Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena tubuhku tidak lelah tubuh ini sudah bekerja lebih keras dalam tiga hari terakhir daripada yang pernah dilakukannya dalam tujuh belas tahun hidup. Bukan karena aku tidak bisa tidur lantai tanah dan tikar anyaman yang robek sudah menjadi teman akrabku.
Aku tidak tidur karena pikiranku tidak mau berhenti.
Di atas tikar anyaman yang sama, di kamar yang sama dengan langit-langit berlumut dan bau amonia yang sama, aku berbaring dengan mata terbuka, menatap kegelapan. Di luar, laut masih memukul dermaga dengan ketukan yang sama. Tapi malam ini, ketukan itu tidak lagi terdengar seperti detak jantung yang menolak mati.
Ia terdengar seperti sesuatu yang menunggu untuk dimulai.
Di sudut penglihatanku, log merah Norkath Kest masih berkedip pelan. -50 Umara. Pelanggaran prosedur. Air ilegal. Ia masih di sana, setia seperti bayangan yang tidak pernah pergi.
Tapi aku tidak lagi melihatnya sebagai kekalahan.
Aku melihatnya sebagai pengingat. Bahwa sistem ini tidak akan berubah dengan sendirinya. Bahwa setiap tindakan baik akan dihukum. Bahwa satu-satunya cara untuk menang adalah dengan mengubah aturan permainan itu sendiri.
Aku memikirkan Denu. Anak itu tersenyum padaku hari ini. Tangan kecilnya menggenggam jariku, hangat dan dingin pada saat yang bersamaan. Aku memikirkan Sari, yang mulai berani berharap untuk pertama kalinya dalam dua musim. Aku memikirkan tetangga-tetangga lain yang datang membawa ember kosong, yang wajahnya mulai berubah dari keputusasaan menjadi sesuatu yang lebih hidup.
Aku memikirkan semua anak lain di Pelabuhan Sunyi. Anak-anak yang tidak punya Sari. Anak-anak yang tidak punya Morekey. Anak-anak yang sekarat karena sesuatu yang seharusnya bisa dicegah.
Aku memikirkan semua itu. Dan aku memutuskan sesuatu.
Fajar belum sepenuhnya terbit ketika aku bangun.
Langit masih abu-abu, masih dingin, masih basah oleh embun yang menggantung di udara. Aku berjalan ke luar bilikku, melewati lorong sempit di antara deretan gubuk, menuju tempat di mana penyaring air itu masih bekerja.
plok... plok... plok...
Air masih menetes. Masih jernih. Masih mengalir tanpa henti, tanpa izin, tanpa stempel.
Aku berlutut di sampingnya. Aku mengambil ember kecil yang sudah penuh, mencelupkan tanganku ke dalamnya. Dinginnya air menjalar ke ujung jariku, menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari kulit sesuatu yang mulai terasa hidup lagi.
Air yang tidak membutuhkan kupon. Air yang tidak membutuhkan izin. Air yang mengalir karena aku memutuskan untuk membuatnya mengalir.
Aku menatapnya lama sekali. Lalu aku berdiri.
"Morekey?"
Aku menoleh. Sari berdiri di ambang pintu gubuknya, Denu dalam gendongannya. Anak itu masih setengah tidur, kepalanya bersandar di bahu ibunya, tapi matanya sudah terbuka sedikit, menatapku dengan tatapan yang sama seperti kemarin.
"Kau sudah bangun," katanya. "Kau tidak tidur?"
"Aku tidak bisa tidur," jawabku jujur. "Pikiranku terlalu banyak."
Sari mengangguk. Di tempat seperti Pelabuhan Sunyi, setiap orang punya alasan untuk tidak bisa tidur.
"Kau mau sarapan?" tanyanya. "Aku punya sedikit nasi dari kemarin..."
"Aku tidak bisa. Ada sesuatu yang harus kulakukan."
Sari menatapku lama. Di matanya, ada campuran antara rasa terima kasih dan kekhawatiran, antara harapan dan ketakutan.
"Kau akan kembali?" tanyanya.
Aku tidak menjawab segera. Aku menatap Denu, yang kini mulai tersenyum padaku senyum kecil, lemah, tapi nyata. Aku menatap Sari, yang mulai berani berharap untuk pertama kalinya dalam dua musim. Aku menatap lorong di belakang mereka, di mana tetangga-tetangga lain mulai bangun, mulai bergerak, mulai menjalani hari yang sudah bisa mereka tebak isinya.
"Aku akan kembali," kataku akhirnya. "Tapi pertama, aku harus melakukan sesuatu."
"Apa?"
Aku tersenyum. Bukan senyum getir. Bukan senyum pahit. Hanya senyum sederhana, senyum yang tidak perlu diukur oleh sistem mana pun.
"Aku harus memutuskan. Apakah aku akan terus menjadi korban sistem ini, atau aku akan mulai melawannya."
Aku berjalan meninggalkan deretan gubuk.
Dermaga berderit di bawah kakiku. Kayu-kayu tua yang lapuk dimakan air asin, berjamur di sela-selanya, berderit setiap kali aku melangkah. Di bawahku, air laut berwarna kehijauan, tenang tapi berminyak, seperti tidak pernah benar-benar segar.
Bau garam. Bau minyak ikan. Bau sesuatu yang sudah terlalu lama tidak bergerak.
Aku berjalan ke tempat di mana aku pertama kali terbangun di kehidupan ini ke ujung dermaga, di mana dunia terasa lebih luas dan lebih sunyi dari yang seharusnya.