Aku menghabiskan upah kerja hari pertama upah yang tidak ditahan, karena mandor rupanya sedang baik hati atau sedang malas menghitung untuk membeli sepotong roti keras dan segelas air yang rasanya lebih mirip air laut yang direbus daripada air minum. Aku memakannya sambil berdiri di depan gedung rendah dengan papan nama yang hurufnya separuh hilang itu, menatapnya seperti menatap musuh yang belum sepenuhnya kukenali bentuknya.
Kantor Registrasi Pelabuhan Sunyi. Begitu tulisan yang tersisa di papan itu, setelah aku berhasil menyusun huruf-huruf yang dimakan cuaca menjadi kata yang utuh.
Aku masuk sebelum matahari sepenuhnya terbit, berharap datang lebih awal berarti mendapat giliran lebih awal. Ini kesalahan pertamaku asumsi seorang raja yang terbiasa berpikir bahwa sistem, betapa pun buruknya, setidaknya bekerja dengan logika yang bisa diprediksi.
Ruangan di dalam sudah penuh.
Puluhan orang duduk di kursi-kursi plastik yang catnya mengelupas, berderit setiap kali seseorang bergerak, seolah kursi-kursi itu sendiri sudah lelah menampung berat penantian. Lampu neon di langit-langit berkedip tidak teratur, kadang terang, kadang meredup, menciptakan ritme yang membuat mata siapa pun yang menatapnya terlalu lama mulai berdenyut sakit. Bau karbol murahan bercampur keringat memenuhi udara karbol yang jelas dipakai bukan untuk membersihkan, tapi untuk menutupi bau yang lebih jujur di baliknya.
Di dinding, papan pengumuman besar bertuliskan huruf cetak rapi:
"Pelayanan adalah Kebahagiaan Kami."
Di bawahnya, seseorang entah siapa, entah kapan, mungkin seseorang yang sudah menyerah bertahun-tahun lalu telah mencoret dengan pulpen, hurufnya kasar dan dalam seperti ditulis dengan kemarahan yang ditahan lama:
"Kebahagiaan adalah saat kami pulang."
Aku hampir tertawa membaca itu. Hampir. Tapi di sudut ruangan, seorang ibu muda menangis pelan sambil menggendong bayi yang rewel, dan tidak ada satu pun dari puluhan orang di ruangan itu yang menoleh, seolah suara tangis sudah menjadi bagian dari latar, seperti dengungan lampu neon atau derit kursi plastik. Tawaku mati di tenggorokan.
Aku mengambil nomor antrean dari mesin kecil di sudut ruangan kertas tipis dengan angka yang dicetak buram, nomor 47. Layar digital di atas loket menunjukkan angka 12.
Aku duduk. Menunggu.
Tiga puluh lima orang lagi, pikirku, menghitung dengan bagian diriku yang masih menyimpan kebiasaan lama sebagai administrator kebiasaan menghitung, mengukur, memproyeksikan. Kalau setiap orang butuh waktu sepuluh menit di loket, itu berarti hampir enam jam menunggu. Kalau lima belas menit, sembilan jam.
Aku tidak tahu, saat itu, bahwa perhitunganku terlalu optimis.
Jam pertama berlalu. Layar bergerak dari 12 ke 15.
Jam kedua, dari 15 ke 19 karena loket ditutup selama empat puluh menit untuk "istirahat petugas," sebuah alasan yang diumumkan tanpa penjelasan lebih lanjut oleh seorang penjaga yang berdiri di depan pintu loket dengan wajah yang sudah lama kehilangan kemampuan untuk terlihat menyesal.
Aku mengamati orang-orang di sekitarku selama menunggu. Seorang lelaki tua dengan map cokelat lusuh di pangkuannya, membuka dan menutupnya berulang kali seperti memeriksa apakah isinya masih ada, meski ia sudah memeriksanya puluhan kali sebelumnya. Sepasang suami istri muda, saling berbisik dengan wajah tegang, mungkin membicarakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar dokumen mungkin bayi yang akan lahir dan butuh tercatat, mungkin tanah yang akan direbut kalau dokumen tidak selesai tepat waktu. Seorang anak muda seusia tubuh yang kutinggali sekarang, menatap kosong ke lantai, kaki yang bergoyang gelisah satu-satunya tanda bahwa ia masih hidup di dalam sana.
Semua orang di ruangan ini menunggu sesuatu yang seharusnya sederhana. Selembar kertas. Satu stempel. Satu tanda tangan. Dan semua orang di ruangan ini sudah belajar, dengan cara yang paling menyakitkan, bahwa kesederhanaan itu adalah ilusi yang dijual oleh papan pengumuman di dinding.
Ketika nomorku akhirnya dipanggil setelah delapan jam menunggu, setelah punggungku kaku dan perutku berbunyi protes karena roti pagi tadi sudah lama habis dicerna aku berdiri dengan harapan kecil yang bodoh, harapan yang sama yang kubawa sejak bara kecil menyala di dadaku semalam.
Petugas di balik meja kaca tidak menatapku. Matanya menatap layar di depannya, jarinya mengetik sesuatu dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan perhatian yang ia berikan.
"Keperluan?" tanyanya, datar, seperti sudah mengucapkan kata itu ribuan kali sampai kehilangan seluruh maknanya.
"Aku ingin mengurus Tassex," kataku.
Ia mendongak sedikit, hanya sedikit, cukup untuk menilai penampilanku pakaian lusuh, kulit yang menghitam karena kerja di bawah matahari, tangan yang sudah mulai kapalan meski baru sehari bekerja. "Kau Silombra?"
"Ya."
"Arnex Kethor?"⁷
Aku diam sebentar. Kata itu tidak asing aku sudah mendengarnya bertahun-tahun lalu, di kehidupan yang lain, meski dengan nama yang berbeda. Tapi dalam konteks ini, dalam tubuh ini, aku tidak tahu apa maksudnya secara spesifik.
"Aku tidak punya," jawabku jujur.
"Kalau begitu kau harus mengurus Arnex Kethor dulu," katanya, sudah kembali menatap layarnya, seolah percakapan ini sudah selesai baginya.
"Baik. Bagaimana caranya?"
"Loket sebelah. Nomor antrean baru."
Aku menahan napas sebentar, mencoba menahan sesuatu yang mulai naik di dadaku bukan kemarahan penuh, tapi cikal bakalnya, kelelahan yang mulai berubah jadi sesuatu yang lebih tajam. "Baik," kataku lagi, lalu berjalan ke loket sebelah, mengambil nomor antrean baru dari mesin yang sama, duduk kembali di kursi yang sama derit-nya.
Dua jam berikutnya berlalu. Nomorku dipanggil di loket kedua.
"Keperluan?"
"Arnex Kethor."
"Tassex?"
Aku menatapnya. "Aku ke sini karena aku tidak punya Tassex. Aku sedang mengurus Tassex di loket sebelah, dan mereka bilang aku butuh Arnex Kethor dulu."
Petugas itu perempuan dengan rambut diikat kencang, wajah yang tidak menunjukkan tanda-tanda pernah tersenyum dalam hidupnya menatapku dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya sepanjang hari ini, menunjukkan sesuatu selain kekosongan. Bukan simpati. Lebih mirip pengakuan diam-diam, seperti seseorang yang tahu persis apa yang akan terjadi dan tidak lagi punya energi untuk merasa bersalah karenanya.
"Untuk Arnex Kethor, kau butuh Tassex," katanya. "Itu prosedurnya."