Biru untuk Langit

Asrofi
Chapter #6

5. 2329 Mdpl Bagian 2

Bumi ini terlampau luas untuk dihuni oleh miliaran manusia. Maka, ketika semesta mempertemukanmu dengan orang asing yang sama untuk kedua kalinya di titik koordinat yang berbeda, itu bukan lagi sekadar kebetulan matematis. Itu adalah semesta yang sedang berbisik,"Perhatikan baik-baik, aku sedang merajut takdirmu."


***

Angin puncak Bromo berhembus semakin kencang, membawa serta aroma belerang tipis yang bercampur dengan embun pagi. Di tengah lautan manusia yang sedang menanti fajar, mataku terkunci mati pada satu titik. Tanganku yang sedari tadi bersembunyi di dalam saku jaket windbreaker, perlahan keluar dan menyenggol lengan Kak Nadine yang berdiri tepat di sebelahku.

"Kak," panggilku setengah berbisik, berusaha agar suaraku tak tersapu angin. "Liat ke arah jam dua, deh. Agak jauh di deket batu besar itu."

Kak Nadine menolehkan kepalanya, memicingkan mata mencoba menembus keremangan pagi. "Kenapa? Ada artis ibukota muncak?"

"Bukan," aku menelan ludah. "Kakak inget cowok aneh bin ajaib yang aku ceritain pas kita makan steak waktu itu? Cowok yang nabrak aku terus ngembaliin uang kembalian ganti rugi telur itu?"

"Inget, inget. Si kulkas dua pintu yang matanya kosong itu, kan? Kenapa emangnya?"

"Itu dia orangnya, Kak," aku menunjuk samar dengan daguku. "Yang pake hoodie hitam, rambutnya belah tengah berantakan, posisinya berdiri paling belakang di rombongan cowok berempat itu."

Mata Kak Nadine langsung memindai kerumunan layaknya radar sniper. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sosok yang kumaksud. Dari jarak sekitar lima belas meter ini, postur tubuh laki-laki itu memang terlihat menjulang dan mencolok di antara teman-temannya. Ia berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku hoodie, posturnya tegap, namun ada aura dingin yang memancar kuat darinya, mengalahkan suhu dua derajat celcius di Bromo ini.

Kak Nadine terdiam sejenak mengamati profil wajah laki-laki itu, lalu sebuah senyum jahil yang sangat menyebalkan terbit di bibirnya. Ia menoleh ke arahku dengan alis yang dinaik-turunkan menggoda.

"Pantesan..." gumam Kak Nadine dengan nada penuh arti. "Pantesan aja lo nolak mentah-mentah pas gue jodohin sama si Bumi tadi. Ternyata standar selera lo yang modelan badboy misterius kayak gitu, ya? Cakep sih emang, Sky. Auranya manly banget. Ganteng, tinggi, pas lah kalo lo mau ngarep."

Aku langsung mendelik horor. "Apaan sih, Kak! Ngawur banget sumpah. Siapa juga yang nyimpen rasa suka sama cowok nyebelin kayak dia? Kan aku udah bilang, kita ketemunya juga murni cuma kebetulan gara-gara aku nabrak telurnya pecah. Gak ada romantic tension sama sekali!" Mulutku dengan fasih membantah, menyangkal tuduhan Kak Nadine. Namun, di dalam palung hatiku yang paling sunyi, degup jantungku berkhianat.

Menatap rahang tegas dan tatapan kosong laki-laki di seberang sana, aku seperti melihat bayangan yang tumpang tindih. Bayangan tentang sosok cowok dari masa SMP-ku yang dulu pernah memonopoli seluruh ruang pikiranku. Bahkan mungkin, sampai detik ini ia masih bertahta di sana.

Biru Samudra.

Hanya segelintir orang di dunia ini yang tahu bahwa seorang Aira Langit Az-Zahra pernah mencintai seorang laki-laki sedalam itu di masa lalu. Bahkan Kak Nadine, tempatku membuang segala rahasia keluh kesahku, tidak pernah tahu soal eksistensi Biru. Aku merahasianya dengan sangat rapat di dalam jurnal dan dompetku, karena kurasa kepingan masa lalu itu tak perlu diceritakan. Atau mungkin, aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk membuka kotak pandora itu.

"Kalo emang lo nggak ada rasa, mending sekarang lo samperin dia gih," dorong Kak Nadine, menyikut pinggangku. "Kenalan yang bener. Waktu di Jogja kan lo bilang nyesel belum sempet nanya namanya. Ini kesempatan emas, Sky."

"Ih, ogah banget!" tolakku cepat, mundur selangkah. "Buat apaan juga kenalan? SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) banget aku nyamperin cowok rombongan gitu. Lagian kan urusan kita udah selesai pas aku ganti rugi belanjaannya. Nggak ada utang budi apa-apa lagi."

"Yee, dibilangin ngeyel. Ini tuh langka banget, Sky!" Kak Nadine bersikeras, jiwa mak comblangnya meronta-ronta. "Dunia ini luas banget lho. Populasi manusia ada miliaran. Peluang lo buat ketemu orang asing yang sama untuk kedua kalinya di tempat sedingin dan setinggi ini tuh nyaris mustahil! Ini tanda alam, Sky. Samperin!"

Aku menggeleng kuat-kuat. Bibirku terbungkam rapat, tapi mataku terus mencuri pandang ke arah laki-laki berhoodie hitam itu.

Jujur, separuh jiwaku sangat penasaran dengannya. Semakin lama aku memperhatikannya dari jauh, entah kenapa aku semakin melihat sosok Biru dari dalam dirinya. Dari cara berdirinya yang enggan bersosialisasi, dari bentuk wajahnya yang kaku, dan dari tatapan matanya yang terlampau sunyi. Hampir seratus persen sama, meski aura suram laki-laki ini terasa jauh lebih pekat dan mematikan daripada Biru yang kukenal enam tahun lalu.

Melihatku yang terus membatu, Kak Nadine berdecak kesal.

"Kalo lo cemen, yaudah biar gue yang turun tangan!"

Belum sempat aku memproses ucapannya, Kak Nadine sudah memutar tubuhnya dan melangkah santai menuju rombongan empat cowok itu.

"KAK NADINE! JANGAN GILA DEH!" jeritku tertahan, panik setengah mati.

Aku ingin mengejarnya dan menarik jaketnya mundur, tapi langkahku terpaku di tanah berpasir. Otakku membeku. Bagaimana kalau Kak Nadine mengatakan hal-hal yang memalukan di depan cowok itu? Bagaimana kalau Kak Nadine bilang aku yang menyuruhnya ke sana?! Mau ditaruh di mana harga diriku sebagai calon mahasiswi UGM?!

Dari kejauhan, aku melihat Kak Nadine dengan luwesnya menyapa rombongan itu. Kemampuannya beradaptasi dan membuka obrolan dengan orang baru memang setara kecepatan cahaya. Keempat cowok itu tampak merespons Kak Nadine dengan ramah. Ya, siapa juga cowok normal yang berani menolak diajak mengobrol oleh perempuan secantik Kak Nadine? Dengan balutan jaket gunung yang modis dan rambut panjang yang diikat ponytail, pesona seniorku itu tak ubahnya seperti aktris drama Korea yang sedang syuting di alam liar.

Tak berapa lama mengobrol, Kak Nadine menoleh ke arahku. Dan hal yang paling kutakutkan terjadi. Ia melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arahku, memanggilku untuk bergabung. Parahnya lagi, teman-teman rombongan dari cowok itu—kecuali si cowok aneh yang tetap berwajah datar—ikut-ikutan tersenyum ramah dan melambaikan tangan memanggilku.

Mati aku. Mukaku pasti sudah semerah kepiting rebus karena malu. Aku memalingkan wajah, pura-pura menatap kawah Bromo yang masih gelap.

Di saat aku sedang dilanda krisis kepanikan, Bumi yang baru saja selesai membereskan peralatan masak berjalan menghampiriku. Tangannya menyodorkan sebatang cokelat Silverqueen berukuran besar kesukaanku.

"Nih, asupan gula buat nambah energi maba," kata Bumi ceria.

Namun, saat ia berniat menaruh cokelat itu di tanganku, perhatiannya teralih melihat posisiku yang berdiri mematung menatap arah lain. Mata Bumi mengikuti arah pandanganku. Di sana, ia melihat Kak Nadine sedang berdiri di tengah rombongan cowok asing yang tak berhenti melambaikan tangan ke arah kami.

"Loh? Kak Nadine ngapain di sana?" dahi Bumi berkerut. Ia menatapku bingung. "Kenapa lo diem aja, Sky? Siapa rombongan itu? Lo kenal sama mereka?"

Aku gelagapan, meremas ujung jaketku. "Ehh... ya... aku cuma kenal salah satu cowok dari mereka, Bum. Tapi... aku gatau namanya siapa."

Alis Bumi menukik tajam, membentuk raut wajah paling tidak paham se-dunia. "Hah? Logika macem apa itu? Lo kenal orangnya tapi lo gatau namanya siapa? Lo temenan jalur telepati batin apa gimana ceritanya, sih? Aneh banget lo."

"Panjang ceritanya, Bum! Udah gausah kepo!" sungutku menutupi rasa gugup.

"Lah, terus ngapain lo masih mangkrak di sini jadi patung tugu? Itu lo dipanggilin sama Kak Nadine suruh ke sana. Buruan nyamperin, keburu disorakin," tegur Bumi logis.

"Aku... aku gatau mau ngomong apa ke mereka, Bum. Takut," cicitku jujur, meremas-remas tali ransel kecilku. Ragu, malu, dan canggung berpadu menjadi satu racun yang melumpuhkan kakiku.

Lihat selengkapnya