Marionette
“Le Vert” atau dalam aksen Jepang dibaca “Re-Ve-Re”. Huruf timbul dalam aksara Jepang Katakana[1] Yang berarti hijau dalam bahasa Prancis, masih memaku pada dinding gedung warna kuning gading tiga lantai yang biasa orang sebut dengan apato atau apartemen atau tempat tinggal sewa yang biasa dibayar per bulan atau per tahun.
Sejak lima belas menit yang lalu aku sudah berdiri tepat di depannya, di depan apato re-ve-re yang sudah kutinggali selama hampir empat tahun lamanya bersama saudara tiriku, Dika, yang tak kunjung turun dari lantai tiga kamar nomor tiga kosong dua tempat kami tinggal.
Sudah dua kali petugas kantor pos datang membagikan tagihan bulanan, entah listrik, air, atau gas, ke dalam setiap kotak pos sesuai dengan nomor urut kamar. Sekali, petugas pengantar paket juga datang mengirimkan sebuah kotak berukuran cukup besar ke lantai dua, hingga dia kesulitan melewati anak tangga karena kotak di pelukannya menghalangi pandangan. Dan entah berapa kali penghuni apato lain melewatiku untuk turun atau naik tangga menuju kamar mereka. Hampir semuanya mengatakan “Konnichiwa”, sapaan selamat siang, seraya menganggukkan sedikit kepalanya, namun kupalingkan wajah suramku pada dinding yang bertuliskan “Re-Ve-Re” tadi. Hanya satu orang Vietnam tetangga sebelah kamar yang kubalas dengan sedikit menarik ujung bibir, senyum simpul setengah hati.
Suhu udara berangsur naik. Cuaca akhir bulan Februari sudah tidak terlampau dingin. Terakhir, salju turun sepuluh hari yang lalu telah mengakhiri musim dingin tahun ini. Aku pun telah menggantung kembali jaket parka tebal dan syal musim dingin hari ini dengan hanya memakai kaos rajut dilapisi sweter tidak terlalu tebal. Langit di Jepang sudah terlihat biru jernih tanpa awan kelabu musim dingin yang menaburkan rintik salju hampir setiap hari di wilayah Kyoto. Kicau burung bulbul bersaut merdu menyambut musim semi yang sudah terasa di depan mata.
Hari ini, rencananya kami akan pergi ke Joyfull dekat pusat kota untuk memenuhi undangan perpisahan salah satu kawan seperjuangan yang akan pulang ke Indonesia karena telah menyelesaikan pendidikannya. Joyfull telah digemari orang Indonesia karena menjadi satu-satunya restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam dengan harga cukup terjangkau dan banyak pilihan menu makanan yang masih cocok dengan lidah orang Indonesia. Kita juga bisa menambah berbagai jenis minuman sepuasnya hanya dengan memesan satu kali. Orang Indonesia memang sangat menyukai hal seperti itu, bukan? Terutama kami para mahasiswa dengan penghasilan paruh waktu yang tidak seberapa dibandingkan dengan biaya kebutuhan hidup di Jepang yang seharga ponsel berlogo apel keluaran terbaru.
Setelah dua puluh menit aku bergeming di tempat yang sama, akhirnya Dika turun tanpa sedikit pun rasa bersalah. Kami sudah hidup bersama hampir delapan tahun lamanya sejak kenaikan kelas tiga SMP, sehingga hal seperti ini tidaklah aneh bagiku. Dia sudah duduk di atas sepeda dan mulai mengayuhnya ketika aku baru akan menegurnya. Aku segera berlari mengambil sepedaku yang masih berada di parkiran dan bergegas menyusul. Kami pergi menuju stasiun Kiyomizu-Gojo untuk menuju pusat kota Kyoto menggunakan kereta listrik. Sebenarnya jarak dari apato ke stasiun hanya lima belas menit dengan jalan kaki yang takkan sampai membuat kami berkeringat saat cuaca masih cukup dingin seperti sekarang. Tetapi Dika memang lebih sering memakai sepeda dengan alasan tidak ingin membuang banyak waktu, tanpa berpikir bahwa dia selalu membuat waktuku terbuang karena menunggunya. Bahkan hampir setiap hari selama aku hidup bersamanya.
Meski kayuhan sepeda telah mengantarkan kami sampai stasiun, kami masih harus menunggu Hana dan temannya yang sedang dalam perjalanan, dan mereka mengatakan bahwa mereka akan tiba sebentar lagi. Aku masih tak ingin berkata apa pun tentang mereka yang sudah cukup lama tinggal di Jepang tetapi masih selalu tak tepat waktu, meskipun sebenarnya di dalam dadaku seperti ada daging tumbuh yang kian membesar dan membuat napasku begitu sesak ketika membuat janji dengan mereka. Tapi tetap saja aku tak pernah bisa mengeluarkan apa pun yang selalu menganjal dalam hatiku kecuali dengan cara diam dan merelakan.
Hana dan temannya datang setelah delapan kali auman kereta mengganggu telingaku. Segala yang mengganjal dalam hati sebelumnya telah luruh seketika saat menatap paras cantiknya yang seakan musim semi datang lebih cepat. Rambutnya terus terbang ringan tertiup hembusan angin sejuk dari barisan pohon ginkgo yang mulai tumbuh daun-daun baru. Bibir merah mudanya tersenyum lebih cantik daripada kelopak bunga sakura sekali pun, setelah matanya yang berbinar bagai bulan purnama menatap kami. Entah apa yang sedang dia bicarakan dengan temannya hingga terlihat bagai pertunjukan alam yang begitu menawan. Mereka mendekat pada tempatku dan Dika berdiri. “Hai, Dik, maaf lama.” Sapanya pada Dika lebih dulu. “Dik, maaf ya!” Baru kemudian padaku begitu singkat seolah dia mengerti betul aku tak pernah marah padanya. Dan selalu kubalas dengan senyuman terbaik yang kupunya belum pernah kuberikan pada siapa pun hingga saat ini. Aku selalu mengatakan itu pada diriku sendiri.
Kami segera berjalan menuju peron, kemudian lekas menaiki kereta ke arah stasiun Kyoto yang berjarak tiga belas menit, melewati empat pemberhentian dan satu kali berpindah kereta. Selama itu, selalu kucuri pandang paras gadis asli Minangkabau yang pernah menjadi malaikat penolong di kehidupanku yang lampau. Aku selalu menyebutnya berlian di antara mutiara hitam yang terpendam. Namun, Hana sepertinya selalu menganggapku sebatas teman masa kecil atau seorang penjaga, tak pernah lebih dari itu.
Sampai di Stasiun Kyoto, kami berjalan menyusuri pusat kota menuju Joyfull. Dika, Hana, dan temannya memiliki dunianya sendiri dalam keramaian dan berbincang tentang banyak hal, berjalan lebih cepat di depanku dengan tawa terbahak hingga kudengar beberapa kali. Sedangkan aku selalu berjalan seorang diri di belakang mereka seakan dunia kita memang terpisah oleh dinding besar yang tak pernah bisa ditembus. Berdialog bersama angin musim dingin yang mengucapkan salam perpisahan, menyapa kuncup bunga ume yang mulai terlihat memutih dan merah muda menyambut datangnya musim semi, dan masih menikmati Kota Kyoto yang penuh bangunan kuil meski telah lama tinggal di sini. Sebenarnya bukan tak ingin berbaur dengan mereka, tapi kerap kali aku membuat suasana perbincangan menjadi aneh ketika mencoba menjadi apa yang biasa mereka lakukan.
Empat orang melambaikan tangan pada kami dari depan Joyfull. Mereka adalah teman-teman seperjuangan kami di Faculty of Human and Environmental di Universitas Kyoto. Fikri mengundang kami untuk merayakan kelulusannya dan akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Dia menyelesaikan pendidikannya hanya dalam waktu tiga tahun. Aku sangat iri padanya karena bisa menjalani kehidupan sesuai dengan yang dia rencanakan. Dika, Hana, dan temannya berlari menghampiri mereka seakan begitu akrab, sementara aku masih berada pada langkah-langkah kecilku mengukur jalan menuju restoran oranye berbau daging panggang itu. Mereka segera masuk tanpa menungguku sampai. Itu juga sudah biasa terjadi dan aku tidak pernah keberatan sedikit pun. Sampai aku mendorong pintu restoran yang membuat lonceng kecil berdenting, Dika melambaikan tangan memberi isyarat di mana mereka duduk. Aku segera bergabung, duduk di samping Dika, dan berhadapan dengan teman Hana. Mereka sibuk memilih menu makanan, membalik halaman buku menu, dan mengulangi lagi dan sekali lagi belum menemukan menu yang pas, padahal hanya ada berbagai macam olahan steak sapi dan ayam. Dika sudah menuliskan menu yang aku suka dan pasti akan kupilih: steak sapi dengan kentang goreng dan minuman yang dapat diisi ulang sepuasnya, tentu saja.
Fikri mulai dengan pidato perpisahannya. Semua berteriak bersama-sama mengangkat gelas dan bersulang, termasuk aku mengikuti gerakan mereka meski tanpa suara, bagai boneka marionette yang hanya bergerak mengikuti tali yang ditarik. Mataku melirik menuju paras Hana sekali lagi yang masih terlihat sangat menawan. Bahkan keringat tak pernah menghapus warna kulit putihnya yang selalu terlihat selembut salju. Dan bahkan bunga mawar yang sedang mekar tak bisa menandingi keindahan paras Hana sekali pun. Dika berdiri lalu menyuruh semua orang diam setelah acara pembukaan selesai. Dia meraih tangan Hana yang duduk tepat di depannya untuk berdiri. Hana mengikuti apa yang dimohon oleh Dika.
“Hana-Chan. Boku aishuru Anata. Hajimete aimashita kara.” Dika menyatakan cinta kepada Hana. Dia mengatakan telah mencintai Hana sejak pertemuan pertama. Semua orang terkejut dan berteriak terlihat sangat gembira seakan drama perpisahan berubah seketika menjadi kisah percintaan yang romantis. Hana menutup wajahnya dengan kedua tangan, membuatku tak bisa menyaksikan ekspresi wajahnya. Aku menundukan wajahku dan terpejam, kepala seakan berputar, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori dan menetes dari dahi melewati mata hingga sampai ke pipi. Aku sudah tahu sejak awal bahwa Dika menyukai Hana, tapi siapa yang menyangka dia akan menyatakan secepat ini tanpa memberitahuku lebih dulu. Bukankah Dika tahu aku telah hidup jauh lebih lama bersama Hana dibandingkan dengan dia? Ini benar-benar terlihat seperti sebuah pengkhianatan. Karena seharusnya Dika bisa menunggu sampai kita lulus agar tidak terlalu terlihat menusuk saudara tirinya sendiri dari belakang seperti yang ayahnya lakukan pada ibuku. Atau dia takut aku lebih dulu menyatakan perasaanku pada Hana dan Hana menerimaku sebagai kekasihnya? Atau Hana telah mengatakan kepada Dika bahwa aku telah mengungkapkan segala isi hatiku? Aku masih bergeming di tempat dudukku tanpa mendengarkan lagi apa yang masih mereka bincangkan. Hanya mataku terus melirik terpusat pada Hana, menunggu dia membuka tangannya dan menjawab ungkapan isi hati Dika.
“Terima, terima, terima, terima.” Teriakan semua orang serentak mengagetkanku dari keheningan isi kepala yang riuh menunggu Hana menjawab.
“Aku akan menjawab ketika bunga ume sudah mekar.” Suara lembut Hana sedikit melegakan, setidaknya sampai musim semi benar-benar tiba. Tapi selama menunggu bunga ume mekar, perasaanku pasti akan terus gelisah dan ketakutan. Dari satu sisi, aku ingin Hana menolak perasaan Dika karena akulah yang akan menjadi kekasihnya kelak. Di sisi lain, aku tak akan tega melihat Dika mendapat penolakan dari seorang yang dia cintai. Mau bagaimanapun, Dika sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri dan kami telah melewati banyak hal bersama. Tapi seharusnya tetap aku yang memenangkan pertarungan ini. Seseorang tak boleh kalah dua kali dengan lawan yang sama, bukan? Aku tak akan kalah, dengan Dika atau pun ayahnya. Aku pasti akan memenangkannya. Jika aku kalah, maka tak akan pernah ada yang memenangkannya, siapa pun itu, Dika atau Tuan Rustam Effendy.
Tapi kenapa, Hana? Kenapa kau memberi waktu pada Dika untuk menjawab pertanyaannya sedangkan padaku tidak, seakan semua yang kuungkapkan dengan sungguh-sungguh dari lubuk hati yang paling dalam tak ada artinya bagimu. Apa artinya aku di hidupmu, Hana Sabai? Mengapa kau melakukan ini? Mengapa kalian semua menyiksa jiwaku terus-menerus? Tidakkah kau, Hana Sabai, memberiku kesempatan untuk bahagia bersamamu? Mengapa harus Dika yang kau luangkan waktu berharga-mu untuk berpikir? Sudahlah, tak ada gunanya lagi memikirkan semua ini. Lagi pula hidupku sudah hancur sejak lama.
Semua orang masih pada tempat duduk masing-masing. Pertunjukan drama perpisahan Fikri dan percintaan Dika telah usai. Dalam sekejap, semuanya menjadi hening. Pelayan mengantarkan nampan berisi cawan-cawan panas dengan steak terpanggang lengkap dengan perlengkapan makan. “Douzou” Kata seorang pelayan mempersilakan dengan tangan meletakkan makanan di meja. Setelah semua peserta pesta menerima pesanan, mereka sibuk menyantap hidangan tanpa banyak suara kecuali bunyi garpu dan pisau pemotong daging.
Hatiku masih terus gelisah mencuri pandang paras Hana yang sedang menikmati hidangannya. Bibirnya mengecap lembut sementara tangan kirinya berkali-kali mengembalikan rambut yang terjuntai dari telinga ke pipi. Perasaanku begitu kalut menebak-nebak apa yang ada di dalam isi hati gadis paling cantik yang pernah aku temui ini. Mengapa harus menunggu bunga ume mekar untuk menjawab pertanyaan yang dia sudah tahu jawabannya? Hana pasti sedang menyiapkan sesuatu untuk Dika. Atau Hana sedang menyiapkan kata-kata yang pantas untuk menolak perasaan Dika karena dia tak mungkin mengatakannya di depan umum. Yang jelas apa pun itu, aku adalah orang yang paling harus menyiapkan segala perasaanku untuk menerimanya. Aku tak boleh hancur karena ini. Meski aku sudah berkali-kali hancur.
Piring-piring mulai kosong. Mereka mulai bergantian mengambil minum di bar dekat kasir. Gelasku masih penuh. Dika menyuruhku meneguk sekaligus agar dia bisa membawa gelasku untuk diisi kembali. Kami terlihat sangat wajar di depan umum, bukan? Jadi aku tak perlu iba padanya. Ibunya memang selalu menyuruh Dika untuk saling berbagi denganku, meskipun aku begitu dingin, sunyi, dan sesekali menjadi duri. Aku tahu Hana menatap kami bergantian saat mataku melirik ke kiri, ke tempat dia duduk. Aku rasa dia risau untuk memilih dan menentukan yang pantas untuk dia jadikan kekasih. Apa pun yang terjadi sore ini, bagiku hanyalah seputar Dika yang menyatakan cintanya pada Hana. Itu lebih menakutkan daripada kejadian sembilan tahun yang lalu ketika aku dibawa pergi meninggalkan tanah tembikar yang mengubur mutiara hitam dan berpisah dengan Hana, sang matahari terbit yang menerangi gelapnya rimba waktu subuh.
Satu per satu bergantian memeluk Fikri setelah dia membayar tagihan makan di kasir. Aku juga, hanya dengan dua kata pendek “Semoga sukses” tanpa basa-basi dengan kalimat nasihat seperti yang lain. Aku bergeming pada kakiku berdiri menunggu mereka menuntaskan sebuah drama perpisahan, di depan pintu Joyfull dengan lonceng yang masih terus berdenting ketika seseorang melewatinya. Hana Sabai juga berdiri di sana dengan menawan mengabaikan perasaanku yang terus bergejolak.
“Bagaimana menurutmu? Aku janji akan membahagiakan Hana untukmu.” Dika menyeret tanganku, tiba-tiba merangkul sambil berbisik. Aku memaksa bibirku tersenyum untuknya sebagai ucapan turut berbahagia, meski terlalu cepat karena Hana belum memberi jawaban. Bukankah dia tampak seperti seorang yang sedang menusuk kakaknya dari belakang? Aku pikir dia tak akan melakukan hal seperti ini karena telah menganggapku sebagai seorang saudara. Maksudku, saudara yang sebenarnya. Acara pesta yang aneh telah selesai. Kami pergi meninggalkan Joyfull begitu saja. Mungkin juga aku akan segera melupakan Fikri yang telah mentraktirku sore ini karena pikiranku telah dipenuhi nama Hana Sabai.
“Aku ingin pergi ke sana sebentar!” Hana menarik tangan temannya yang sampai saat ini aku tak ingat siapa namanya, dan berlari menuju sebuah taman. Dalam perjalanan kembali menuju stasiun Kyoto, Hana membawa kami ke taman dekat stasiun. Dia ingin kami melihat iluminasi sekali lagi sebelum ditanggalkan karena berakhirnya musim dingin. Semua langkah kaki mengikuti kemana Hana berjalan bagai sekumpulkan pengawal yang mengikuti tuan putri. Hana mendekat pada sebuah taman megah dengan hiasan lampu-lampu iluminasi musim dingin yang membentuk garis-garis panjang di langit, lingkaran, atau karakter binatang dan bunga. Semua memenuhi taman bak cerita dalam dongeng. Dia memang sangat menyukai iluminasi musim dingin semenjak tiba di Jepang. Aku paham betul hal itu seperti aku memahaminya ketika dia menari di tengah hujan karena masa kecil kami tinggal di tanah yang tandus. Tapi mengapa aku tak pernah bisa memahami siapa orang yang dia sukai? Kadang aku merasa Hana terlihat begitu perhatian dan lembut padaku, kadang juga pada Dika. Itu benar-benar menyiksa hatiku selama ini. Menebak-nebak isi hati Hana sangatlah menakutkan.
Dika, Hana, dan temannya terlihat begitu gembira menikmati iluminasi, bergurau, dan tertawa lagi dan lagi. Mengambil gambar bergantian, sedangkan aku memilih duduk di ayunan anak-anak tanpa ada yang mengayun sambil memperhatikan apa yang mereka lakukan seperti seorang pengasuh. Aku tak ingin luput sedikit pun dari adegan malam ini. Aku tak ingin Dika semakin membuat Hana jatuh cinta padanya. Aku tak ingin. Benar-benar tak ingin. Angin malam masih terlalu dingin untuk menghangatkan otak yang hampir tak bisa berpikir dengan jernih. Membeku terus-menerus karena luka-luka yang tak pernah sembuh namun terus ditambah.