Terkadang, pertemuan paling berkesan bukanlah yang diawali dengan jabat tangan hangat atau sapaan manis. Melainkan pertemuan yang diawali oleh sepasang mata yang kehilangan cahayanya.
***
Rabu pagi selalu memiliki aroma yang khas. Bagi sebagian orang, ia berbau seperti semangat baru yang diseduh bersama kopi panas. Namun bagiku hari ini, Rabu berbau seperti kecemasan yang menggumpal di ulu hati, pahit dan pekat, persis seperti ampas kopi robusta yang lupa dibuang.
Namaku Aira Langit Az-Zahra. Orang-orang memanggilku Sky. Dan hari ini, langit di dalam kepalaku sedang mendung gelap gulita.
Aku berdiri di balik mesin kasir Cafe Ceria, tempatku mengabdikan diri selama satu tahun terakhir sebagai barista paruh waktu sekaligus penjaga garda depan. Bunyi denting mesin espresso, uap susu yang mendesis, dan aroma roti panggang yang menguar di udara biasanya mampu menjadi terapi bagiku. Tapi tidak hari ini.
"Muka kamu kenapa ditekuk begitu, Sky? Udah kayak baju belum disetrika tiga hari."
Suara berat namun keibuan itu menyapaku. Kak Nadine, senior sekaligus juru masak andalan kafe ini, muncul dari balik jendela dapur kecil. Ia mengelap tangannya dengan kain serbet, menatapku dengan alis terangkat.
Aku menghela napas panjang, membiarkan bahuku merosot turun. "Kelihatan banget ya, Kak?"
"Banget. Jutek amat. Aura kamu bikin pelanggan takut mau pesen, tau nggak? Ada masalah apa? Masih pagi kok udah badmood?"
Aku menopang dagu di atas meja kasir yang dingin. Mataku menerawang menatap pintu kaca kafe yang menampilkan jalanan pagi yang mulai sibuk. "Nanti sore, Kak. Jam tiga."
Kak Nadine mengangguk paham, seolah langsung terkoneksi dengan frekuensi kegelisahanku. "Oh... pengumuman SNBT itu ya?"
"Iya. Aku takut, Kak," aku jujur, suaraku mengecil. "Waktu ngerjain tes kemarin... rasanya hancur banget. Aku ngerasa nggak ada satu pun jawaban yang bener. Otakku rasanya buntu. Gimana kalau tahun ini aku gagal lagi? Gimana kalau aku harus ngecewain Ayah Ibu lagi? Gimana kalau aku emang nggak pantes masuk UGM?"
Rentetan pertanyaan pesimis itu meluncur deras dari mulutku seperti air bah. Ketakutan itu nyata. UGM Fakultas Kehutanan bukan sekadar mimpi; itu adalah obsesi, harga diri, dan janji yang tertunda. Rumahku bahkan sangat dekat dengan kampus itu, membuat ironi kegagalanku tahun lalu terasa semakin menampar setiap kali aku melewatinya.
Kak Nadine tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat dan menepuk pundakku pelan. Sentuhannya hangat.
"Dengerin Kakak, Sky," ucapnya lembut namun tegas. "Jangan pernah ngeremehin diri kamu sendiri. Itu nggak baik. Kamu udah berusaha maksimal, kan? Kamu udah belajar siang malem, sampai mata kamu kayak panda. Sisanya? Biarin takdir yang kerja. Kalau emang rezeki kamu di sana, pintu itu bakal kebuka sendiri, nggak peduli seberapa keras kamu ngerasa gagal pas tes. Sama kayak kerjaan, jodoh, atau maut. Nggak usah dipikirin sampe bikin kamu sakit."
"Tapi Kak..."
"Udah, hush. Mending kamu senyum sekarang. Tuh, pelanggan mulai dateng. Profesional dong," potong Kak Nadine sambil mengedipkan sebelah mata, lalu kembali menghilang ke balik dapur.
Kata-kata Kak Nadine benar. Namun, bagi seseorang yang memiliki isi kepala seberisik aku, mematikan tombol "overthinking" tidak semudah mematikan sakelar lampu.
Aku memaksakan seulas senyum profesional—senyum SOP kafe—kepada pelanggan pertama yang masuk. Seorang bapak-bapak paruh baya yang memesan Americano. Tanganku bergerak cekatan menekan tombol kasir, menerima uang, dan memberikan kembalian, namun pikiranku masih melayang-layang di ruang tunggu pengumuman nanti sore.
Jam demi jam merangkak lambat bagai siput.
Ketika jam istirahat tiba, aku duduk di sudut kafe yang sepi, membuka ponselku. Jari jemariku secara refleks membuka aplikasi Instagram. Sebuah kesalahan fatal. Lini masa media sosialku dipenuhi oleh hiruk-pikuk ketegangan yang sama.
Akun-akun motivasi pendidikan membagikan kutipan bijak yang klise. Kolom komentar dipenuhi ribuan doa, harapan, dan ketakutan dari pejuang SNBT se-Indonesia.
"Bismillah, UGM harga mati!"
"Ya Allah, kalau nggak lolos tahun ini gue nggak tau harus ngapain lagi..."
"Optimis aja guys! Kita pasti bisa!"
Aku membaca komentar yang terakhir dengan tatapan sinis. Optimis? Bagiku, terlalu percaya diri itu adalah racun yang manis. Ia memberimu sayap untuk terbang tinggi, hanya untuk menjatuhkanmu lebih keras ke tanah. Sakitnya bukan main. Rasanya remuk redam, bukan cuma hati, tapi sekujur badan. Aku lebih memilih bersiap untuk yang terburuk, agar jika kegagalan itu datang, aku tidak terlalu kaget.
Kak Nadine keluar dari pintu samping, menyelipkan sebatang rokok di bibirnya. Asap putih mengepul tipis ke udara siang yang terik. Biasanya aku akan menemaninya duduk di emperan toko, mengobrol santai tentang pelanggan yang aneh atau resep masakan baru. Tapi hari ini, kakiku terasa berat. Lidahku kelu. Rasanya terlalu banyak beban yang menindih pundakku untuk sekadar basa-basi.
Jam istirahat berakhir. Dunia orang dewasa kembali berputar.
Kafe Ceria mulai dipenuhi spesies-spesies khas jam siang: mahasiswa tingkat akhir. Suara ketikan keyboard laptop yang beradu cepat menjadi musik latar yang dominan, bersahutan dengan diskusi-diskusi berat tentang skripsi, dosen pembimbing yang menghilang, atau data yang tidak valid.
Ada juga yang hanya bermodal membeli satu es kopi susu, membuka laptop agar terlihat produktif, tapi layarnya menampilkan game atau film. Namun tak sedikit yang benar-benar serius, wajah mereka kusut, kacamata melorot, dan tumpukan buku tebal di samping kopi.
Aku mengamati mereka dengan rasa iri yang menyelinap. Mereka lelah, ya. Tapi setidaknya mereka sudah ada di sana. Mereka sudah menjadi mahasiswa. Mereka memiliki tempat untuk dituju. Sedangkan aku? Aku masih terombang-ambing di antah berantah, menjadi penonton di pinggir lapangan.
Kafe tempatku bekerja ini memang surga bagi mereka. Konsepnya estetik minimalis, dengan dominasi kaca dan kayu. Di bagian luar, ada area outdoor yang asri, dihiasi tanaman rambat dan suara gemericik air dari kolam buatan kecil di sudut. Suara air itu biasanya menenangkan, tapi hari ini, di telingaku, suaranya terdengar seperti hitungan mundur bom waktu.
Pukul dua siang. Satu jam lagi.
Keringat dingin mulai merembes di telapak tanganku. Jantungku berdegup tak karuan, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Aku mondar-mandir di balik meja kasir, mengelap meja yang sudah bersih berulang kali.
"DORRR!"
Sebuah teriakan kencang tepat di samping telingaku membuatku terlonjak hebat.
"ASTAGA NAGA!"
Ponsel di tanganku nyaris terlempar ke udara. Jantungku yang sudah tidak karuan rasanya berhenti berdetak sedetik. Aku berbalik dengan napas memburu, siap menyemburkan api.
Di sana, berdiri sesosok pemuda jangkung dengan cengiran lebar tanpa dosa. Bumi.
Dia datang jauh lebih awal dari jam kerja shift malamnya. Mengenakan kaos oblong hitam dan celana jins belel, wajahnya terlihat segar—mungkin karena libur semester dan pekerjaan bengkel ayahnya sudah selesai.
"Ngapain lo?!" bentakku, suaranya bergetar karena kaget bercampur emosi. "Lo mau bikin gue mati jantungan?!"
Bumi tertawa renyah, sama sekali tidak merasa bersalah. "Habisnya lo tegang banget kayak kanebo kering, Sky. Rileks dikit napa. Gue buru-buru ke sini karena inget jam tiga nanti momen penentuan lo. Sebagai kakak tingkat yang baik hati, gue mau kasih dukungan moral."