Aku menghabiskan sisa pagi itu di gubuk Sari.
Bukan karena aku ingin tapi karena kakiku enggan membawaku pergi. Denu sudah bisa duduk tegak, meski masih bersandar ke tubuh ibunya. Warna di pipinya mulai kembali bukan sehat, tapi cukup untuk menggantikan pucat kelabu yang tadi membuatnya terlihat seperti mayat hidup.
"Kau harus makan," kataku pada Sari. "Kau juga belum makan, kan?"
Dia menggeleng. "Aku tidak bisa. Aku harus..."
"Duduk."
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku berjalan ke bilikku, mengambil sisa roti keras dari dua hari lalu, dan membawanya kembali. Roti itu sudah sekeras batu, tapi masih bisa dimakan kalau direndam air air yang sekarang kami punya cukup banyak.
Sari menerimanya dengan tangan gemetar. "Aku tidak tahu bagaimana membalas..."
"Kau tidak perlu membalas apa-apa." Aku menatapnya. "Kau hanya perlu makan."
Dia makan. Perlahan. Air mata mengalir di pipinya, tapi kali ini bukan isak tangis hanya kebasahan yang keluar dengan sendirinya, seperti air yang merembes dari dinding yang retak.
Denu tertidur di pangkuannya. Napasnya pelan, teratur, tidak lagi terengah-engah seperti tadi pagi.
Aku duduk di ambang pintu biliknya, memandangi lorong di antara deretan gubuk. Matahari sudah naik lebih tinggi, mengubah abu-abu pagi menjadi terik yang mulai menyengat. Beberapa tetangga masih berkumpul di dekat penyaring air yang kubangun, mengisi ember-ember mereka dengan tetesan jernih yang terus jatuh tanpa henti.
plok... plok... plok...
Suara itu entah kenapa menenangkan. Seperti detak jam yang sabar, seperti janji yang tidak pernah ingkar. Aku membiarkan diriku duduk di sana lebih lama dari yang seharusnya, membiarkan tubuhku yang lelah akhirnya beristirahat sejenak.
Aroma arang dan pasir basah masih melekat di pakaianku. Bau yang aneh, tapi jujur tidak seperti bau karbol di kantor registrasi, tidak seperti bau amonia di kamarku. Ini bau sesuatu yang nyata, sesuatu yang bisa disentuh.
Untuk beberapa jam, aku hampir melupakan bahwa ada sistem yang mengawasi setiap gerakanku. Aku hampir melupakan bahwa aku adalah mantan Silombra yang baru saja melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan.
Tapi Norkath Kest tidak pernah lupa.
Aku tidak tahu kapan persisnya perubahan itu terjadi. Mungkin saat aku mengangkat ember terakhir. Mungkin saat aku melangkah keluar dari bayangan seng berkarat. Mungkin saat aku menatap matahari yang sudah tepat di atas kepala.
Tiba-tiba saja, tanpa peringatan, sesuatu di sudut penglihatanku berkedip.
Awalnya hanya kedipan kecil, seperti lalat yang melintas di depan mata. Tapi kemudian ia membesar, berubah menjadi ikon, menjadi kotak, menjadi huruf-huruf yang kukenal dengan baik.
Norkath Kest.
Aku menatap layar yang melayang di depan mataku, dan untuk sesaat, aku tidak mengerti apa yang kulihat.
Kotak merah. Ikon peringatan. Bukan peringatan biasa ini sesuatu yang lebih berat, lebih dingin, lebih final.
─────────────────
[LOG UMARA -50]⁴
Status: Dikonfirmasi
Sumber: Pelabuhan Sunyi, Sektor Kesehatan Lingkungan
Kategori: Pelanggaran Prosedur Sumber Air Ilegal
Deskripsi: Pembangunan dan pengoperasian sumber air bersih (sumur/penyaring) tanpa sertifikat sanitasi dari Otoritas Air Lineth Naveth. Tidak melalui proses Verifikasi Kualitas Air (Verex A-204). Tidak memiliki izin pengelolaan sumber daya air (Verex W-112). Tidak terdaftar dalam sistem Tassex pemohon.
Catatan: Meskipun secara fisik menyelamatkan nyawa (1 anak, 3 dewasa, kondisi kritis), secara prosedural, tindakan ini adalah pelanggaran administratif yang tidak dapat ditoleransi.
Dampak: -50 Umara