Biru

Mochamad Rozikin
Chapter #8

Menjelang musim panas 2023. Perjalanan panjang menuju Tanah Minangkabau yang tak pernah terlupakan.

Liburan Musim Panas

Waktu seakan terhenti meski jarum jam masih terus berdetak. Matahari tetap terbit dan terbenam setiap hari. Musim berganti dari utara ke selatan. Perjalananku bersama Hana tak seindah musim semi di negeri matahari terbit ini, bahkan memang tak pernah indah daripada apa pun yang indah di dunia ini. Lebih dari setahun, seluruh dunia diserang wabah virus yang membuat kami bagai terpenjara dalam kamar, bagai burung dalam sangkar, atau bagai hewan dalam kebun binatang. Bumi membiarkan rumput tumbuh tinggi dan burung gereja membuat sarangnya di dalam kotak pos. Namun, berbeda dengan alam yang menguasai bumi, manusia justru terserang virus dan mati bagai tikus yang memakan racun dalam makanan. Kuharap Tuan Rustam Effendy menjadi korban yang paling tersiksa. Kuharap virus-virus bisa menyerang tubuh Tuan Rustam dan membunuhnya perlahan. Tapi aku menginginkan Tuan Rustam Effendy mati dengan cara yang lain. Aku ingin Tuan Rustam Effendy sekarat dan menatapku tersenyum di hadapannya. Aku ingin Tuan Rustam Effendy mati lebih keji daripada seekor tikus yang diracun.

Aku menahan rindu melebihi aku menahan kebencianku pada Tuan Rustam Effendy. Aku terus menunggu pintu-pintu bisa terbuka lebar agar aku bisa melihat Hana Sabai berlari menuju tempatku berdiri lalu menari mengikuti suasana hatinya. Tapi kami hanya terus bisa menyaksikan musim berganti dari balik jendela kamar. Sesaat salju bertumpuk di rangka jendela, kemudian berganti kelopak bunga yang gugur, lalu terik menyengat berganti dengan rintik daun ginkgo menari terjatuh, mereka terus berganti bagai pertunjukan dalam film yang aku tonton di televisi, aku melewatkannya begitu saja. Seharusnya aku bisa menemani Hana jalan sore hari sambil menjelaskan hal-hal tentang Jepang yang belum dia ketahui.

Dari sisi diriku yang lain, sebenarnya aku sama sekali tak keberatan dengan keadaan seperti ini. Aku adalah kesendirian dalam hidup. Aku hanya tak kuasa jika tak bertemu dengan Hana lagi. Aku telah mencintainya melebihi diriku sendiri semenjak kami dipertemukan lagi, bahkan aku menjadi sangat mencintainya. Sementara Dika banyak berubah, dia sering membuka buku untuk belajar. Dia juga sering memasak untuk kami di rumah, meski aku tak pernah menyukai masakannya karena rasanya yang aneh. Ibu, aku merasakan dengan sangat baik perubahan-perubahan pada diriku. Aku tumbuh dewasa dan merasakan banyak hal. Aku melakukan banyak kesalahan untuk mengetahui sesuatu yang benar. Ibu, aku sangat mencintai Hana Sabai yang pernah kau timang bersamaku. Ibu, aku telah bersahabat dengan rindu-rindu yang tak pernah sembuh karena kau telah tiada.

Waktu telah sampai pada saatnya, daun-daun telah kembali tumbuh dan menghijau, udara semakin panas dan membunuh virus-virus. Seandainya Tuan Rustam Effendy bisa dibunuh hanya dengan udara panas, hatiku pasti telah sembuh sejak lama. Namun, dia lebih ganas daripada sebatas virus yang menyerang sekujur tubuhku, bukan?

Akhirnya negara telah membuka kembali pintu-pintu dan tempat umum. Kami masih bernapas dan merasakan udara bebas. Orang-orang kembali ke kampus dan melepas rindu satu sama lain. Hana masih sibuk menyapa satu per satu teman-teman kami dan belum berjalan menuju padaku. Aku menunggu dengan saksama sampai langkah kakinya mengarah pada tempat aku duduk. Dia sangat cantik. Hana Sabai adalah bagian dari keindahan alam.

“Han, apa kabar? Kau terlihat semakin cantik.” Dika memotong langkah Hana dengan pujian-pujian dari bibirnya. Paras cantik Hana terhalangi oleh tubuh Dika. Memang seharusnya aku hidup dalam dunia penuh virus di mana kebencian tak bisa tumbuh di sana. Mereka berbicara cukup lama sebelum akhirnya semua orang pergi meninggalkan kerumunan. Hana melupakanku dalam sekejap bagai kaleng minumnya yang telah kosong dan tertinggal di meja taman.

Aku tak ingin mengejar mereka. Aku berpaling ke arah yang lain. Aku berharap Hana mencari dan mengejarku. Namun, itu tak pernah terjadi karena Dika terus membawanya pada arah yang berlawanan denganku, sepertinya bukan hanya aku yang sedang merindukan Hana. Aku tak ingin berperang dengan Dika, namun dia seakan menyalakan amarahku yang telah habis terbakar oleh Tuan Rustam Effendy, ayahnya, dan ayahku juga.

“Dik, kenapa kau tak ikut bersama kami?” Hana baru menyadari setelah mereka selesai berkumpul. Aku tak ingin membalas pesannya. Seharusnya dia tetap pada langkah-langkahnya menuju padaku dan tak terpengaruh oleh siapa pun, termasuk Dika. Seharusnya dia tak pernah berpaling dari orang yang menyelamatkan hidupnya dari neraka dunia. Aku ingin Hana merasakan bahwa aku merajuk.

“Apa kau marah?” Dia melanjutkan pesannya karena aku belum membalas. Dika terus tersipu membaca gawainya sejak dia pulang. Sepertinya mereka juga sedang berbalas pesan dan Hana hanya pura-pura merasa bersalah padaku. Aku sangatlah takut dengan pengkhianatan. Sungguh aku sangat takut karena aku mengalami kejadian yang sangat buruk yang seharusnya tak pernah terjadi pada anak-anak seusiaku saat itu.

“Ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting, jadi balaslah pesanku.” Hana terus mengirim pesan hingga membuatku tak sanggup lagi mengabaikannya. Lagi pula, aku tak pernah benar-benar bisa marah pada Hana Sabai, sang pemilik hati ini.

“Aku tidak marah, dan tak akan pernah bisa marah padamu, hanya sedang belajar.” Aku segera menjawab pesan Hana. Menjadi seorang yang mencintai selalu lebih menderita, bukan? Bahkan untuk merajuk saja aku tak bisa melakukannya. Aku tak ingin Hana Sabai meninggalkanku.

“Temui aku sekarang. Aku sedang berjalan menuju minimarket dekat Apato.” Tanpa berpikir dua kali, aku segera pergi membabi buta menemui Hana. Bahkan aku mengabaikan Dika yang bertanya ke mana aku akan pergi.

Matahari lambat terbenam saat musim panas. Waktu seperti ini sungguh mengingatkanku pada tempat aku dilahirkan bersama Hana. Dengan rasa sakit yang kembali timbul dan timbul, aku terus mengayuh sepedaku menuju tempat di mana Hana juga menuju.

“Maaf, aku telat.” Kataku berhenti tepat di depan Hana berdiri sambil meminum susu kalengnya. Sepertinya dia telah selesai belanja.

“Kenapa kau selalu menjauhi keramaian sedangkan aku selalu menyukainya. Bagaimana kau bisa melindungiku?” Ternyata Hana juga kecewa padaku karena tidak mengejarnya.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Bahkan aku sendiri tak pernah menyadari bahwa aku selalu menghindari keramaian. Aku tak pernah menyadari bahwa ada yang berbeda dengan diriku. Mengerti-lah bahwa aku tak sama dengan teman-temanmu yang lain, Hana Sabaiku. Lukaku telah terbentuk dan tubuh bersama jasadku ini.

“Baiklah! Kumaafkan. Ayo duduk.” Suaranya melembut luluh dan menarik sepedaku menepi ke arah teras mini market.

“Apa yang ingin kau katakan?” Tanyaku begitu penasaran.

“Kakakku akan menikah. Ibuku memintamu mengantarkanku pulang. Itu perintah, bukan tawaran, jadi kau tak bisa menolaknya.” Kata-kata Hana begitu tegas dan jelas terdengar di telingaku.

“Hah?” Bahkan tanpa dia memaksa, aku akan ikut ke mana pun Hana pergi. Kau tak perlu memohon padaku seperti itu, Hana. Aku akan selalu jadi pelindungmu, bahkan saat dewa perang akan menyerangmu sekalipun, aku yang akan berdiri dan menghalanginya. Tak akan ada yang akan menolak perintahmu, Hana. Bawalah aku ke mana pun kau ingin pergi. Manfaatkan kau seperti apa yang kau mau.

“Kapan kita pergi?” Tanyaku dengan jantung berdebar dan sangat bersemangat.

“Minggu depan. Kita akan menghabiskan waktu liburan musim panas di rumahku. Anggap saja kau kerja sampingan. Aku tak mau kau tak punya tabungan, jadi aku minta ibuku membayarmu.” Meski sedikit menyakitkan, aku masih tak bisa membenci Hana. Sama sekali tak bisa. Kau hanya perlu membayar dengan hatimu, dengan jiwa dan ragamu, Hana. Aku tak butuh apa pun lagi ketika bersamamu.

“Baiklah. Katakan saja apa yang harus kulakukan selama di rumahmu.” Jawabku tanpa perlawanan sedikit pun. Aku tak pernah bisa menguasai diriku sendiri di depan gadis paling cantik di langit dan di bumi ini.

“Kau hanya perlu melindungiku. Itu takdirmu, kan? Tidak, aku bercanda. Tentu saja kau harus menemaniku selama perjalanan pulang, membawakan barang-barangku, dan memastikan aku sampai di rumah dengan selamat, lalu kembali lagi ke Jepang bersama-sama melanjutkan sekolah. Kau paham?” Hana bertubi-tubi membuatku jatuh cinta tanpa aku tahu apakah dia juga jatuh cinta padaku atau tidak. Aku hanya terus merasa hidup saat bersamanya. Dia selalu memanusiakan-ku, bukan? Kami meninggalkan minimarket bersama saat senja terbenam memenuhi takdirnya. Aku menuntun sepedaku berjalan beriringan sampai di depan apatonya. Bukankah kami terlihat seperti sepasang kekasih? Seorang pemuda mengantarkan seorang gadis setelah mereka pulang dari kencan. Seharusnya begitulah kami diibaratkan jika tanpa melihat status sosial dan adat istiadat.

“Dik, kau belum memasukkan namanu di daftar arubaito?” Dika mencurigai aku meski aku telah menyembunyikan semua darinya.

“Aku akan pulang selama liburan.” Bodohnya aku tak pernah bisa berbohong pada Dika. Aku selalu memberitahu rencanaku padanya meski aku tahu Dika akan merusak segalanya.

“Hana memintaku mengantarnya pulang. Kakaknya akan menikah.” Sebelum dia mengajukan banyak pertanyaan, aku menjelaskan padanya.

“Kapan? Kau tak memberitahuku?” Sepertinya Dika cukup kaget. Tapi aku tak peduli lagi padanya. Itu bukan urusannya.

“Aku tak perlu memberitahu semua yang akan kulakukan padamu, kan? Kita sudah dewasa dan bisa mengurus hidup masing-masing.” Jawabku tak terkendali. Aku hanya takut Dika akan mengacaukan rencana Hana. Aku takut Dika akan menggantikanku. Tuan Rustam Effendy adalah orang kepercayaan orang tua Hana. Pasti dia juga akan menghadiri pernikahan Kakak Hana, bukan? Sungguh aku ingin melenyapkan semua orang yang menggangguku, mengganggu prosesku untuk mendapatkan Hana Sabai sang bulan purnama musim panas.

“Kau hanya perlu bilang tanpa ada rasa takut. Kita masih tinggal bersama dan kau sepupuku.” Jawab Dika terlihat kesal sambil membanting pintu. Aku masih tak peduli dengan perasaannya. Aku hanya ingin pergi bersama Hana ke mana pun Hana ingin pergi.

“Ini tiketmu.” Hana mengirim gambar tiket pesawat padaku.

“Baik, Yang Mulia.” Jawabku seakan musim sedang bersemi dalam hati ini.

“Kau tak ingin mengajak Dika? Pasti akan seru jika kita pulang bersama.” Dalam sekejap, hujan turun sangat deras menggugurkan bunga-bunga dalam hatiku. Aku tak membalas lagi pesannya. Aku harap Hana mengerti isi hatiku sekarang. Aku hanya ingin pergi berdua dengannya. Hanya berdua.

Udara semakin kering. Puncak musim panas telah tiba. Juga perjalanan impianku dan Hana. Aku sedikit gugup. Baru saja aku menyadari bahwa keluarga Hana memiliki kasta jauh di atasku, seorang anak tidak sah sepertiku ini. Aku berharap keluarganya tak akan membahas hal itu.

“Aku pergi selama libur musim panas. Jaga diri baik-baik.” Aku berpamitan kepada Dika sebagai bentuk rasa bersalah atas perselisihan kami sebelumnya.

“Pergilah. Berbahagialah tanpa prasangka-prasangka burukmu.” Jawaban Dika sungguh menggores hatiku. Menyakiti sekaligus menyadarkan bahwa hidupku memang penuh dengan prasangka-prasangka padanya karena Tuan Rustam Effendy yang telah menumbuhkan itu dalam diriku. Aku segera meninggalkan Dika tanpa menatap wajahnya lagi.

Hana sudah menungguku dengan senyuman yang menyejukkan musim panas yang terbakar. Aku datang sebagai seorang pengawalnya, bukan seorang kekasihnya. Meski begitu, aku tetap bahagia. Bahagianya seorang pengawal adalah ketika seorang tuan merasa aman bersamamu. Benar, bukan?

“Berikan tas-tasmu yang mulia. Biar aku yang membawanya.” Kataku bergurau. Dia sudah memesan taksi yang akan membawa kami ke bandara. Perasaanku semakin gugup. Bagaimana seorang pengawal bisa masuk ke dalam istana sang putri? Bukankah aku tak perlu melihat status sosialku? Aku hanya akan mengantarnya pulang. Hana akan mengenalkanku pada keluarga besarnya sebagai teman dan orang tuanya akan mengenalkanku sebagai seorang anak tukang masak. Semua hanya pada batasan itu. Aku tak boleh berlebihan.

Entah berapa kali aku duduk bersanding dengan Hana dalam waktu selama ini. Harumnya tak melebur bersama udara. Sesekali dia terlelap dan menyandarkan kepalanya pada bahuku hingga membuatku mematung tak bergerak. Aku tak ingin Tuan Putri terbangun hanya karena gerakan kecil dari tubuhku. Aku akan membuatnya nyaman dan merasa aman. Aku ingin Hana mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Semoga aku dan Hana sampai pada tempat yang paling indah di dunia ini. Di tempat yang akhirnya membuat kami saling jatuh cinta.

 

Perjalanan panjang yang melelahkan namun begitu indah. Seorang kekasih hati terlelap dan bersandar pada pundakku terus-menerus dan berulang-ulang. Rasanya, tak ingin lekas mendarat. Bisakah di lain waktu, aku terbang bersama Hana lagi? Terbang mengikuti ke mana angin akan membawa kami dengan perasaan bahagia yang tak berujung. Perasaan bahagia yang menghapus luka-lukaku. Perasaan yang dapat menyatukan kembali patahan-patahan hati ini.

Imajinasi keindahanku bersama Hana terhenti sesaat ketika pesawat mendarat di Jakarta beberapa jam untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tanah Minangkabau yang suci akan adat istiadat dan tradisi. Ketakutan mulai hinggap di kepalaku. Aku tak memiliki cukup cerita indah di masa lalu yang bisa aku gunakan untuk membuka obrolan dengan keluarga Hana. Tapi aku meneruskan perjalananku bersama Hanaku yang indah. Hanaku yang selalu mekar di setiap musim.

Seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dari kami, dan seorang perempuan sebaya dengan Hana telah menunggu di depan pintu Bandara Minangkabau, Padang. Hana berlari memeluk keduanya bergantian meninggalkanku dengan tas-tasnya yang cukup besar dan berat. Hal seperti itu selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa aku sedang dibayar untuk mengantarkan Hana pulang. Hanya sebatas itu.

“Halo, aku Ega, sepupunya Hana.” Laki-laki tersebut menjabat tanganku seraya memperkenalkan diri dengan logat Minang yang masih kental. Kubalas dengan senyum setengah hati. Dia pasti sudah tahu siapa aku dari cerita orang tua Hana. Sedang perempuan itu adalah sepupu Hana yang lain. Mereka berjalan di depan, meninggalkanku seorang diri dengan tas-tas Hana. Dia seakan melupakanku lagi. Bukankah itu sudah sering terjadi? Jangan bangunkan amarah dalam diriku, duhai kekasih hatiku! Aku menyuruh diriku sendiri tenang sekarang. Aku tak ingin ada kekacauan. Aku ingin Hana bahagia. Itu saja.

Perjalanan menuju rumah keluarga besar Hana melewati senja tenggelam dalam samudra yang meninggalkan lambaian lukisan jingga merona di langit Kota Padang. Rasanya ingin sekali terbang menuju tempat matahari terbenam, memastikan ke mana dia menghilang dari bumi yang merana ini. Hana masih belum berhenti berceloteh bersama kedua sepupunya menggunakan bahasa Minang yang hanya beberapa kosakata saja yang bisa kumengerti. Aku tak punya bahasa ibu karena ibuku susah bicara, bukan?

Empat puluh sembilan menit perjalanan yang tidak terlalu lama, namun membosankan. Kami sudah disambut oleh lebih banyak manusia di rumah yang jauh lebih besar dari rumah Hana yang pernah aku lihat. Hana berlari memeluk satu per satu orang. Dia mulai dari yang terlihat tua hingga senyumannya semakin lebar ketika sampai pada sekumpulan gadis sebaya dengannya. Aku berdiri di samping mobil, masih dengan tas-tas, menunggu dipersilakan masuk oleh tuan rumah. Bahkan orang tua Hana saja hanya tersenyum tipis dari kejauhan saat tatapan kami bertemu. Bukankah setidaknya mereka mengucapkan banyak terima kasih padaku yang telah membawa berliannya kembali tanpa kurang satu apa pun? Kembali dengan bersuka ria.

Seorang laki-laki berpakaian tak sebagus yang lain mengagetkan lamunanku, mengambil tas-tas dan menyuruhku mengikutinya. Aku mengikuti langkah-langkahnya tanpa mengatakan apa pun. Menyusuri lorong di antara kamar-kamar dengan pintu yang tinggi dan gemerlap. Lantai mengilap memantulkan bayangan menyedihkan diriku yang usang. Langit-langit dihiasi lampu besar berbaris. Aku pernah melihat bangunan seperti ini di Jepang. Kuil di dekat Stasiun Kyoto, tempat Kaisar pernah tinggal.

“Saya Niman. Saya ini masih saudara jauhnya keluarga ini. Di sini numpang tinggal sambil kerja bantu-bantu paman.” Begitu yang aku tangkap dari obrolan dengan campuran bahasa Indonesia dan Minang. Dia terus bicara, sepertinya sedang menjelaskan sejarah keluarga besar Hana, namun tak banyak yang kutangkap karena aku terus memperhatikan setiap detail ukiran-ukiran dinding dari istana ini.

“Saya bukan orang Minang, Mas.” Aku memotongnya agar tak sia-sia ceritanya.

“Oh, bukan? Ambo raso adiak suko ka Hana.” Kira-kira begitu yang dikatakan Niman. Jadi, apa yang mereka ceritakan tentangku di sini?

“Salamaik tingga disiko yo sanak, sanak lalok di kamarko jo ambo.” Sampai di kamar hampir yang paling belakang dan tak sebagus kamar-kamar lain, kamar Niman yang ternyata akan menjadi kamarku selama di sini. Aku bisa mengerti bahasa Minang yang dia katakan karena cukup jelas untuk dimengerti.

Lihat selengkapnya