Langit biru meredup dengan goresan jingga menyebar di seluruh penjuru cakrawala. Aku masih ingin duduk di sini bahkan sampai senja pergi. Aku menyandarkan kepala pada sandaran kursi, melemaskan tubuhku mengingat kembali masa lalu untuk membangkitkan semangatku pada tujuan hidup. Entah tujuan hidup yang mana yang aku sendiri masih ragu. Meski entah hal apa yang akan kulakukan kelak agar Tuan Rustam Effendy bisa menderita di sisa hidupnya. Aku tak akan pernah berhenti sampai pada saat mataku menyaksikan kehancurannya. Dia harus bersujud di pusara di mana ibuku dikuburkan. Tuan Rustam Effendy harus merasakan luka demi luka yang aku dan ibuku rasakan. Luka-luka yang mengalir di darahku hingga sore saat aku menatap senja.
Selama di Jepang. Aku sangat jarang menikmati hidup seperti sekarang. Tanpa Dika yang terus mengikuti ke mana pun aku pergi. Tanpa Dika yang selalu ingin tahu apa yang akan kulakukan. Tanpa Dika yang terus menjadi bayang-bayang hidupku. Tapi bukankah seharusnya aku membawa Hana bersamaku sekarang? Tapi aku tak yakin. Mungkin saja Hana dan Dika telah menjadi sepasang kekasih dan sedang merencanakan masa depan mereka sendiri. Aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu dan masih tak ingin menanyakan pada siapa pun.
Bukankah kisah cinta Hana telah dimulai bersamaku sejak lama sekali sebelum Dika datang ke hidup kami? Kisah percintaan klasik antara si kaya dan si miskin berawal dari Tanah Melayu yang memendam berlian di antara mutiara hitam. Sudah sangat lama meski aku belum melupakan rasa sakitnya. Aku berjanji pada diriku sendiri, nasibku tak akan pernah sama dengan ibuku. Aku yang akan jadi pemenang pada akhirnya. Memenangkan dendamku atas luka-luka yang terus dibuat oleh Tuan Rustam Effendy. Memenangkan diriku sendiri atas ketidakberdayaan Dika selama ini. Dan memenangkan hati Hana tentu saja. Hana adalah hidup dan matiku sekarang. Aku tak ingin siapa pun memilikinya.