Aku kembali ke gubuk Sari dengan langkah yang lebih berat dari sebelumnya. Bukan karena tubuhku lelah meski memang lelah tapi karena ada sesuatu di dadaku yang terasa seperti batu. Log merah itu masih berkedip di sudut penglihatanku, meski aku sudah berusaha mengabaikannya.
Tapi kemudian aku melihat Denu.
Anak itu duduk di pangkuan ibunya, matanya terbuka lebar, menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kujelaskan. Bukan rasa terima kasih anak seusianya belum mengerti konsep serumit itu. Ini lebih sederhana, lebih mentah, lebih jujur.
Ini adalah tatapan seseorang yang melihatmu sebagai bagian dari dunianya.
"Kak Morekey!" suaranya masih serak, tapi sudah jauh lebih kuat dari tadi pagi. "Kak Morekey datang!"
Aku berhenti di ambang pintu. Denu mengulurkan tangannya kecil, kurus, dengan bekas luka di pergelangan tangan yang mungkin dari tali tambat yang terlalu kencang. Tangannya menggenggam udara, memintaku mendekat.
Aku mendekat. Aku berlutut di sampingnya. Dan tanpa peringatan, anak itu meraih tanganku dengan kedua tangannya.
Tangannya dingin. Tapi genggamannya hangat.
"Kak Morekey," katanya lagi, seperti itu adalah satu-satunya kata yang ia tahu.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya menatap mata cokelatnya yang jernih, menatap bibirnya yang masih pecah-pecah tapi mulai memerah lagi. Dan kemudian dia tersenyum.
Bukan senyum besar. Bukan senyum lebay yang dibuat-buat. Ini senyum kecil, lemah, senyum seorang anak yang belum sepenuhnya paham apa yang baru saja terjadi padanya, hanya tahu bahwa rasa haus yang menyiksa tenggorokannya akhirnya reda.
Aku menatap senyum itu. Dan sesuatu di dadaku sesuatu yang sudah lama beku, sejak malam terakhir di ruang tahta kosong seratus tahun lalu retak sedikit, membiarkan sesuatu yang hangat merembes keluar.
Aku tersenyum juga.
Bukan senyum getir seperti FLOKFLOK yang biasa keluar dariku. Senyum yang lebih sederhana, lebih jujur, senyum yang mungkin belum pernah kurasakan sejak aku masih raja yang percaya bahwa dunia bisa diperbaiki dari atas meja kerja yang jauh dari kenyataan seperti ini.
Di belakangku, Sari terisak. Tapi kali ini isakannya berbeda bukan isakan keputusasaan, tapi sesuatu yang lebih ringan, lebih lega, seperti orang yang baru saja diberi napas kedua untuk hidupnya sendiri.
"Terima kasih," katanya, suaranya masih gemetar. "Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas ini."
Aku menggeleng. "Kau tidak perlu membalas apa-apa."
Aku masih berlutut di samping Denu, membiarkan tangannya menggenggam jari-jariku yang kotor dan kapalan. Anak itu tidak melepaskan. Ia memegangku seperti aku adalah satu-satunya hal yang pasti di dunianya yang penuh ketidakpastian.
Untuk pertama kalinya sejak aku terbangun di kamar berbau amonia itu, aku tidak sedang menghitung. Tidak sedang merencanakan. Tidak sedang mengukur setiap langkah dengan kewaspadaan seorang raja yang sudah dikhianati terlalu banyak kali.
Aku hanya duduk di sana, di lantai tanah yang becek, memegang tangan seorang anak kecil, dan membiarkan diriku merasakan sesuatu yang tidak bisa diukur oleh sistem mana pun.