Biru untuk Langit

Asrofi
Chapter #4

3. Kabar Baik (Buruk)

Ada kabar yang mekar indah mewangi saat dibagikan dengan orang yang tepat. Namun, ada pula kabar yang layu seketika saat dijatuhkan di atas tanah yang salah. Terkadang, keluarga tidak melulu soal ikatan darah dan kartu keluarga. Keluarga adalah sekumpulan orang asing yang bersedia merengkuhmu erat, tepat di saat rumahmu sendiri menjelma menjadi tempat yang paling dingin di bumi.

***

Jalanan aspal yang memantulkan sisa panas matahari sore terasa tidak nyata di bawah telapak sepatuku. Aku tidak sedang berjalan, aku berlari. Setengah melayang. Udara Jogja yang biasanya pengap dan berpolusi tiba-tiba terasa seperti oksigen murni yang diimpor dari pegunungan.

Tujuanku hanya satu: Cafe Ceria.

Meskipun jam kerjaku sudah usai, tempat itu adalah episentrum kehidupanku. Aku harus membagikan ledakan kebahagiaan ini kepada mereka lebih dulu. Kepada orang-orang yang selama satu tahun terakhir bersedia menampung keluh kesahku, menadahi air mataku saat aku hancur oleh keadaan rumah, dan menjadi satu-satunya alasan aku masih waras. Kafe itu adalah rumah keduaku, dan Kak Nadine adalah figur kakak kandung yang tak pernah dilahirkan dari rahim ibuku.

Lonceng kecil di atas pintu bergemerincing nyaring saat aku mendorong pintu kaca kafe itu dengan tergesa-gesa.

"Hah... hah... hah..."

Napas kasarku memburu, dadaku naik turun tak beraturan. Aku berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit berantakan tertiup angin dan mata yang berbinar-binar.

Bumi, yang sedang mengelap mesin espresso, langsung menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut dalam melihat wujudku.

"Woi, Sky. Lo kenapa dah?" tegur Bumi, menatapku dari atas ke bawah. "Perasaan tadi pas keluar dari sini muka lo udah kayak orang kesurupan jin pesimis, sekarang balik-balik malah ngos-ngosan kayak abis dikejar anjing sekampung. Kenapa lo?"

Kak Lisa, yang baru saja datang untuk memulai shift sorenya bersama Bumi, ikut menoleh dari arah meja pelanggan yang sedang ia bersihkan. "Sky? Kamu lari-lari dari mana? Minum dulu sana, muka kamu merah banget."

Kak Lisa jelas tidak tahu-menahu soal kalender hari ini. Ia tidak tahu bahwa jam tiga sore tadi adalah momen penentuan hidup dan matiku.

Mendengar keributan kecil di area depan, Kak Nadine muncul dari balik pintu pantri. Sementara di dalam sana, sayup-sayup kulihat Kak Rangga-barista shift penuh yang sama-sama pejuang dapur seperti Kak Nadine-sedang sibuk menyeduh pesanan.

Mata Kak Nadine langsung membulat melihat keadaanku. Insting keibuannya bekerja lebih cepat dari logika siapa pun di ruangan ini. Tanpa banyak bertanya, ia segera meraih segelas air es dari dispenser, lalu berjalan setengah berlari menghampiriku.

"Sky, duduk dulu sini," Kak Nadine menarik tanganku, menuntunku ke salah satu kursi bar yang kosong. Ia menyodorkan gelas itu ke bibirku. "Minum perlahan. Jangan rakus, nanti tersedak."

Aku meneguk air dingin itu. Sensasinya menyejukkan kerongkonganku yang kering kerontang akibat menangis dan berlari.

Kak Nadine menatapku lekat-lekat. Tangannya yang masih berbau aroma rempah masakan mengusap peluh di dahiku. Ia tahu persis apa yang membawaku berlari kembali ke mari. Namun, ia tampak ragu untuk menjatuhkan pertanyaan itu di saat situasinya masih terasa sangat panas dan mendebarkan.

"Gimana... hasilnya, Sky?" tanya Kak Nadine pada akhirnya, suaranya teramat pelan, seolah takut jika pertanyaannya akan memecahkan hatiku seperti gelas kaca.

Mendengar pertanyaan itu, sisa-sisa pertahananku runtuh.

Bibirku bergetar. Air mata yang kukira sudah habis di taman tadi, kembali menggenang dan tumpah tanpa bisa dicegah. Tapi kali ini, ini murni tangisan euforia. Tangisan seorang pejuang yang baru saja melihat fajar setelah malam yang sangat panjang.

Aku menghambur, menubruk tubuh Kak Nadine dan memeluknya erat-erat.

"Aku lolos, Kak..." isakku di ceruk bahunya. "Warnanya biru. Aku diterima, Kak. Aku masuk Fakultas Kehutanan UGM."

Tubuh Kak Nadine seketika menegang sesaat karena terkejut, sebelum akhirnya ia membalas pelukanku dengan tak kalah erat. Terdengar tawa lega sekaligus isak haru yang tertahan dari bibirnya.

"Alhamdulillah... Ya Allah, selamat ya, Sky," bisik Kak Nadine sambil mengelus punggungku yang bergetar. "Kakak udah bilang apa, kan? Kamu pasti masuk tahun ini. Kakak tahu persis seberapa keras kamu berdarah-darah belajar setahun ini sambil kerja. Kamu pantes banget dapet ini."

Suasana kafe yang tadinya diwarnai musik lo-fi mendadak berubah menjadi panggung selebrasi. Semua rekan kerjaku tahu betapa sakralnya impian itu bagiku.

"Wih! Gila, serius lo, Sky?!" seru Bumi, senyum tengilnya berubah menjadi senyum bangga yang tulus. "Keren banget lo! Lulus juga akhirnya dari kutukan gap year!"

Kak Lisa yang baru menyadari situasinya langsung meletakkan kain lapnya dan ikut memelukku dari samping. "Ya ampun, Sky! Selamat ya, Sayang! Akhirnya usahamu nggak sia-sia!"

Bahkan Kak Rangga menyempatkan diri keluar dari pantri, mengacungkan dua jempolnya tinggi-tinggi ke arahku sambil tersenyum lebar. "Mantap, Sky! Selamat menempuh hidup baru sebagai mahasiswa!"

Aku mengusap air mataku yang membasahi celemek Kak Nadine, tertawa di tengah tangisanku. Rasa hangat ini... ini adalah perasaan diterima yang selalu kudambakan.

"Sebagai hadiah kelulusan kamu," Kak Nadine menangkup kedua pipiku, menatapku dengan mata yang ikut berkaca-kaca, "malam ini kita makan besar. Kakak yang traktir. Kita makan di restoran fancy yang ada di pertigaan jalan itu. Kamu boleh pesen daging steak paling mahal di sana."

Mendengar kata sakti "traktir", radar di kepala Bumi langsung menyala terang. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke atas meja bar dengan mata berbinar-binar. "Wah, ada acara makan-makan nih? Ikut dong, Kak Nad! Gue juga laper nih, mau makan enak gratisan."

"Enak aja!" tolak Kak Nadine mentah-mentah, menepis tangan Bumi. "Ini traktiran eksklusif khusus buat merayakan Sky. Lo kan masih jam kerja, Bum. Urus tuh pelanggan, jangan mikirin perut terus."

Aku yang masih menyimpan sedikit sisa kekesalan akibat kejahilan Bumi siang tadi, tak melewatkan kesempatan emas ini. Aku menoleh ke arahnya, memberikan tatapan sinis penuh kemenangan sambil menjulurkan lidah. "Makanya, jadi cowok jangan suka ngagetin orang. Kena karma kan lo, nggak diajak makan enak."

Lihat selengkapnya