Di sekolah baru bersama Dika, hari pertama aku memperkenalkan diri sebagai kemenakan Tuan Rustam Effendy
Aku telah meninggalkan jasad ibuku yang telah terkubur di dalam tanah tembikar dan pastinya terkubur lagi dengan semak belukar. Tuan Rustam memaksaku untuk menjadi seorang pengkhianat karena memang dia adalah seorang pengkhianat. Aku tak bisa melawannya dan tetap pergi bersamanya saat dia membawaku. Aku tak punya kekuatan apa pun bahkan untuk membantahnya.
Hari-hari di sini lebih sering disambut dengan gerimis jika dibandingkan dengan di tanah tambang yang hampir selalu kering. Di sana matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lama dengan terik yang sangat membakar kulit kami.
Hari pertama aku berada di dalam kelas bersama Dika dan teman-temannya. Hari pertama aku tak bisa mengenali diriku sendiri. Dika bahkan membiarkanku kebingungan bagai anak ayam kehilangan induk. Dia membiarkanku begitu saja sampai datang seorang guru memintaku berdiri di depan untuk memperkenalkan diri. Bagaimana aku harus mengenalkan diriku yang sangat hancur ini? Sebagai siapa aku harus memerankan sandiwara yang dibuat oleh Tuan Rustam Effendy? Haruskah aku mengungkap siapa diriku yang sebenarnya sekarang? Aku masih terlalu muda untuk melawan Tuan Rustam Effendy. Orang-orang hanya akan menganggapku tak waras jika aku bercerita tentang siapa Tuan Rustam Effendy dan Dika sekarang.