Biru

Mochamad Rozikin
Chapter #7

Warna kelopak sakura pun turut padam bersama malam. Warna-warni dunia kelam tanpa cahaya. Maka terbiasalah pada kegelapan.

Aku terlelap bersama senja terbenam. Aku memiliki Hana Sabai seutuhnya di dalam mimpi singkatku. Aku menjadi satu-satunya yang Hana cintai dalam mimpiku. Jika memang begitu, rasanya ingin selamanya terpejam dan bermimpi. Jika memang hanya dalam mimpi, aku bisa memiliki Hana Sabai. Benar-benar bisa memiliki seutuhnya. Namun, sayangnya, tubuhku mulai membeku dan dinginnya angin membangunkan lelapku.

Kejenuhan seakan menyuruhku beranjak dari tempat ini. Lagi pula, tak ada yang bisa dinikmati lagi dari kegelapan kecuali dendam. Bahkan warna musim semi lenyap karena malam yang kelam. Semua menyatu menjadi hitam. Tak ada Tuan Rustam Effendy yang kubenci di sini sehingga dendam tertidur dalam hatiku sekarang. Aku mulai mengayuh sepedaku meninggalkan tempat lamunanku.

Di sini, aku menyukai banyak tempat untuk dinikmati seorang diri. Kursi dan meja yang ditanam di sebuah taman tepi sungai dikelilingi pohon sakura merah jambu menjadi yang paling kusukai untuk belajar atau memikirkan Hana Sabai. Di sini sangat berbeda dibandingkan dengan kamar ibuku yang sempit. Entah ke mana tkdir akan membawaku pada masa depan, aku hanya berharap tempat itu selalu lebih indah dari tempat yang mengawali hidupku. Aku berharap tempat itu selalu ada denyut nadi Hana Sabai.

Angin masih terasa dingin di malam hari yang membuat tubuhku menggigil. Jalanan gelap malam dan menaiki bukit memperlambat kayuhan sepedaku. Seperti hidup meranaku yang selalu dihujani dengan sayatan-sayatan dari Tuan Rustam Effendy. Semua yang berkaitan dengan dirinya adalah derita bagiku. Sesekali, Hana termasuk di dalamnya.

Delapan bulan yang lalu sebelum musim panas datang, kupikir tak akan ada lagi nestapa yang singgah dalam hidup ini. Kupikir dendam telah tidur dan terkubur. Namun, setiap saat, mereka terus tumbuh hingga suatu hari terasa seperti akan meledak. Aku seperti sedang mengumpulkan peluru-peluru yang akan kutujukan pada siapa saja yang ingin kubidik. Yang pertama, jelas Tuan Rustam Effendy yang terhormat, namun sangat menjijikan. Dan yang kedua, Dika saudaraku sendiri karena aku tak pernah suka dengan apa yang dimiliki Tuan Rustam Effendy. Karena Dika merebut Hanaku. Karena semua orang telah membuatku menderita, sangat menderita. Dendam ibuku pasti akan terbayar. Dia pasti akan beristirahat dengan tenang kelak, dengan bangga memandang keberhasilanku dari langit.

Lihat selengkapnya