Biru

Mochamad Rozikin
Chapter #1

Musim gugur 2023 yang kelam. Setelah aku dan Hana Sabai kembali lagi ke Jepang.

“Dia tak pernah menemuimu dalam mimpi? Itu karena kau tak pernah menjadi mimpinya. Sadarlah! Kau sedang jatuh cinta sendirian…” Kutipan dari buku fiksi lama yang kubaca namun selalu kuabaikan, tapi hari ini aku memikirkannya dalam-dalam.

Aku sangat berantakan sekarang. Bagai daun-daun kering tertiup angin mengisi udara sore hari, terbang ke sana ke mari memenuhi takdirnya untuk gugur. Ujian akhir semester kali ini berakhir begitu berat karena sikap Hana semakin dingin padaku usai kami kembali lagi ke Jepang, atau lebih tepatnya usai aku terbangun dari mimpi indah bersama Hana Sabaiku di tepi pantai Samudra Hindia tempat matahari terbenam merekahkan bias jingga ke seluruh penjuru cakrawala. Bagai musim gugur yang kelam hingga rintik salju membekukannya, membekukan hati Hana Sabai dari perasaanku yang terus-menerus menuju padanya. Aku telah selesai mengungkapkan segala isi hatiku sebelumnya, namun Hana begitu lama berpikir dan memutuskan. Mungkin saja dia tak bisa menerimaku karena keluarganya, atau Hana hanya benar-benar menganggapku sebagai seorang sahabat, tak pernah lebih dari itu. Hana Sabai adalah pasir pantai yang pergi melalui sela jari-jariku ketika aku menggenggamnya semakin erat. Ya! Dia pasir pantai Samudra Hindia tempat kami bercengkerama sore itu.

Aku tak pernah lagi ikut acara liburan kampus. Sebetulnya memang hampir tak pernah, hanya satu atau dua kali yang kuingat. Apalagi saat Hana merajuk padaku seperti sekarang, rasanya ingin sekali menghancurkan seluruh dunia yang dipenuhi daun-daun merah berhamburan. Hari ini juga, aku lebih memilih pergi ke Kuil Koda-ji daripada harus menghadiri acara makan bersama membosankan di kampus yang dipenuhi senyuman dan kebahagiaan palsu yang terus berulang setiap tahun.

Aku adalah musim gugur jika diibaratkan sebagai sebuah musim di negara ini. Aku kelam dan dingin. Aku merah menyala, namun gugur. Aku tenang dan sepi. Aku hening tanpa suara. Aku adalah musim gugur yang membatasi antara udara panas dan dingin. Aku adalah musim gugur yang tak pernah diharapkan kehadirannya karena tak ada bunga sakura atau santapan musim panas yang lezat.

Kuil Koda-ji memiliki pemandangan musim gugur yang paling indah di antara tempat-tempat lain di Kyoto. Semua unsur dimiliki kuil ini. Pagoda, bangunan kuil atau shrine, taman batu, dan iluminasi yang indah. Berada di antara Kiyomizu-dera dan Yasaka membuat kuil ini sempurna, bukan? Tak seperti diriku yang berada di antara dua sisi, namun tak pernah jelas sisi sebelah mana yang menjadi wajah asli dan sisi sebelah mana yang menjadi penipu.

Aku bisa menghabiskan waktu seorang diri selama mungkin dalam dekapan musim gugur seperti ini. Memperhatikan helai demi helai daun-daun ginkgo dan momiji tanggal membuatku terkagum-kagum melihat keindahan alam dengan nuansa merah dan kuning memantul di kolam besar yang jernih dan tenang. Seandainya ibuku masih hidup, dia pasti akan sangat bahagia berada di sini. Seperti apa yang aku rasakan sekarang. Seharusnya dia tak perlu lagi menyiangi sayuran kemarin untuk dimasak dan diberikan padaku seperti orang memberi makan pada binatang peliharaannya.

Seorang gadis begitu bersinar dalam kelamnya musim gugur, merusak imajinasi yang sudah kubangun sedari tadi. Dia adalah Hana Sabai yang datang dari musim dingin dan membekukan aliran darahku. Untuk apa dia datang ke tempat seperti ini di petang hari menjelang malam? Apa dia sedang mencariku? Bukankah semenjak kepulangan kita dari Indonesia sikapnya berubah? Bukankah dia sedang menjaga jarak denganku? Bukankah Hana Sabai tak pernah menyukaiku? Bukankah kita hanya sebatas teman kecil saja?

“Hanaa? Hanaa...” Aku berteriak beberapa kali memanggil namanya yang indah, tak sanggup lagi menahan rindu yang terus menjadi beban pikiran hingga membuatku sakit kepala. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari gema suaraku, tentu saja. Pantulan bayangannya di dalam kolam tak kalah indah dan berkilau dari hiasan lampu-lampu dan iluminasi yang baru saja dinyalakan. Aku segera berlari padanya, ingin sekadar menyapa dan menanyakan kabar. Kalau-kalau benar dia mencariku. Kalau saja Hana Sabai telah mencintaiku seperti dia yang hidup dalam mimpi-mimpiku setiap aku terlelap.

Lihat selengkapnya