Biru untuk Langit

Asrofi
Chapter #3

2. Pengumuman SNBT

Menunggu adalah seni menyiksa diri paling purba yang pernah diciptakan manusia. Terlebih ketika yang kau tunggu adalah sebuah layar kecil yang akan memvonis; apakah kau layak untuk terbang memeluk mimpimu, atau kembali dipaksa jatuh, mencium kerasnya realita untuk kedua kalinya.

***

Konsentrasiku masih terbelah. Pikiranku seolah ditarik ulur oleh dua kutub magnet yang berbeda. Sebelah otakku sibuk menerka-nerka siapa gerangan laki-laki bertatapan kosong tadi—harus kuakui, di balik aura suramnya, dia memiliki postur tubuh yang proporsional, rahang yang tegas, dan wangi khas yang aneh namun menenangkan. Namun, sebelah otakku yang lain tiba-tiba berteriak panik saat mataku tak sengaja menangkap angka digital di sudut kanan atas layar ponselku.

Pukul 15:01 WIB.

Telat satu menit! Jantungku seketika berdentum brutal layaknya genderang perang. Aku buru-buru menghempaskan tubuhku ke atas salah satu kursi kayu di taman kecil samping toko roti. Persetan dengan laki-laki misterius tadi, masa depanku jauh lebih penting sekarang.

Dengan jemari yang mendadak sedingin es batu dan bergetar hebat, aku membuka peramban web dan mengetikkan portal resmi pengumuman SNBT.

Loading... Loading... Loading...

Ikon lingkaran kecil di tengah layar itu terus berputar-putar tanpa henti, seolah sedang mengejekku. Aku menekan tombol refresh berkali-kali dengan tidak sabar. Server-nya down parah. Tentu saja, di detik yang sama saat ini, pasti ada puluhan hingga ratusan ribu remaja se-Indonesia yang juga sedang mencoba mendobrak masuk ke situs yang sama. Semua sedang berebut takdir.

Dua puluh menit berlalu, dan layar itu masih saja memutar ikon loading.

Keringat dingin sebesar biji jagung mulai meluncur turun dari pelipisku, menembus sela-sela rambut. Ini benar-benar memicu adrenalin yang menyiksa. Otakku sudah kepalang pesimis mengingat betapa hancurnya aku saat menjawab soal-tes bulan lalu, dan sekarang semesta malah menambahkan drama server down. Beruntung aku sudah duduk bersandar di kursi taman yang rindang ini. Kalau aku memaksakan diri berdiri seperti tiang lampu jalan, mungkin aku sudah pingsan karena asam lambung yang naik.

Empat puluh menit waktu bergulir. Angin sore menghembuskan hawa hangat, namun tubuhku terasa membeku.

Tiba-tiba, layar putih itu berubah. Kotak login akhirnya muncul. Jantungku serasa melompat hingga ke tenggorokan. Ini dia. Momen yang paling kutunggu, sekaligus momen yang paling kutakuti.

Aku hanya tinggal memasukkan Nomor Peserta dan Tanggal Lahir sebagai password, lalu mengklik satu tombol penentuan. Setelah itu, layar akan menampilkan satu dari dua warna mutlak. Merah jika kau ditolak oleh semesta, dan Biru jika kau berhasil merengkuh impianmu.

Ingatanku ditarik mundur secara paksa ke tahun lalu. Tahun di mana duniaku runtuh. Saat itu, aku membuka pengumuman di kamarku. Layar itu memancarkan blok warna merah terang dengan tulisan "Mohon Maaf".

Aku menangis sejadi-jadinya hari itu. Rasanya luar biasa menyakitkan, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-paruku. Di antara teman-teman satu circle kelasku dulu, hanya aku sendiri yang mendapatkan warna merah. Hanya aku yang DITOLAK. Sisanya merayakan warna biru mereka dengan pesta dan pelukan.

Tahun ini, apakah warna merah itu akan kembali menertawakanku? Ataukah warna biru akan akhirnya berbaik hati menghampiriku? Ditolak dua kali oleh fakultas impian yang gedungnya bisa kulihat setiap hari adalah sebuah rasa sakit yang tidak ingin kuulang seumur hidupku.

Tanganku terhenti di udara. Aku masih belum punya cukup nyali untuk mengetik deretan angka itu.

Aku butuh kekuatan. Aku butuh sandaran.

Aku membuka menu kontak dan menekan nomor Ibuku. Nada sambung berbunyi panjang. Tuuut... Tuuut... Tidak ada jawaban. Aku memutusnya, lalu beralih menekan nomor Ayahku. Hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada nada dering yang diangkat.

Aku mengulanginya lagi. Melakukan spam panggilan hingga belasan kali bergantian ke nomor Ayah dan Ibu. Tetap tidak ada jawaban.

Mereka berdua memang bekerja di kantor, namun apakah sesibuk itu hingga tak bisa mengangkat telepon anaknya sebentar saja? Aku tahu dunia orang dewasa itu keras dan menyita waktu, tapi ini adalah hari pengumuman masa depan anak perempuan mereka. Bukankah seharusnya orang tua menandai tanggal ini di kalender mereka? Lantas, kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia meluangkan waktu satu menit saja untuk menguatkanku?

Dadaku terasa sesak. Sebuah rasa ngilu yang sudah terlalu akrab kembali menyapaku.

Bohong jika aku tidak tahu alasannya. Aku tahu persis kenapa aku tidak pernah menjadi prioritas utama di rumah itu. Semuanya berakar dari satu nama. Badai.

Badai adalah adik laki-lakiku satu-satunya. Jarak umur kami hanya terpaut dua tahun. Saat ini dia sudah duduk di bangku kelas dua belas, dan tahun depan dia juga akan menghadapi pertempuran perguruan tinggi.

Badai adalah definisi dari anak kebanggaan mutlak. Dia luar biasa pintar. Sejak masih menggunakan seragam merah-putih SD hingga putih-abu-abu sekarang, posisi ranking satu di kelas maupun juara umum paralel satu angkatan tak pernah lepas dari genggamannya. Dia adalah trofi berjalan bagi kedua orang tuaku. Dia dimanja, segala keinginannya dipenuhi, dan setiap langkahnya selalu diiringi tepuk tangan.

Sedangkan aku? Aku hidup di kutub yang berlawanan. Aku tak pernah sekalipun mendapatkan perlakuan apik itu. Beda kasta. Beda perlakuan.

Mungkin karena otakku tak secerdas Badai. Mungkin karena di mata mereka, apa yang bisa dibanggakan dari seorang anak perempuan yang kerjaannya hanya mengurung diri di kamar membaca novel fiksi seharian, lalu memutuskan bekerja di kafe karena gagal masuk PTN?

Bahkan ruang makan yang seharusnya menjadi tempat paling hangat bagi sebuah keluarga untuk saling merangkul, bagiku tak ubahnya seperti ruang sidang pengadilan. Di meja makan itulah aku sering kali dihabisi lewat kata-kata. Aku dibandingkan dengan adikku sendiri secara terang-terangan.

"Liat tuh adikmu, Badai. Nilai tryout-nya nyaris sempurna. Kamu itu sebagai kakak mbok ya ngasih contoh yang bener, jangan baca buku khayalan terus."

Dibandingkan dengan anak tetangga itu rasanya sudah biasa, tapi dibandingkan dengan adik kandung sendiri? Itu menghancurkan harga diri hingga ke akar. Bayangkan rasanya menjadi kakak yang seharusnya menjadi teladan, namun diposisikan layaknya benalu yang tidak memiliki pencapaian apa-apa.

Hubunganku dengan Badai pun menjadi korban. Di dalam rumah yang sama, kami hidup layaknya dua orang asing yang tak sengaja menyewa kamar indekos yang sama. Kami nyaris tak pernah saling sapa, tak pernah saling tatap.

Secara logika aku selalu menasihati diriku sendiri bahwa itu tidak masalah. Tapi aku ini manusia fana. Aku punya segumpal daging bernama hati. Dianggap sebagai makhluk rendahan tak berguna oleh orang tua yang melahirkanmu sendiri adalah patah hati terbesar dan paling menyakitkan bagi seorang anak.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengusap setitik air mata yang hampir jatuh di sudut kelopakku. Sudah cukup sesi curhat melankolisnya. Menangisi nasib tidak akan mengubah takdir. Aku harus kembali menghadapi layar ponsel di genggamanku.

Aku mengurungkan niatku untuk terus menelepon mereka. Percuma. Panggilan tak terjawab itu hanyalah bukti bahwa aku harus berdiri di atas kakiku sendiri.

Aku memantapkan hati, mensugesti diriku sendiri bahwa apa pun hasilnya, aku akan baik-baik saja. Bibirku mungkin bisa dengan mudah berbohong berkata "aku nggak terlalu berharap banyak, kok," kepada teman-teman kafe. Tapi jauh di dasar hatiku yang paling jujur, siapa manusia di dunia ini yang tidak ingin diterima? Siapa yang tidak ingin melihat warna biru memeluk namanya? Aku menginginkannya, mati-matian menginginkannya.

Jemariku mulai bergerak mengetikkan dua belas digit Nomor Pendaftaran, dilanjutkan dengan Tanggal Lahirku di kolom password.

Tinggal satu ketukan lagi. Hanya tinggal menekan satu kotak biru bertuliskan 'Lihat Hasil'.

Namun, tepat di saat jariku mengambang di atas layar, tiba-tiba sebuah bayangan menutupi sinar matahari dari atasku. Sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol menjulur lurus ke depan wajahku, menyodorkan beberapa lembar uang kertas sepuluh ribuan.

Aku mendongak dengan kaget.

Lihat selengkapnya