidak menggertak," kataku. "Aku hanya menawarkan alternatif. Pilihan antara menjadi buronan selama-lamanya, atau menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar."
Daru diam. Ia menatapku, menatap kapalku, menatap Mavra dan Kertos yang berdiri di belakangku. Dan di matanya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan ketakutan. Bukan kemarahan. Tapi sesuatu yang lebih langka, lebih berharga, lebih manusia.
Keraguan.
"Kau serius?" tanyanya akhirnya.
"Aku selalu serius," jawabku. "Aku hanya tidak selalu menunjukkannya."