Biru

Mochamad Rozikin
Chapter #4

Hujan mulai tergantikan oleh terik yang mengeringkan daun dan ranting. Pada tahun 2014 saat aku memulai kehidupan baru di pinggiran Kota Bandung.

Dari Balik Tirai

Takdir tak pernah menjadi lebih baik untuk hidupku. Dia hanya memindahkanku dari satu penjara ke penjara yang lain. Tuan Rustam bagai malaikat yang memegang kendali keberlangsungan hidupku yang tak pernah memberikanku kesempatan untuk memilih jalanku sendiri.

Setelah kenaikan kelas dua sekolah menengah pertama. Mimpi ibuku akhirnya terwujud. Tuan Rustam membawaku pergi dari Jambi dan memberiku kehidupan dan pendidikan yang baik agar aku memiliki masa depan layaknya anak-anak seusiaku. Tapi mimpiku untuk membawa ibuku keluar dari tempat itu telah terkubur bersama jasadnya dan tak akan pernah menjadi kenyataan. Hana Sabai masih berada di sana, di dalam dunia gelap yang menyedihkan dan sangat kelam. Aku meninggalkannya seorang diri. Dia telah menjadi bunga teratai yang indah meski tumbuh di atas lumpur yang menjijikan sekali pun.

Aku memulai kehidupan baru setelah meninggalkan ibuku begitu jauh. Hari-hariku di sekolah baru bersama Dika berjalan dengan cukup baik meski tanpa kesan apa pun kecuali kebencian yang semakin mendarah daging pada Tuan Rustam Effendy. Setelah beberapa lama tinggal bersama mereka, aku semakin menyadari bahwa Dika tak memiliki isi kepala yang cukup untuk bisa dikatakan sebagai anak cerdas di sekolah. Oleh sebab itulah Tuan Rustam Effendy membawaku ke rumahnya. Aku dijadikan sebagai alat untuk membuat anak-anaknya terlihat cerdas di lingkungan sosial mereka yang sepertinya terus-menerus melihat ke atas. Dia hanya ingin menyelamatkan keluarganya dari hujatan. Dia tak ingin dipandang rendah oleh orang lain. Tuan Rustam tak pernah sama sekali ingin menyelamatkan hidupku, karena seharusnya dia bisa membawaku jauh lebih dulu sebelum ibuku pergi. Seharusnya dia membawa kami dan memberi kami kehidupan yang layak, bukan seperti ini.

Matahari dan bulan berada di langit yang sama, namun tak pernah saling bertemu, tak pernah bisa saling mengejar. Begitulah aku dan Dika. Aku menjadi matahari yang terus memberikan sinar padanya hingga terlihat terang dan indah saat malam hari. Aku menjadi matahari yang selalu merindukan tempat gelap yang dimiliki Dika. Dika adalah bulan yang selalu dikelilingi bintang-bintang hingga menjadi sebuah pemandangan menakjubkan malam hari. Dia diagungkan, dipuja, dan selalu menjadi pusat perhatian. Sedangkan matahari, tak ada yang ingin menatapnya meskipun dia telah memberi cahaya dan menerangi dunia sekali pun.

Di rumah penjara Tuan Rustam Effendy, dan seiring berjalannya waktu, dengan sendirinya kami semakin saling mengerti kebiasaan masing-masing. Aku dan Dika tidur dalam satu kamar, namun tirai membatasi ruang gelap untukku dan sisi terang untuk Dika. Mejaku berisi tumpukan buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan atau kubeli di Palasari, tempat membuang dan memungut kembali buku-buku berisi ilmu. Sementara mejanya kosong, hanya beberapa lembar buku tulis tanpa identitas.

“Dik, sudah tidur?” Tanya Dika dari balik tirai yang menghalangi kami. Hal seperti itu telah menjadi kebiasaan buruknya.

“Belum, kenapa?”

“Aku lupa mengerjakan PR. PR-nya sangat sulit”

“Sudah aku kerjakan semua.”

“Terima kasih, aku hanya memastikan itu saja.”

“Hmm. Tak perlu sungkan. Ayahmu membawaku ke rumah ini untuk itu.”

Begitu dialog kami sehari-hari menjelang tidur. Di sekolah, aku terus melindungi Dika dari tugas-tugas sekolah dan ujian yang tak pernah bisa dia hadapi sendiri, sedangkan Dika melindungiku dari kerumunan orang-orang dan acara sosial yang tak pernah menjadi bagian dari diriku sedikit pun hingga sejauh ini.

“Dikta, kamu ikut acara nanti sore, kan?” Seorang kawan berteriak padaku saat jam istirahat, membuat jantungku berdebar, namun aku tak tahu ke mana harus menghindarinya.

“Dia tidak akan ikut. Dia harus menjemput ibuku nanti. Jangan mengganggunya!” Dika menjawabkan untukku. Dia sangat mengerti aku tak bisa menolak sebuah ajakan meski tak pernah ingin pergi bersama mereka.

“Terima kasih, Dik.”

“Terima kasih juga karena telah menumpahkan cat air di tumpukan tugas anak-anak. Jadi semuanya mengulang mengerjakan.” Jawab Dika memuji kecerdikanku. Dia paham betul aku yang melakukan itu saat tak ada seorang pun di kelas. Aku tahu tak ada karya milik Dika di tumpukan tugas-tugas itu. Dia belum mengerjakannya karena menungguku. Tanpa disadari, kami selalu berkompromi tentang banyak hal untuk bertahan hidup, tapi aku masih tak ingin sama sekali berterima kasih padanya karena aku terus merasa pantas untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari ini.

Rumah ini seharusnya bisa menjadi tempat yang nyaman untukku. Tempat untuk seorang anak tumbuh menjadi dewasa meski bersama keluarga yang tak semestinya. Seandainya aku bisa memaafkan masa lalu Tuan Rustam Effendy dan berdamai dengan keadaan. Tapi jika itu aku lakukan, seakan-akan aku telah mengkhianati ibuku, bukan? Kini dia telah menjadi tanah yang ditumbuhi belukar lebat tanpa ada yang merawat pastinya. Karena itu, aku memutuskan untuk tetap pada batasan menjadi orang asing di dalam keluarga cemara ini. Dengan perasaan terkurung, namun tak pernah tahu apa yang mengurungku sebenarnya. Aku hanya akan terus menjadi benalu yang terus tumbuh hingga membuat pohon cemara ini mati. Kita semua akan mati mengenaskan bersama. Tak ada yang boleh hidup bahagia hingga akhir di antara kita semua di sini, entah aku, Tuan Rustam dan istrinya, atau pun Dika dan adiknya, Diza. Kami harus hancur bersama-sama kelak.

Suatu hari Bibi mengadakan acara ulang tahun untuk Diza saat usianya menginjak empat tahun. Mungkin saja dulu Dika juga dibuatkan perayaan yang sama. Sedangkan aku terus meratapi umurku di dalam segala keterbatasan ibu yang seharusnya bisa diubah oleh Tuan Rustam Effendy seperti yang kulihat saat ini. Tuan Rustam Effendy benar-benar tak pernah ingin memerdekakan kami sedikit pun. Atau setidaknya tidak menyiksa kami di sana.

Aku duduk di antara anak tangga menuju kamar kami di lantai dua, dipenuhi perasaan iri yang mencekik hingga membuatku sulit bernapas. Menyaksikan orang-orang berdatangan menghadiri pesta di ruang tengah. Sangat meriah dan mewah. Warna-warni balon tersebar di seluruh ruangan. Hiasan pita menjuntai memenuhi setiap sudut rumah bagai akar pohon beringin. Kue ulang tahun bersusun tiga dengan lilin angka empat menjadi puncaknya. Keluarga yang utuh dan harmonis. Dilengkapi dengan seorang badut yang menuntun jalannya acara pesta. Rasanya, perasaan dengki makin tak terbendung dalam hatiku. Aku bahkan tak ingin anak-anak dari Tuan Rustam merasakan kebahagiaan. Mereka harus merasakan apa yang pernah kurasakan dulu. Tuan Rustam harus menderita dan mati dalam nestapa sama persis yang ibuku rasakan.

Akalku tak berhenti berputar untuk menghancurkan acara pesta. Memikirkan apa yang bisa aku lakukan untuk paling tidak membubarkannya dengan segera, atau sesuatu yang bisa menyematkan kenangan buruk pada Diza bahwa acara pesta ulang tahunnya pernah menjadi yang terburuk sepanjang hidupnya kelak. Kepalan tanganku bergetar saling menggenggam menahan rasa dengki yang telah merasuki sekujur tubuh hingga otak ini tak bisa lagi berpikir jernih.

Aku keluar melalui jendela kamar di lantai dua dengan mengikat beberapa tirai kelambu menjadi satu setelah aku menariknya dengan paksa. Kemudian aku mengikat ujung tirai dengan ranjang lalu membuang ujung lainnya keluar jendela. Tanpa rasa takut sedikit pun karena kebencian telah menyelimutiku, aku melompat dengan melilitkan tanganku ke tirai itu. Lalu aku pergi ke dapur melalui pintu belakang. Tak berpikir lama karena tak ingin seseorang datang ke dapur dan melihatku. Aku memotong bagian tubuh cecak menjadi beberapa bagian. Mengambil ulat yang bersarang di pohon mangga belakang rumah dan kotoran apa pun yang terlihat menjijikan di sana. Kemudian membaginya pada kardus-kardus berisi makanan yang akan dibagikan kepada para tamu. Rasanya, hal kecil seperti itu akan cukup untuk membuat kacau acara ulang tahun anak-anak. Aku segera kembali tanpa ada seorang pun yang menyadari. Sayangnya, memang keberadaanku tak pernah mereka sadari dengan sungguh-sungguh di sini meski aku adalah ancaman bagi mereka.

Permainan demi permainan terus disuguhkan oleh sang badut. Anak-anak terus tertawa riang, membuat ulu hatiku terasa nyeri. Nyanyian anak-anak yang terasa asing di telingaku terus diputar bergantian. Aku terus mengurai bagian mana dari acara ini yang menyayat-nyayat tubuhku hingga pada akhirnya bibi pergi ke dapur untuk mengambil kotak nasi yang akan dibagikan pada anak-anak setelah cukup lama aku mengintai dari sela-sela pagar tangga.

“Haaaa...” “Aaaaa.” “Mama...” Anak-anak mulai riuh ketakutan setelah membuka kotaknya. Mereka histeris berhamburan mengacaukan irama acara ulang tahun. Permainan terakhir aku persembahkan untuk Diza, adik tiri kesayangan. Sekaligus menjadi kado ulang tahun untukmu, Diza. Semoga otakmu merekam kejadian memalukan dan penghinaan ini. Aku sudah bekerja keras sampai harus turun dari jendela, Diza. Bersukarialah atas pemberian saudara tirimu ini.

Semua anak berlarian mencari orang tuanya setelah melihat ekor cecak menggeliat di atas ayam goreng dengan sedikit darah yang menetes. Atau potongan kepala dengan mata terbuka dan sedikit darah bercampur nasi. Atau ulat yang menari di dinding-dinding kardus, bahkan kotoran ayam yang menjijikan. Para orang tua segera pergi membawa anak-anak mereka meninggalkan perasaan marah pastinya. Ujung bibirku tertarik dengan sendirinya untuk tersenyum. Aku melihat wajah-wajah kacau dari Bibi, Dika, dan Tuan Rustam Effendy yang terkutuk. Diza hanya bisa menangis histeris tak kalah dengan teman-temannya. Semoga kau selalu mengingat acara ulang tahunmu yang keempat, Diza. Kecewalah dengan baik. Aku turut merayakan ulang tahunmu yang indah ini.

“Dikta… Dikta… Dikta…” Tuan Rustam meninggikan suaranya memanggilku setelah semua menjadi hening. Tentu saja dia akan menuduhku. Siapa lagi yang pantas dia jadikan tersangka dalam kasus ini? Aku memenuhi panggilannya tanpa rasa bersalah. Menemui sekerumunan keluarga ini tanpa sepatah kata pun dengan hati sedikit terpuaskan.

“Apa ini perbuatanmu?” Tanpa perasaan tidak enak atau basa-basi, dia langsung menyerangku. Suaranya tidak main-main. Urat di lehernya timbul seakan ingin sekali menerkamku. Sepertinya otaknya telah mendidih. Bunuhlah aku seperti saat kau membunuh ibuku jika kau sanggup, Tuan Rustam Effendy. Bunuh aku sekarang!

“Pak, sudah…” Bibi menenangkannya. Aku masih bergeming menundukan kepala dengan mata melirik ke arah mereka, namun tak ingin bicara apa pun. Tuan Rustam Effendy tak pernah tahu aku lebih pandai memainkan raut wajah. Mungkin ini satu-satunya yang dia wariskan padaku, bermain cerdas untuk memenangkan pertarungan.

Tuan Rustam tak berhenti mengumpat. Benar-benar membuatku ingin melawannya sekarang. Suaranya yang telah terekam dalam ingatanku sejak kecil membuat luka ini tak akan pernah sembuh kecuali dengan melihat tubuhnya sekarat dan mati.

“Mengapa kau sangat yakin aku yang melakukannya? Mengapa?” Bibirku bergetar. Tanyaku menatap mata Tuan Rustam Effendy sangat tajam, membungkam mulutnya yang tak berhenti menggerutu. Kebencian seakan merekah tiba-tiba dari dalam diriku hingga tak kuasa lagi kumenahannya.

“Anak ini… Benar-benar tak tahu diuntung!” Wajahnya berapi-api menahan amarah. Dia tak bisa melanjutkan umpatannya padaku karena takut dia membongkar aibnya sendiri. Jangan pernah lupa, Tuan! Aku juga darah dagingmu. Bisakah kau membelaku ketika seseorang berbuat jahat padaku? Seperti yang kau lakukan pada anak-anakmu yang lain? Atau memang kau hanya menganggapku sebagai sebuah kesalahan masa lalu yang ingin kau hapus?

“Sudah, Ayah. Lupakan. Ayah tak punya bukti untuk menuduh Dikta seperti itu.” Dika menarik tanganku untuk kembali ke kamar dengan sangat tenang. Menderitalah, Wahai Tuan Rustam Effendy. Kau benar-benar tak layak mendapatkan kebahagiaan dalam sebuah keluarga seperti ini. Kau manusia paling jahat yang pernah aku temui. Aku akan menyiksamu agar kau menderita lebih dari ini ketika aku dewasa kelak. Membusuklah hidup-hidup! Lihat saja.

“Dikta, jika kau punya dendam pada ayahku atau apa pun yang terjadi di masa lalu, tolong padanya saja kau membalasnya. Biarkan kami menjadi saudaramu. Mari tumbuh dewasa bersama-sama dan saling mengasihi.” Kata-katanya terasa seakan Dika tahu aku yang melakukan kejahatan itu. Jendela kamar memang masih terbuka. Aku juga belum menarik dan memasang kembali kelambu ke tempatnya.

“Terima kasih telah menganggapku saudara.” Aku tak ingin banyak bicara meski dia telah meredam kebencianku. Apakah Dika mengetahui bahwa kita memang saudara? Aku tak pernah ingin menanyakannya dan tak pernah peduli terhadap hal itu.

Dika menarik kembali kelambu yang masih menjulur ke lantai bawah. Dia tak ingin Tuan Rustam Effendy mengetahui perbuatanku. Dalam hati kuucapkan terima kasih telah membantuku menghukum ayahmu sendiri, Dika. Suatu hari kau yang akan melakukannya sendiri untukku.

“Jangan lakukan ini lagi. Aku benar-benar ingin bersaudara denganmu.” Kata Dika mengembalikan kelambu ke tempatnya, namun aku tak ingin menjawab apa pun lagi.

 

Aku melalui hari-hari panjangku setiap hari di rumah ini bersama keluarga Tuan Rustam Effendy yang tak punya hati dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Jasadku hampir membusuk di sini setiap kali melihat tingkah Dika dan adiknya diperlakukan sangat baik selayaknya seorang anak. Hal yang tak pernah kudapatkan dari ayah kandungku sendiri, bahkan setelah dia membawaku ke rumahnya. Dia tak pernah melakukan apa pun untukku atau sekadar ingin membuatku merasa berharga, sama sekali tak pernah.

Tuan Rustam memiliki jadwal libur rutin setiap dua bulan untuk mengunjungi keluarganya di Bandung, tempat kami tinggal sekarang. Kepulangannya kali ini, adalah yang pertama kali dia membawa kabar gembira untukku setelah tiga tahun aku tinggal bersama mereka. Dia memberiku secarik kertas dari sobekan buku yang digulung berisi nomor telepon Hana Sabai. Tentu saja dia harus memberikan padaku karena jika tidak Hana akan melaporkan perbuatan Tuan Rustam kepada orang tuanya. Rasanya, nyawaku yang telah hilang kembali dalam sekejap. Harapan dan mimpi masa depan kembali terlihat lebih jelas bagai awan biru yang kembali setelah hujan deras mendera. Aku menggebu segera berlari ke kamar untuk menghubungi Hana Sabai. Sang teman kecil dari tanah Melayu. Sang kekasih hujan dan kekasih bulan purnama. Sang gadis Minang kekasih hatiku. Hana Sabai yang kucintai sejak dulu, kini, dan selamanya.

“Hana, ini Dikta.” Aku mulai mengirim pesan singkat untuk memastikan bahwa itu memang nomor Hana Sabai yang kunantikan sekian lama. Tentu saja aku tak pernah percaya sedikit pun pada Tuan Rustam Effendy. Bahkan aku masih tak percaya dia memberikan nomor Hana padaku.

“Iya, kamu sudah menerimanya? Lama sekali menghubungiku.” Balas pesannya setelah tiga puluh menit, aku menunggu tanpa memalingkan pandanganku dari layar gawai.

“Apa kabar?” Banyak yang ingin kutanyakan, tetapi sekejap hilang dari pikiranku. Aku segera menyimpan nomor teleponnya dengan nama “Hana Sabai” dengan gambar bunga mekar tanpa tangkai.

“Baik. Apa kamu baik-baik saja? Aku memberikan nomorku berkali-kali kepada Pak Rustam, dan dia selalu beralasan kertasnya hilang jika kutanya lagi apakah sudah memberikannya padamu. Akhirnya aku memintanya di depan ibuku. Akhirnya sampai juga padamu.” Hana membalas pesanku lagi. Menjelaskan padaku seakan dia bersalah tak mencariku. Meskipun seharusnya aku yang memberitahu lebih dulu. Tapi aku tak pernah terpikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi Hana. Aku sibuk menata hatiku setiap hari dari amarah dan dendam yang tak kunjung usai, yang bahkan Tuan Rustam Effendy tak ingin membiarkanku berhubungan lagi dengan Hana. Aku sangat yakin dia pasti dengan sengaja membuang kertas-kertas yang dititipkan Hana untukku. Sungguh biadab.

“Begitu, ya!” Balasku terlalu singkat. Aku takut membuatnya kecewa jika terus berkata-kata karena terlalu bahagia. Aku tak ingin terlihat berlebihan di depan Hana Sabaiku.

“Aku ingin melanjutkan SMA di Kota Padang, tapi ibuku melarangnya. Aku menunggu seseorang yang berjanji akan membawaku pergi dari sini. Janji masa kecil.” Balasnya masih mengingat janjiku dulu. Bukankah itu hanya sebuah janji yang dilontarkan oleh seorang anak-anak? Bagaimana bisa dia mengingat lalu menagih padaku seakan aku sedang berhutang. Sungguh ini menjadi beban yang teramat berat untukku sekarang.

“Sungguh aku ingin pergi dari sini. Tempat ini sangatlah hampa dan membosankan. Aku tak ingin kehilangan masa mudaku di sini.” Hana merengek seperti seorang bayi yang menginginkan susu. Tak hanya aku, Hana juga menginginkan kebebasan, bukan? Apakah menjadi anak seorang kaya raya juga menderita? Jika begitu, di manakah letak kebahagiaan yang sebenarnya? Bagaimana cara agar manusia bisa merasakan kebahagiaan dengan seberapa pun harta yang dia miliki.

“Aku masih terus memegang janjiku. Aku akan berusaha menuju padamu. Aku janji.” Balasku semakin gugup dan kalut memikirkan bagaimana cara membawa Hana Sabaiku pergi, sedangkan kita sama-sama sedang terkurung di sebuah tempat. Aku benar-benar serius memikirkannya sampai enggan terpejam mata ini semalaman suntuk, hanya memikirkan bagaimana cara membawa Hana pergi dan kami bisa hidup bahagia.

Kami terus berbalas pesan hingga membentuk dongeng rahasia dalam gawai kami layaknya sepasang sahabat kecil yang terpisah oleh lautan biru yang luas tanpa batas. Sejak saat itu pula, hari-hariku disibukan untuk membuat rencana masa depanku dengan Hana Sabai, tentu saja tanpa melupakan kebencianku terhadap Tuan Rustam Effendy yang telah menjadi bagian dari udara yang selama ini kuhirup.

Ibu, sungguh aku ingin pergi bersama Hana. Apa kau merestui kami? Jika kau merestui kami, maka bantulah aku untuk segera pergi dari rumah ini dan menemui Hana Sabaiku. Aku sengaja membeli banyak sekali buku dengan uang yang kuhasilkan dari teman-teman kelas yang membayarku untuk mengerjakan tugas, atau dari pekerjaan sambilanku mengumpulkan besi usai pulang sekolah. Aku menulis banyak sekali rencana-rencana dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam misiku sekarang. Aku menulis sangat terperinci karena tak ingin gagal. Aku harus segera pergi dari sini dan membuat keluarga ini hidup menderita selamanya.

Dalam diskusi malam di meja makan. Tuan Rustam dan istrinya membahas tentang sekolah Dika dan aku yang sesaat lagi akan selesai. Ini adalah kesempatan bagus. Aku memberanikan diri untuk bicara demi mengejar Hana Sabai, kekasih yang telah menanti kehadiranku, dan demi bisa keluar dari rumah yang memenjarakanku selama ini.

“Maaf memotong pembicaraan kalian, apa aku boleh melanjutkan sekolah di luar kota?” Demi Hana, aku memberanikan diri mengatakan apa yang aku inginkan. Mungkin saja itu pertama kalinya aku bicara di depan semua penghuni rumah saat kita makan.

“Aku akan mengurangi beban keluarga ini. Aku sudah cukup menyusahkan selama ini. Aku akan hidup sendiri dan mandiri.” Aku memastikan sekali lagi agar alasanku dapat diterima oleh mereka. Aku merendahkan diri dan memohon, hanya demi Hana Sabai.

“Tidak, tunggu sampai lulus SMA, baru kau boleh pergi.” Jawab Tuan Rustam Effendy dengan tatapan tajamnya, yang kubalas dengan tatapan kebencianku yang tak pernah surut sedikit pun meski musim hujan tidak turun sepanjang tahun. Aku tahu dia akan membuangku pada waktu yang tepat. Yaitu pada saat Dika tak membutuhkanku lagi, tentu saja setelah kami selesai SMA. Sungguh aku tak ingin bertahan lebih lama di dalam neraka ini.

Seandainya saja Tuan Rustam mengizinkanku pergi. Mungkin saja aku akan melupakan kesalahan-kesalahannya dan menghilang dari hidupnya. Tapi dia terus mengurungku di dalam amarah yang tak pernah terlampiaskan.

“Kenapa kamu ingin pergi dari rumah ini, Dik?” Tanya Dika setelah makan malam selesai. Dari balik tirai dunianya yang terang di kamar kami.

“Ada seseorang yang ingin kutemui.” Jawabku dari sisi gelap tanpa lampu menyala. Aku memang kadang bisa terbuka dan bercerita banyak hal pada Dika sesekali, meski tidak tentang masa laluku yang kelam bersama ibuku dan Tuan Rustam Effendy ayahnya.

“Apa dia cinta pertamamu? Di mana dia?” Dika merasa bersalah padaku karena dialah alasan Tuan Rustam menawanku di rumah ini. Dika selalu sadar akan kesalahan-kesalahannya, namun tak pernah sekali pun memperbaiki atau sekadar meminta maaf. Dia adalah Tuan Rustam Effendy yang lain, yang mungkin saja akan menikamku juga suatu hari nanti.

“Dia teman kecilku di Jambi. Dia sedang menagih janji sekarang. Aku akan membawanya ke dunia tanpa rasa kecewa, dunia tanpa dinding yang mengurung perasaan dan raganya.” Aku terbuai pada Hana Sabai terus-menerus. Rindu telah mengerak membuatku semakin sakit.

“Hanya sebatas teman? Di mana dia sekarang? Aku bisa ikut denganmu pergi dan mengatakannya pada ayah bahwa kita akan pergi bersama. Aku juga ingin melihat dunia luar seperti yang kau ceritakan itu.”

“Kita tidak akan hidup bersama selamanya, bukan? Dan aku memang tak pernah bermimpi hidup bersamamu seperti ini.”

“Tapi aku masih membutuhkanmu sampai lulus. Tanpamu, nilai-nilaiku akan hancur. Kau tahu aku bodoh. Mengertilah! Kau harus di sini atau aku yang akan pergi bersamamu.”

Lihat selengkapnya