Biru

Mochamad Rozikin
Chapter #9

Suatu malam di tengah Hari Raya. Saat aku terperangkap berdua hanya dengan Tuan Rustam Effendy di rumah.

Suatu malam di tengah Hari Raya yang sama sekali tak terasa seperti hari kemenangan. Saat aku terperangkap berdua hanya dengan Tuan Rustam Effendy di rumah, karena Dika, ibu, dan adiknya berkunjung ke rumah saudara mereka yang jauh.

“Minta maaflah padaku, Dikta. Aku akan memaafkan kesalahanmu dan kesalahan ibumu di masa lalu, kesalahanmu saat ini, dan kesalahanmu di masa depan. Berdamailah selagi masih ada waktu, sebelum kau menyesalinya nanti.” Tuan Rustam berkata padaku dengan angkuh di meja makan. Cerutunya tak henti dia hisap lalu disemburkan asapnya berkali-kali. Kebencianku tak pernah enyah dari napas yang selalu berhembus.

“Untuk apa? Aku merasa tak pernah memiliki kesalahan apa pun padamu. Kau yang harusnya bersujud pada ibuku, memohon ampun padanya. Kau menelantrkan kami.” Aku menjawab tanpa menatap wajahnya. Bahkan melirik pun enggan.

Lihat selengkapnya