Aku terbangun dengan rasa asin di lidahku.
Bukan asin garam laut yang menyusup dari sela dinding papan. Ini asin yang lebih tua, lebih dalam asin keringat yang sudah mengering lalu basah lagi berkali-kali, asin darah dari bibir yang pernah pecah, dan asin sesuatu yang lebih menyedihkan daripada keduanya: keputusasaan yang sudah lama mengendap di akar gigi, di celah antara gusi dan tulang rahang, di tempat yang tidak bisa dijangkau sikat gigi mana pun karena aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali punya sikat gigi.
Aku membuka mata.
Langit-langit di atasku bukan langit-langit. Ia adalah papan-papan kayu yang saling tumpang tindih tanpa niat, disatukan oleh paku-paku karatan dan doa siapa pun yang membangunnya bertahun-tahun lalu. Di salah satu celah, lumut hijau tua tumbuh subur, memakan kayu dari dalam, pelan-pelan, sabar seperti segala sesuatu di tempat ini yang menunggu waktu untuk runtuh. Bau amonia menggantung di udara, bercampur bau asin tadi, bercampur bau manusia yang sudah terlalu lama dianggap bukan manusia.
Di kejauhan, dari balik jendela tanpa kaca yang hanya ditutup kain goni robek, aku mendengar laut. Ombak yang memukul dermaga dengan ketukan yang sama, malam ini, kemarin malam, dan mungkin seribu malam sebelum itu. Detak yang tidak peduli siapa yang mendengarkannya.
Aku tidak bergerak dulu. Aku hanya berbaring, menghitung napasku sendiri, mencoba mengingat siapa aku.
Itu pertanyaan yang aneh untuk ditanyakan pada diri sendiri. Tapi begitulah caranya setiap pagi dimulai belakangan ini dengan jeda kosong sebelum ingatan datang, seperti air yang menunggu bendungan jebol.
Dan kemudian ia datang. Selalu datang. Seperti air bah yang tidak bisa dihentikan siapa pun, termasuk aku.
Aku adalah Maskey XIII. Aku adalah Oskaren Terakhir. Aku pernah duduk di atas marmer yang begitu dingin sampai terasa seperti api marmer Oskath, diukir oleh tangan-tangan yang mati ratusan tahun sebelum aku lahir, dipoles oleh tangan-tangan yang akan mati ratusan tahun setelah aku tiada. Aku pernah memegang mahkota yang beratnya bukan pada logamnya, tapi pada setiap nama yang dipertaruhkan setiap kali aku memakainya. Aku telah membubarkan dua belas Veruk yang menjajah dua belas negeri dengan nama-nama indah dan niat busuk. Aku telah menemukan Pentavel, yang orang-orang katakan mustahil ditemukan, yang para pendahuluku habiskan seumur hidup mencarinya dan mati dengan tangan kosong. Aku telah menulis surat wasiat bukan untuk anak, karena aku tidak punya anak, tapi untuk generasi yang bahkan belum lahir saat aku menulisnya, generasi yang kuharap tidak akan pernah harus membaca kata-kata seorang raja yang gagal.
Karena itulah aku. Raja yang gagal.
Aku ingat bagaimana rasanya berdiri di ruang tahta yang kosong di malam terakhir, sendirian, setelah semua penasihat pergi, setelah semua yang kucintai mati atau pergi atau berubah menjadi sesuatu yang tak lagi kukenali. Aku ingat bagaimana rasanya tahu benar-benar tahu, dengan kepastian yang membuat perutmu berubah jadi batu bahwa semua yang kulakukan, semua reformasi yang kupaksakan, semua sistem yang kubangun dengan darah dan tahun-tahun umurku, akhirnya hanya melahirkan sistem baru yang sama busuknya, hanya dengan nama yang berbeda.
Aku gagal menyelamatkan dunia di kehidupan pertama.
Dan sekarang aku terbangun dalam tubuh seorang budak berusia tujuh belas tahun, di sebuah kamar yang lebih kecil dari kamar mandi yang dulu kumiliki, dengan bau amonia dan lumut dan laut yang tak peduli.
Aku mencoba duduk.
Tubuh ini kurus, tulang-tulangnya terlalu menonjol di bawah kulit, kaki yang gemetar hanya untuk menahan beban duduk bukan tubuh seorang raja. Ini tubuh yang sudah lama tidak diberi makan cukup, yang otot-ototnya dibentuk bukan oleh latihan pedang atau kuda, tapi oleh kerja paksa yang diulang setiap hari sampai tubuh berhenti protes karena tahu protes tidak ada gunanya. Kaki yang dulu berjalan di atas karpet merah menuju singgasana, sekarang gemetar menahan berat tujuh belas tahun yang kelaparan.
Aku tertawa. Pelan, nyaris tak bersuara, lebih mirip embusan napas yang patah di tengah jalan.
Lucu sekali, sebenarnya, kalau dipikir-pikir. Aku sudah menjadi segalanya yang bisa dijadi seorang manusia di dunia ini. Raja. Panglima. Pembuat hukum. Pemutus nasib jutaan orang dengan satu tanda tangan. Dan sekarang, di sini, di kamar yang baunya seperti kematian yang belum selesai, aku bahkan tidak tahu siapa namaku yang tertulis di dokumen mana pun.
Lalu, di depan mataku, sesuatu yang familier menyala.
Awalnya hanya cahaya biru pucat, seperti kabut tipis yang menggantung tepat di batas penglihatanku. Kemudian cahaya itu menajam menjadi garis-garis, menjadi kotak, menjadi huruf. Sebuah antarmuka bercahaya, melayang di udara tepat di depan mataku, seakan-akan diproyeksikan langsung ke retina atau mungkin ke sesuatu yang lebih dalam dari retina, ke bagian otak yang memutuskan apa yang nyata dan apa yang tidak.
Aku mengenalinya. Tentu saja aku mengenalinya. Aku pernah membangun ulang sistem ini dengan tanganku sendiri.
Norkath Kest.¹
Tapi ini bukan versi yang kutinggalkan. Ini versi baru. Lebih tajam, lebih dingin, dengan garis-garis yang lebih presisi seperti dibuat oleh seseorang yang tidak pernah membayangkan penggunanya bisa jadi manusia yang lapar dan sendirian.
─────────────────
NORKATH KEST REV. 2.0 TELAH DIAKTIFKAN²
Nama: Morekey (Tidak Terdaftar)
Wenar-Tir: Budak Pelabuhan [Lv. 1]³