Mereka bilang, waktu adalah penghapus memori yang paling mutlak. Ia menelan tawa, menyamarkan luka, dan mengaburkan wajah-wajah yang pernah kita puja.
Namun bagiku, waktu tak ubahnya seperti sebuah kanvas yang menolak mengering. Seberapa tebal pun aku berusaha menimpanya dengan warna-warna kehidupan yang baru di masa kini, ada satu goresan usang dari masa lalu yang selalu berhasil merembes naik ke permukaan. Menolak keras untuk dilupakan.
Sebuah goresan pertama yang mengajariku bagaimana rasanya jatuh cinta.
***
Api unggun di hadapanku memuntahkan percikan bunga api ke udara yang membeku, menari-nari sejenak sebelum akhirnya mati ditelan pekatnya malam. Suara gemeretak kayu pinus yang terbakar berpadu dengan nyanyian serangga gunung, menciptakan simfoni alam yang seharusnya menenangkan.
Namun, alih-alih ikut larut dalam kehangatan itu, pikiranku justru sedang mengembara jauh ke dimensi waktu yang lain.
Aku merapatkan jaket tebal yang membungkus tubuhku. Udara dataran tinggi malam ini cukup menusuk tulang. Kami sedang berada di area camping ground lereng gunung, menghabiskan jatah cuti bersama. Kami adalah lima orang pekerja paruh waktu dari Cafe Ceria, sebuah kedai kopi kecil yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumahku. Tiga di antara kami adalah senior yang sudah lulus kuliah dan menjadikan kedai itu mata pencaharian utama mereka, sementara dua sisanya adalah aku dan pemuda berisik di seberang api unggun sana.
Namaku Aira Langit Az-Zahra. Orang-orang memanggilku Sky. Usiaku sembilan belas tahun, dan saat ini aku sedang menjalani fase yang oleh orang-orang disebut sebagai gap year.
Sudah satu tahun penuh aku menghabiskan waktu meracik kopi dan mengelap meja pelanggan. Sebuah penundaan takdir, karena tahun lalu semesta belum mengizinkanku menembus gerbang perguruan tinggi impianku: Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kehutanan. Sungguh sebuah ironi yang sering kutertawakan sendiri di depan cermin; rumahku berada sangat dekat dengan kampus itu, aku bisa melihat pilar-pilarnya hampir setiap hari, namun aku belum memiliki hak untuk duduk di bangkunya.
"Nih, lihat. Mahakarya abad ini sudah lahir."
Suara bariton yang sarat akan nada tengil itu memecah lamunanku.
Bumi, rekan kerja satu shift namun beda jam terbang denganku, tiba-tiba mengangkat buku sketsanya tinggi-tinggi ke arah cahaya api unggun. Pemuda itu adalah mahasiswa semester tiga di Fakultas Kehutanan UGM-fakultas yang sama persis dengan yang kuincar mati-matian. Ia bekerja di shift malam kafe, dan malam ini, ia membawa serta hobi usilnya ke atas gunung.
Ketiga senior kami mencondongkan tubuh, penasaran. Sedetik kemudian, sorakan heboh meledak.
Di atas kertas sketsa itu, tergambar wajahku. Bumi menggambarku yang sedang duduk memeluk lutut menatap api. Goresan pensil arangnya teramat rapi, detail, dan menawan. Harus kuakui, tangannya memang berbakat menciptakan ilusi kehidupan di atas kertas datar.