Kartu Tassex itu tidak memberiku apa pun selain hak untuk diakui ada. Aku menyadarinya pada hari yang sama aku mendapatkannya, saat aku berjalan pulang melewati sumur umum yang dulu menurut ingatan tubuh ini, ingatan yang bukan milik Maskey XIII tapi milik Morekey yang sebenarnya dulu mengalir gratis untuk siapa saja yang membawa ember.
Sumur itu sekarang dikunci pagar besi, gemboknya berkarat tapi tetap kokoh, dan di depannya berdiri sebuah papan iklan besar bercat biru dan putih, warna yang terlalu cerah untuk lingkungan sekusam ini:
Kartel Air Lineth Naveth
Air Bersih, Air Terjamin, Air untuk Semua
(yang Mampu Membayar)
Kalimat terakhir itu ditulis lebih kecil, hampir tidak terbaca, seperti sengaja disembunyikan di antara kata-kata besar yang lain.
Di bawah papan itu, seorang penjaga bersandar malas di kursi kayu, sebuah keranjang berisi kupon-kupon air di pangkuannya. Satu kupon, satu ember. Harga satu kupon: setengah upah harian seorang budak pelabuhan.
Aku berdiri di sana cukup lama untuk menghitung dan bagian administratif dalam diriku, bagian yang tidak pernah benar-benar mati meski sudah seratus tahun berlalu, menghitung dengan kepahitan yang familier. Sepuluh kali lipat dari harga air standar yang pernah kutetapkan dalam kebijakan lama. Sepuluh kali lipat, dibebankan pada orang-orang yang penghasilan hariannya saja tidak cukup untuk membeli dua ember.
Aku melanjutkan langkah, membawa kelelahan tiga hari mengurus dokumen dan lelah bekerja di dermaga, menuju bilikku sendiri. Tapi sebelum aku sampai, sesuatu di sudut penglihatanku berkedip bukan status SILOMBRA yang sudah lama menghilang, tapi sesuatu yang baru, ikon kecil berwarna hijau pucat yang belum pernah kulihat sebelumnya.
─────────────────
[TELM 6 Air Bersih & Sanitasi]⁹
─────────────────
Aku berhenti di tengah lorong, menatap ikon itu dengan kening berkerut. TELM Target Pembangunan. Enam belas indikator yang dulu kususun di kehidupan lain untuk mengukur kemajuan sebuah negeri. Air Bersih & Sanitasi adalah salah satu yang paling sering kubicarakan dalam pidato-pidato, paling sering kujadikan janji kampanye, dan aku mengakuinya sekarang, dengan rasa malu yang datang terlambat seratus tahun paling jarang benar-benar tuntas di lapangan.
Sistem itu tidak menjelaskan lebih lanjut. Hanya ikon yang berkedip pelan, seolah menunggu sesuatu dariku, sesuatu yang belum kulakukan.
Aku tidak sempat memikirkannya lebih jauh malam itu. Tubuh yang lelah menuntut istirahat, dan aku menyerah padanya.
Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara tangis.
Bukan tangis bayi yang biasa kudengar dari kejauhan, yang sudah jadi bagian dari latar suara Pelabuhan Sunyi seperti dengungan lampu neon atau derit dermaga. Ini tangis yang lebih dekat, lebih pecah, suara seorang perempuan dewasa yang mencoba menahan isaknya tapi gagal.
Aku bangkit, melangkah keluar bilikku. Di lorong sempit di antara barisan bilik, tiga pintu dari tempatku, seorang perempuan muda mungkin usianya baru dua puluhan, meski wajahnya sudah menunjukkan garis-garis kelelahan yang biasanya milik orang yang jauh lebih tua duduk bersimpuh di ambang pintu biliknya, menggendong seorang anak kecil di pangkuannya.
Anak itu, mungkin berusia lima tahun, terbaring lemas di lengan ibunya. Wajahnya pucat kelabu, keringat membasahi rambut tipisnya yang menempel di dahi. Bibirnya pecah-pecah, kering sampai retakannya terlihat jelas bahkan dari jarak beberapa langkah. Napasnya pendek-pendek, cepat, seperti tubuh kecil itu bekerja terlalu keras hanya untuk melakukan sesuatu sesederhana bernapas.
"Ada apa?" tanyaku, berlutut di sebelah mereka meski aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan.
Perempuan itu mendongak, matanya merah, sembab, penuh keputusasaan yang sudah melewati batas air mata biasa. "Demam," katanya, suaranya serak. "Sudah dua hari. Aku sudah coba kompres, tapi..." ia berhenti, menelan sesuatu yang pahit, "...dia butuh minum yang banyak. Bukan air comberan yang biasa kami pakai. Air bersih. Tapi aku..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya mengangkat tangannya yang kosong, telapaknya terbuka, seolah menunjukkan bahwa di sanalah letak seluruh masalahnya: tidak ada apa-apa di tangan itu. Tidak ada kupon air. Tidak ada uang untuk membeli kupon air. Tidak ada apa pun selain seorang anak yang tubuhnya perlahan kehilangan cairan yang seharusnya mengalir gratis dari langit, tapi entah bagaimana dikunci di balik pagar besi dan gembok berkarat.
"Berapa harga satu ember?" tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.