Secarik Kertas
Dalam pangkuan kelam bulan purnama dengan cahaya tamaram menyinari wajahku. Suara merintihnya bercerita tentang takdir seorang anak laki-laki tidak sah yang dilahirkan diam-diam di gudang dapur umum sebuah mes tempat orang-orang tambang beristirahat dari terik yang membakar kulit mereka sepanjang hari. Ya! Lahir di samping tumpukan beras dan gandum di gudang dapur umum. Salah seorang wanita yang membantu persalinan menutup mulut bayi dengan kertas pembungkus nasi agar tangisan tidak menggelegar sampai ruang utama rumah tersebut. Kemudian, setelah dibungkus dengan baju-baju bekas yang biasa dipakai untuk lap atau memegang gagang panci yang panas. Bayi malang diletakkan di atas nampan besar tempat menjemur sayuran. Sang ibu terkapar tak berdaya setelah berjuang melawan hidup dan mati. Anak laki-laki itu adalah aku. Anak laki-laki yang sudah dilarang untuk menangis sejak dia dilahirkan.
“Bayi kau sehat… mau dikasih namo siapo?” Kata ibuku, teman yang membantu persalinan berbisik padanya dengan logat Melayu yang kental. Jangankan memikirkan nama, memikirkan untuk bisa hidup saja, dia sangat takut. Aku telah dihukum sejak lahir meski belum pernah melakukan kesalahan apa pun. Lahir di tempat yang tak semestinya seorang ibu melahirkan dan secara sembunyi-sembunyi. Hanya karena ibuku tak memiliki suami yang sah, atau karena ayahku tidak bertanggung jawab kepada kami. Kadang aku mempertanyakan mengapa ibuku memilih untuk mempertahanku dengan tidak menggugurkan kandungannya daripada harga dirinya sebagai wanita yang harus terenggut. Dia hanya terus menangisi pilu yang mendera tiada henti sepanjang hidupnya tanpa rasa penyesalan.
Aku dibesarkan di sini. Bersama tungku yang terus membara, memasak hidangan untuk para pekerja rakus yang terus kelaparan. Sampai suatu hari, semua orang tahu ibuku memiliki seorang bayi tanpa suami. Beberapa mengatakan ibuku adalah seorang pelacur, beberapa lainnya merasa iba karena berpikir ibuku diperkosa oleh salah seorang penghuni mes yang terus diselimuti hawa napsu. Tapi ibuku tak pernah sekali pun membuka mulutnya untuk mengatakan siapa laki-laki bangsat itu. Sampai umurku menginjak tujuh tahun, ketika ibuku akhirnya mengatakan siapa ayah kandungku setelah aku menghujaninya dengan pertanyaan siapa ayahku selama ini. Tak pernah kumenyangka sebelumnya, nama Rustam Effendy lah keluar dari bibir suci ibuku dengan terbata-bata. Salah seorang petinggi di perusahaan tambang batu bara tempat kami tinggal, dan aku melihatnya hampir setiap hari berlalu-lalang di dapur menuju kamar mandi dan ruang tengah rumah itu, melihat ayah kandungku yang selama tujuh tahun dirahasiakan oleh ibu.
“Dia hanya datang sekali, memberiku secarik kertas tertulis namamu. ‘Berikan nama ini pada bayimu!’ Begitu katanya.” Harapan masih terus tersimpan dalam lubuk hati ibuku. Orang cacat dan miskin juga memiliki hak hidup yang sama, bukan? Mengapa dia tidak?
Orang yang sulit berbicara memang sangat pandai menyimpan rahasia, bukan? Ibuku salah satunya. Dia harus mengulang beberapa kali agar lawan bicaranya mengerti, bahkan sering dihiraukan begitu saja karena membuang-buang waktu untuk bicara dengan ibuku. Bicaranya memang tidak jelas, tapi aku selalu bisa memahami setiap kata yang keluar dari mulutnya. Aku mendengar dengan merdu nyanyian pengantar tidur tanpa lirik yang dia lantunkan setiap malam untukku di antara riuhnya dunia kami. Aku mendengar dengan jelas syair-syair yang dia langitkan pada Tuhan untuk takdir baik kami di masa depan di antara dera tangis harapan. Aku juga selalu mendengar degup jantungnya berdebar karena pelukan eratnya setiap malam yang mendekap hangat tubuhku. Dia adalah ciptaan Tuhan paling sempurna yang pernah aku miliki seumur hidupku.
Ibuku seorang gadis berparas manis khas Melayu dengan rambut lurus lebat dan berkulit putih yang kurang beruntung karena bicaranya tidak jelas. Kata-katanya sulit dimengerti untuk orang-orang baru dan tak jarang dia dipanggil silidah pendek oleh orang lain. Dia sudah bekerja di dapur sebuah perusahaan tambang batu bara milik orang tua Hana Sabai, tempat kami tinggal saat ini sejak umurnya empat belas tahun. Tepatnya, setelah dia berhenti sekolah karena panti asuhan tempat dia tumbuh tak sanggup lagi membayar sekolah anak-anak panti karena dikorupsi para pengurusnya. Dia bahkan tak pernah melihat kedua orang tuanya dan dari mana asal-usulnya. Dia hanya tahu seseorang menitipkan bayi perempuan umur lima bulan dan pergi begitu saja setelahnya tanpa meninggalkan jejak apa pun.
Perjalanan hidupnya tak pernah mudah. Selain bicaranya sulit karena terdapat kelainan di lidahnya, ibuku sering sekali dipermainkan dan ditipu oleh orang-orang di sana. Bahkan kepala dapur tak pernah memberikan gaji ibuku secara utuh karena dianggap lamban dan menghambat pekerjaan di dapur. Karena itulah, satu-satunya mimpi selama dia hidup adalah membawaku keluar dari nerakanya agar bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Membesarkanku di tempat yang indah dan nyaman. Memberikan pendidikan yang bagus di sekolah terkenal. Dan menjalani sisa kehidupan tanpa rasa sakit. Itu juga alasan dia memilih mempertahankanku sampai lahir. Karena dia ingin memiliki sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Yaitu aku.
“Dikta anakku, cepatlah besar dan jadilah anak yang hebat… Dikta anakku lekaslah kuat dan bawa ibumu pergi…” Lirik sumbang dari nyanyiannya setiap malam masih terus kuingat.
Sedangkan Tuan Rustam Effendy adalah salah satu petinggi di tempat ini. Salah satu orang berpengaruh besar dalam pertumbuhan tambang, orang kepercayaan pemilik tambang yang tak lain adalah orang tua Hana. Perawakannya tinggi besar berhidung mancung. Ibuku menerima rayuan gombalnya hingga jatuh cinta pada bajingan itu. Sampai dia menaruh harapan besar akan dinikahi secara sah dan dibawa pergi dari tempat orang-orang mengejar dunia yang tak ada habisnya. Namun, harapannya tak pernah terpenuhi setelah Rustam Effendy menghamili ibuku dan terus berjanji akan menikahinya dengan syarat tidak akan pernah mengatakan bahwa anak yang ada di dalam perut ibuku adalah anaknya. Tentu saja setelah memaksa ibuku beberapa kali untuk menggugurkan kandungannya yang tak lain adalah aku. Tuan Rustam Effendy adalah satu dari banyak tikus yang mengerat kekayaan milik orang tua Hana yang katanya tak akan pernah habis meski seribu tikus berkembang biak di rumah ini.
Adalah takdir yang sangat mengenaskan untuk ibuku dan aku menjadi bagian dari hidup Tuan Rustam Effendy dan tinggal di dalam penjara rumah besar yang tak pernah bisa kami tolak. Kembali lagi jika semua itu adalah takdir. Dan kami telah menjadi sebuah takdir buruk dalam kehidupan dunia ini.
Aku lahir dan tumbuh tanpa warna dalam lingkungan kelam penuh keserakahan manusia setelah selama sembilan bulan kehamilan ibuku dirahasiakan oleh para tukang masak di sini. Tempat ini benar-benar menjadi perwujudan dunia yang sesungguhnya. Di mana semua orang tanpa henti mengejar harta, tahta, bahkan wanita. Orang-orang di sini menikam temannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, menusuk dari belakang, menjebak, bahkan menfitnah orang lain untuk mendapatkan kekuasaan. Orang-orang di sini tak sedikit yang mempermainkan wanita. Beristri lebih dari satu, bahkan kawin-cerai menjadi kebiasaan. Orang-orang di sini mengaku sebagai teman kemudian mendorongnya ke dalam jurang, lalu berteriak seolah dia telah gagal menyelamatkannya. Aku terus menyaksikan hal-hal yang seharusnya tak boleh disaksikan oleh anak seusiaku saat ini. Namun otakku terus merekam perbuatan-perbuatan mengerikan ini. Hingga aku juga ingin melakukannya pada orang yang menghancurkan kehidupanku dan ibuku. Sejauh ini, aku belum percaya bahwa ada takdir baik dalam kehidupan.
Ibuku adalah satu-satunya harapan hidupku agar aku bisa tumbuh dengan baik. Dan aku adalah satu-satunya harapan ibuku untuk sisa hidupnya yang dapat mendatangkan kebahagiaan. “Kita akan pergi dari sini, Ibu janji.” Kata-kata itu selalu dia ucapkan setiap malam sebelum kami tidur. Paling tidak, kami bisa pergi ke tempat-tempat indah ketika bermimpi saat mata terpejam meski raga tetap terbaring di dalam neraka dunia.
Di antara peliknya hidupku saat ini, di atas tanah tembikar yang mengubur mutiara hitam. Tuhan menurunkan hujan sebagai penawar dahaga. Gadis kecil sebaya denganku menari dan melompat. Senyumnya adalah musim semi di tempat yang tak pernah ditumbuhi bunga sekali pun. Hana Sabai adalah berlian di antara mutiara hitam yang terkubur. Entah bagaimana caranya, aku sudah mencintainya sejak umur kami lima tahun, atau bahkan sebelumnya. Sejak dia menjadi satu-satunya teman dalam duka panjang yang mengiringi hidupku. Dia menunjukkan bahwa ada langit biru di balik awan mendung dalam lukisan tangannya yang indah. Pengasuhnya selalu membawa Hana Sabai masuk ke dapur untuk bermain bersamaku. Kami diasuh dan tumbuh bersama-sama di atas tanah yang menimbun harta karun milik orang tua Hana.
Hana Sabai adalah anak bungsu dari sang pemilik tambang tempat ibuku bekerja. Mereka tinggal di rumah besar tepat di depan mes kami. Rumahnya sepuluh kali lebih besar dari rumah mes yang sudah sangat besar. Dindingnya berkilau perak saat matahari menyinarinya. Bunga-bunga menghiasi halaman rumahnya seolah-olah rumah itu tidak berada di dalam kawasan tambang yang kering kerontang. Kata orang, kekayaan mereka tak akan habis sampai delapan kali turunan. Itu artinya masa depan Hana sudah terjamin, sedangkan aku untuk bernapas saja harus berebut dengan udara-udara yang telah tercemar.
Orang-orang di sini pergi sangat pagi dan pulang sangat petang. Seakan matahari terbit lebih cepat dan terbenam lebih lama. Setiap hari Hana ditinggalkan orang tuanya untuk mengawasi galian tambang yang memberinya harta bertumpuk dengan meninggalkan hartanya yang berharga lebih dari apa pun. Sementara ibuku hanya bisa terus memasak tanpa luput sedikit pun pandangannya padaku. Itulah perbedaan aku dan Hana. Aku mendapat lebih banyak cinta dan kasih sayang daripada harta. Dan Hana, bahkan tak pernah aku melihat ibunya menyuapi makanan atau membelai rambut lurusnya. Begitulah kami saling melengkapi satu sama lain dalam perjalanan hidup, dalam perjalanan tumbuh menjadi seorang manusia.
Atas kebaikan orang tua Hana, aku bisa pergi ke sekolah bersamanya. Diantar dan dijemput pengasuh menggunakan mobil mewah. Duduk di kursi tengah bersanding dengan Hana bagai seorang pangeran. Meskipun itu sama sekali tak pernah mengubah statusku sebagai anak seorang tukang masak yang sulit bicara. Anak-anak di sekolah kami tidak terlalu peduli padaku seperti aku yang juga tak pernah peduli pada mereka. Kehidupan kami masing-masing. Aku tak pernah ingin menyentuh mereka karena takut, sedangkan mereka tak menyentuhku karena aku terlihat lebih rendah dan mengenaskan. Setiap hari aku memaksakan pergi ke sekolah agar suatu saat aku bisa membawa ibuku pergi dari sini. Setiap hari aku pergi ke sekolah karena Hana ada di sana. Aku harus terus menjaganya layaknya seorang pengawal menjaga seorang putri kerajaan.
“Ini, habiskan ya!” Hana memotong kue berisi telur dan sayuran bekalnya untukku. Dia selalu membagi dua apa pun yang dia bawa dari rumah. Hana Sabai sudah mencintaiku sejak lama, atau hanya merasa iba pada seorang anak yang tak memiliki apa pun kecuali ibunya.
Di antara status sosialku yang tak pernah lebih tinggi daripada siapa pun. Di antara hinaan dan cemooh di sekolah karena aku anak tidak sah, aku telah mengalahkan semua orang di kelas karena berhasil lulus dengan nilai tertinggi. Karena itu, orang tua Hana meminta pada ibuku agar aku melanjutkan sekolah bersama Hana. Mereka ingin aku menjaga Hana sekaligus mengajarkan kepada Hana banyak hal tentang pelajaran di sekolah. Bahkan mereka tak mengerti aku telah memberikan hati dan seluruh hidupku kepada Hana. Dan aku tak pernah peduli bagaimana Hana menganggapku saat ini, bahkan sampai saat nanti, aku akan terus begini, memberikan semua yang kumiliki padanya.
Rasanya, masalah terus bersemayam pada hidup kami dan tak pernah pergi. Kepala dapur mulai mendesak ibuku untuk mencari tempat tinggal karena aku terus tumbuh semakin besar. Dia takut aku mengambil bahan makanan yang ada di gudang tempat kami tidur dan menjualnya. Dia juga takut aku semakin dekat dengan Hana dan ibuku menggantikan posisinya karena orang tua Hana. Memang begitu, tak pernah ada pikiran baik di tempat ini. Semua membara dan berapi-api setiap hari demi harta dan kedudukan. Sekali pun ibuku tak pernah melakukan kesalahan, Kepala Dapur tak pernah sekali pun menyukainya.