Kedai Udon
Bunga sakura berangsur mekar sempurna. Beberapa helai kelopaknya terbang mulai gugur menjadi pemandangan indah saat aku membuka mata dari tempat tidurku. Aku sengaja tak menutup tirai jendela agar disambut musim semi saat bangun tidur. Hampir seminggu Dika pergi ke daerah Gifu, tak pulang dan hanya beberapa kali memberi kabar. Tak ingin kalah dengan Dika yang akan mendapatkan uang banyak dari bekerja paruh waktu, mulai hari ini sampai seminggu ke depan juga aku akan bekerja paruh waktu di kedai udon untuk mencuci piring dan menjadi pramusaji. Kami para mahasiswa beasiswa hanya bisa mengandalkan hidup dari pekerjaan paruh waktu, meski sebenarnya Dika selalu mendapat kiriman uang dari ayahnya.
“Ting…” Irasshaimase… Aku berteriak saat lonceng pintu kedai berdenting mengucapkan selamat datang. Kedai udon biasanya sangat ramai saat musim semi mencapai puncaknya.
“Hana?” Hana dan tiga orang temannya yang menjadi tamu pertamaku pagi ini.
“Silakan. Kalian mau pesan apa?” Aku menunjukkan daftar menu yang dipasang di etalase, namun tatapanku terus mengarah pada musim semi-ku yang lebih indah dari sekadar bunga sakura yang mekar dan gugur.
“Dik… Woy…” Salah satu teman Hana merusak lamunan pagiku tentang musim semi, tentang Hana Sabai. Mereka menertawakanku meski aku tak pernah main-main saat menatap Hana.
“Jadi, kalian pesan apa? Bagaimana kalian tahu aku di sini?” Tanyaku tak enak pada pengunjung yang antre di belakang segerombolan gadis Indonesia ini.
“Marugame Udon tiga. Satu tanpa daun bawang. Kami tak tahu kau di sini. Ini hanya kebetulan.” Hana mengakhiri lelucon. Bicaranya seolah jarak kami semakin jauh. Apakah Hana sekarang telah benar-benar menjadi kekasih Dika? Ingin sekali memastikan hal itu namun siapalah aku ini.
“Permisi Tuan. Aku menunggumu di halaman kampus setelah Anda selesai bekerja.” Hana menambahkan lagi sebelum mereka pergi dan menunggu di meja makan. Ada apa ini? Hana mengajakku bertemu? Mungkin saja dia akan memberitahuku bahwa dia telah menjadi kekasih Dika. Aku harus mempersiapkan diriku sebaik mungkin, bukan? Hana Sabai selalu memberiku kejutan. Sesekali dia memberiku kejutan romantis, bak seorang gadis merajut penutup kepala untuk kekasihnya, namun di waktu yang lain Hana Sabai membuatku sangat gugup bahkan hancur. Tapi bagaimana mungkin perasaanku kepadanya tak ada yang berubah sedikit pun?
Waktu kerjaku selesai setelah lebih dari seratus mangkuk udon kucuci. Aku melepas kostum pelayan serba putih ini dan segera mengambil sepeda untuk bergegas menuju tempat yang dijanjikan Hana. Aku ingin secepatnya mendapatkan jawaban atas prasangka-prasangkaku selama ini. Aku tak ingin Hana menungguku terlalu lama. Apa pun yang akan dikatakan Hana, aku akan menerimanya dengan hati lapang. Bahkan tanpa Hana mengatakan apa pun, aku sudah terbiasa menjalani hidup yang sulit dan menyakitkan. Jadi seharusnya aku akan bertahan dalam kehancuranku yang kesekian kalinya demi seorang gadis yang sudah kucintai bahkan sebelum aku tahu tentang semua kehidupan pahit ini.
Cuaca hari ini sangat cerah dengan udara bersih. Langit biru sangat jernih. Hana Sabai menungguku dengan sabar. Tangannya menggenggam minuman kaleng hangat agar jari-jarinya tak membeku. Rambutnya selalu terurai meski tertutup kupluk berwarna senada dengan langit. Aku berhenti di seberang jalan. Menatap sebentar dari kejauhan sebelum dia menangkap basah keberadaanku yang sedang memandangi parasnya yang menawan.
“Dikta…” Dia melambaikan tangan dan berteriak seolah aku tak menyadari keberadaannya. Tahukah Hana, aku telah berada di sini sejak lama dan terus menatapmu dengan saksama. Tahukah Hana aku masih pura-pura tak tahu apa pun tentang hubunganmu dan Dika karena aku belum siap kehilanganmu.
Aku menuntun sepeda dan kami berjalan beriringan setelah aku menghampiri Hana Sabai yang menawan.
“Ada apa, Han?” Tanyaku selalu gugup ketika mulai pembicaraan dengannya.
“Dika belum memberitahumu?” Hana bertanya tanpa menjawab pertanyaanku. Pertanyaannya benar-benar mengejutkan.
“Hah? Tentang apa, Han?” Aku masih tak ingin tahu apa pun sebenarnya. Aku berusaha terlihat biasa saja dan sewajar mungkin layaknya seorang sahabat yang menunggu kabar bahagia dari sahabatnya.
“Dia mengajakku ke perayaan hanami di taman hari Minggu sebelum mulai kuliah lagi.” Jawaban Hana sedikit membuatku lega. “Aku ingin kau juga datang. Maksudnya, aku tak ingin berdua saja dengan Dika.” Aneh, bukan? Bukankah sepasang kekasih selalu ingin berdua ke mana pun pergi? Seperti aku yang selalu ingin berdua dengan Hana ke mana pun kita pergi meski Hana tak pernah menganggapku kekasih.
“Oh, Di mana? Mengapa aku harus ikut?” Aku memberanikan diri agar mendapatkan jawaban yang pasti dari Hana.
“Nanti aku ceritakan. Apa Dika belum pulang dan bercerita sesuatu?” Hana masih terus menyimpan rahasia tentang dirinya dan Dika.
“Dia mengirim pesan dan mengatakan akan pulang hari sabtu.” Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Mengapa keduanya saling menunggu untuk memberitahuku?
“Dik, apa kau masih dan selalu menyukai musim semi?” Tiba-tiba Hana menghentikan langkahnya dan mengajukan pertanyaan yang lebih membuatku terkejut. Dia menatapku sayup, namun tak lebih sayup dari musim semi yang sangat damai.
“Hah? Mengapa kau bertanya seperti itu?” Jawabku mengambil kelopak sakura yang jatuh di atas kupluknya.
“Jawab saja, mengapa?” Dia masih ingin jawaban dariku meski aku tak tahu untuk apa aku menjawabnya.
“Kau tahu sebelum aku memutuskan mengajakmu ke Jepang, aku membaca sebuah artikel kuno Jepang yang mengatakan, Tuhan menciptakan Jepang pada saat Dia tersenyum, maka tumbuh dan mekarlah beribu jenis bunga di sini sepanjang tahun. Lalu, dalam artikel selanjutnya dituliskan. Dewa memberi hadiah kepada rakyat Jepang karena berhasil bertahan dari terik di musim panas. Hadiahnya berupa musim gugur yang sejuk dan teduh. Sejak saat itu aku ingin membawamu menuju kehidupan yang damai. Melihatmu terus tersenyum tanpa ada tangisan. Jadi, aku menyukai musim semi dan semua musim di sini. Berbahagialah Hana. Tersenyumlah sepanjang hari. Jangan pernah bersedih, apalagi menangis. Aku mohon. Kau sudah berada di tempat ini, tempat yang dipilih Tuhan, yang sangat indah. Kau pantas mendapatkan semua keindahan dunia, Hana.” Apakah jawabanku cukup? Aku tidak sedang merayunya. Aku hanya sedang mengungkapkan isi hatiku untuk kesekian kalinya. Sekali lagi sebelum mereka mengumumkan diri sebagai sepasang kekasih. Dika dan Hana.
“Lalu, mengapa kau begitu menginginkanku bahagia?” Dia kembali bertanya. Rasanya jawabanku tak cukup membuatnya puas dan itu membuatku sedikit kesal.
“Apa kau tak menginginkanku bahagia sementara kita sudah hidup bersama bahkan sebelum kita bisa bicara? Apa yang harus kukatakan lagi, Hana? Jawaban apa yang kau inginkan dariku?” Berapa kali kuharus mengatakan isi hatiku? Mengapa Hana tak pernah mengerti? Harus dengan cara apa lagi selain menyerahkan seluruh dunia, bahkan seluruh hidupku?
“Jika kau hanya menganggapku teman, aku tak pernah mempermasalahkannya. Lagi pula kau harus menikah dengan bangsawan yang memiliki asal-usul yang jelas seperti kakakmu, bukan? Seandainya kau juga mencintaiku, kau tetap akan menikah dengan orang lain, bukan? Jadi, seharusnya kau tak perlu menanyakan apa pun tentang yang kulakukan padamu. Biarkan aku berada di tempatku untuk membuatmu bahagia dan aku akan membiarkanmu berada di tempatmu untuk tidak pernah bersamaku.” Aku melanjutkan bicaraku lagi dengan meninggikan suara. Ini pertama kali kulakukan pada Hana. Aku tetap menahan amarahku padanya yang tak pernah memahamiku. Aku segera menaiki sepeda dan meninggalkan Hana seorang diri bersama pertunjukan musim semi. Aku tak ingin Hana melihatku bergejolak hanya karena sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Aku akan meminta maaf saat bertemu dengannya lagi nanti. Aku telah menyakiti hatinya dan membuatnya terluka. Aku bersalah padanya.
Hanya beberapa saat setelah aku meninggalkan Hana seorang diri. Penyesalan langsung menyelimutiku. Mengapa aku harus bicara dengan nada tinggi dan meninggalkannya. Hana tak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Ingin sekali kembali, namun harga diriku terus melarangnya. Tinggalkan saja Hana di sana. Lagi pula dia tak akan pernah menjadi milikku. Hana juga tak memanggilku saat aku pergi, kan? Sudahlah. Aku akan menyerah sampai di sini. Aku akan menyerahkan Hana kepada Dika di acara hanami nanti. Setidaknya aku telah memenuhi janjiku pada Hana. Aku telah membawanya pergi dari masa lalu kami. Aku telah sampai pada tujuanku. Aku juga telah menyatakan semua perasaanku padanya tanpa ada yang tersisa sedikit pun.
Aku segera memutar sepedaku kembali ke tempat Hana berdiri. Aku ingin meminta maaf karena telah bicara dengan nada tinggi padanya. Aku mengejar Hana yang tak lagi berdiri di sana. Di tempat aku membentak dan meninggalkannya. Dia pasti sangat kecewa padaku.
“Hanaaaaa,” aku berteriak mencarinya. Bergegas pergi ke taman. Aku takut Hana merajuk dan enggan bicara lagi denganku. Aku sangat bodoh. Beraninya aku membentak seorang Tuan Putri yang kukagumi sejak lama.
“Dikta…” Tiba-tiba Hana melambaikan tangan sekali lagi. Aku segera mendekat padanya. Semoga Hana memberi hukuman yang pantas untukku.
“Hana…”
“Kita belum selesai bicara dan kau kabur begitu saja.”