Orang-orang mendaki gunung bukan untuk menaklukkan puncaknya, melainkan untuk menundukkan ego dan tumpukan beban di pundak mereka sendiri. Dan bagiku, ketinggian adalah satu-satunya pelarian yang tersisa, tempat di mana gravitasi bumi sejenak berhenti menghakimi luka-lukaku.
***
Dua minggu telah berlalu sejak layar ponselku memancarkan warna biru pembawa kabar kelulusan itu. Dan sebagai bentuk perayaan-sekaligus sebuah pelarian kolektif dari rutinitas yang mencekik-aku dan keluarga keduaku memutuskan untuk melarikan diri ke pelukan alam.
Gunung Bromo. 2.329 meter di atas permukaan laut.
Kami berlima-aku, Kak Nadine, Bumi, Kak Rangga, dan Kak Lisa-telah mengantongi izin cuti sakti selama dua hari dari pemilik Cafe Ceria. Kebetulan sekali jadwalnya jatuh tepat pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Sebuah kebetulan yang seolah memang direstui oleh semesta.
Udara dini hari di area parkir basecamp terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk pori-pori kulit. Angin gunung berhembus liar, membawa hawa dingin yang sukses membekukan ujung hidung dan jari tangan. Jam di pergelangan tanganku baru menunjuk pukul tiga pagi. Gelap masih merajai segalanya. Namun, antusiasme kami untuk mengejar sunrise-matahari terbit-di puncak Bromo telah mengalahkan rasa kantuk yang membebani pelupuk mata.
Aku berdiri merapatkan ritsleting jaket windbreaker tebal berwarna navy yang kukenakan. Untuk menyiasati suhu yang merosot tajam ini, aku telah melakukan ritual wajib yang diajarkan oleh Kak Nadine sang pendaki profesional: menempelkan belasan lembar koyo panas di area strategis tubuhku-di tengkuk, bahu, perut, hingga betis. Sebuah trik konyol namun teramat ampuh untuk mencegah tubuhku tumbang karena hipotermia di tengah medan pendakian.
"Guys, headlamp sama senter cadangan udah dipastiin nyala semua, kan?" instruksi Kak Nadine, suaranya sedikit teredam oleh buff tebal yang menutupi separuh wajahnya.
"Aman, Komandan!" sahut Kak Rangga santai, menepuk tas ransel gunungnya.
Ini bukanlah kali pertama kami menginjakkan kaki di tanah Bromo. Faktanya, ini adalah pendakian keduaku di gunung ini. Dulu, Bromo adalah gunung pertama yang merenggut keperawanan pendakianku, tepat di bulan-bulan awalku bekerja sebagai karyawan baru di kafe. Kala itu Bumi belum bergabung, ia baru masuk sebulan setelahnya. Sayangnya, saat itu tidak ada perayaan apa-apa, hanya sekadar iseng mencoba.
Namun sejak saat itu, hobi ini berubah menjadi candu. Selama satu tahun terakhir, aku dan rekan-rekan kerjaku telah mencatatkan enam kali pendakian di berbagai gunung berbeda. Dan subuh ini, adalah perjalanan ketujuh kami.
Tradisi melarikan diri ke gunung ini sebenarnya adalah hak paten milik Kak Nadine. Dulu, hanya dialah satu-satunya makhluk di kafe kami yang memiliki hobi ekstrem memanggul carrier berat menembus hutan. Kemudian, Kak Rangga dan Kak Lisa yang penasaran perlahan mulai mengekor, murni karena alasan solidaritas teman kerja dan ingin tahu rasanya mendaki. Siapa sangka, mereka yang awalnya hanya iseng, perlahan mulai jatuh cinta pada sunyi dan tenangnya suasana puncak gunung. Bagi mereka, ketinggian adalah ruang healing paling mujarab untuk membilas segala frustrasi dan penatnya menjadi orang dewasa di kota.
Dari situlah, aku dan Bumi akhirnya ikut terseret arus.
Bagi orang sepertiku yang membawa koper beban psikologis dari rumah, gunung adalah tempat yang sangat magis. Di hamparan alam liar yang tak bertepi itu, aku merasa bebas. Aku bisa berekspresi, berteriak, atau sekadar menangis dalam diam tanpa takut dihakimi oleh dinding-dinding rumah yang membeku.
Kalau Bumi? Entahlah. Sampai detik ini aku tidak tahu pasti apakah pemuda tengil itu benar-benar menikmati aktivitas melelahkan ini atau tidak. Tapi anehnya, dia selalu mendaftarkan namanya setiap kali kami merencanakan trip. Dan ini sudah menjadi pendakian kelimanya.
"Logistik sarapan udah masuk semua ke tas gue. Cuma bawa nesting kecil sama kompor portable," lapor Kak Rangga.
Karena misi kami subuh ini murni hanya untuk tek-tok-mengejar sunset, menikmati momen sebentar, lalu langsung turun kembali tanpa mendirikan tenda untuk camp-barang bawaan kami tergolong sangat ringan.
Di sisi lain, Kak Lisa sudah sibuk men-setting kamera mirrorless-nya. Lensa kameranya menyorot kami satu per satu, merekam persiapan kami di bawah remang lampu basecamp.
Secara tidak langsung, Kak Lisa sudah dinobatkan sebagai seksi PDD (Publikasi, Dokumentasi, dan Desain) sejati dalam setiap perjalanan kami. Rekam jejaknya sebagai mantan anggota divisi PDD di organisasi kampusnya dulu memang tidak bisa berbohong. Ke mana pun kami melangkah, kamera itu tak pernah lepas dari tangannya. Hasil jepretan estetik dan vlog pendek bernuansa sinematik yang ia rekam selalu berujung menjadi konten manis di akun Instagram pribadinya. Tak heran jika saat ini followers-nya sudah menembus angka lima puluh ribu pengikut. Kontennya memang sekelas travel vlogger profesional.
"Semuanya liat kamera bentar! Smile sebelum muka kita pada kucel berdebu!" seru Kak Lisa dari balik kameranya. Kami serempak memamerkan cengiran dan pose peace.
Tepat pukul 03:19 WIB, langkah pertama pendakian kami resmi dimulai.
Kami menyusuri jalur setapak yang membelah kegelapan. Tidak ada cahaya selain sorot kekuningan dari senter dan headlamp kami yang membelah pekatnya rahim malam. Suara langkah sepatu gunung yang bergesekan dengan pasir dan kerikil terdengar berirama, berpadu dengan ritme napas kami yang perlahan mulai memburu.
Jalur yang kami pilih kali ini adalah rute Cemoro Lawang. Kak Nadine sengaja memilihnya karena medannya relatif jauh lebih bersahabat dan landai dibandingkan rute lainnya, sekaligus memiliki spot view paling strategis untuk menyaksikan detik-detik matahari terbit.
Namun, yang namanya gunung tetaplah gunung. Tanjakan yang terus menguji daya tahan betis perlahan mulai merampas pasokan oksigen di paru-paru.
Memori masa laluku kembali berputar saat aku melewati sebuah tanjakan yang cukup terjal. Aku ingat betul, saat pertama kali aku mendaki Bromo dulu, aku benar-benar hampir menyerah. Jalurnya terasa teramat menyiksa bagi fisikku yang tidak pernah dilatih. Aku berhenti untuk mengatur napas hingga jumlahnya tak terhitung lagi. Beruntung, aku dikelilingi oleh senior-senior kerja yang luar biasa suportif. Mereka tak pernah sekalipun mengeluh atau meninggalkanku.
Bahkan, aku masih ingat jelas tragedi saat kami mendaki Gunung Ciremai beberapa bulan lalu. Kakiku terkilir parah di tengah jalur. Kak Rangga, tanpa banyak bicara, membiarkan tasnya dibawakan oleh Bumi dan langsung menggendongku di punggungnya melewati medan berbatu hingga mencapai titik aman. Di lingkungan pertemanan inilah, aku menemukan definisi keluarga yang sesungguhnya.
"Sky..."
Sebuah suara bisikan bernada putus asa terdengar tepat di belakang punggungku.
Aku menoleh sedikit. Bumi berjalan mengekor dengan napas yang terdengar terengah-engah dan kasar. Wajahnya yang biasa tengil kini terlihat memelas, diterpa cahaya senterku.