Biru

Mochamad Rozikin
Chapter #3

Di sekolah baru bersama Dika, hari pertama aku memperkenalkan diri sebagai kemenakan Tuan Rustam Effendy

Aku telah meninggalkan jasad ibuku yang telah terkubur di dalam tanah tembikar, dan pastinya terkubur lagi dengan semak belukar. Tuan Rustam memaksaku untuk menjadi seorang pengkhianat karena memang dia adalah seorang pengkhianat. Aku tak bisa melawannya dan tetap pergi bersamanya saat dia membawaku. Aku tak punya kekuatan apa pun bahkan untuk membantahnya.

Hari-hari di sini lebih sering disambut dengan gerimis jika dibandingkan dengan di tanah tambang yang hampir selalu kering. Di sana matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lama dengan terik yang sangat membakar kulit kami.

Hari pertama aku berada di dalam kelas bersama Dika dan teman-temannya. Hari pertama aku tak bisa mengenali diriku sendiri. Dika bahkan membiarkanku kebingungan bagai anak ayam kehilangan induk. Dia membiarkanku begitu saja sampai datang seorang guru memintaku berdiri di depan untuk memperkenalkan diri. Bagaimana aku harus mengenalkan diriku yang sangat hancur ini? Sebagai siapa aku harus memerankan sandiwara yang dibuat oleh Tuan Rustam Effendy? Haruskah aku mengungkap siapa diriku yang sebenarnya sekarang? Aku masih terlalu muda untuk melawan Tuan Rustam Effendy. Orang-orang hanya akan menganggapku tak waras jika aku bercerita siapa Tuan Rustam Effendy dan Dika sekarang.

“Ayo, silakan ke depan perkenalkan diri.” Ibu guru mengulang perintahnya sekali lagi dengan nada yang ditinggikan. Apakah dia juga ingin tahu siapa aku? Apakah semua orang ingin menertawakan seorang anak tidak sah yang ibunya telah mati mengenaskan? Seorang anak yang tidak mengetahui siapa ayahnya padahal dia tinggal dalam satu atap. Entah siapa sebenarnya yang harus disalahkan dalam situasi seperti ini.

Lihat selengkapnya