Biru untuk Langit

Asrofi
Chapter #7

6. Semua tentang Dia

Cinta pertama sering kali bukan tentang memiliki, melainkan tentang mengumpulkan kepingan memori secara diam-diam. Ia hidup abadi di sudut ruang kepala, menetap di sana, menolak pergi meski waktu telah menggerus ribuan nama lain yang mencoba singgah.


***

Sebelum kakiku benar-benar melangkah menghampiri Kak Lisa yang sedang berjongkok menodongkan kamera di bibir tebing, pandanganku tanpa sadar kembali terkunci pada sosok jangkung berhoodie hitam di sana.

Biru Samudra.

Melihatnya berdiri nyata menantang angin Bromo di depanku, membuat mesin waktu di kepalaku berputar mundur dengan kecepatan brutal. Membawaku kembali pada sebuah lorong waktu enam tahun lalu. Masa berseragam putih-biru, di mana segalanya terasa jauh lebih sederhana, namun perasaanku padanya sudah serumit rumus fisika.

Ingatanku melayang pada sebuah momen spesifik. Puncak dari segala usahaku mendekatinya: Ujian Praktik Seni Budaya kelas sembilan.

Saat itu, takdir dengan berbaik hati menempatkan namaku dan Biru di dalam satu kelompok yang sama. Tugas kami adalah menampilkan sebuah musikalisasi drama. Kelompok kami dipimpin oleh seorang gadis bernama Indah. Gadis paling populer di kelas, yang dengan sangat kebetulan, juga menyimpan rasa suka yang terang-terangan kepada Biru. Sama sepertiku.

Naskah yang kami pilih kala itu adalah adaptasi bebas dari dongeng klasik, Sang Pangeran Katak.

Sebuah kisah klise tentang pangeran tampan yang dikutuk menjadi katak buruk rupa oleh penyihir jahat, dan kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh ciuman tulus dari seorang putri kerajaan. Tentu saja, sebagai ketua kelompok yang memiliki hak veto absolut, Indah langsung menunjuk dirinya sendiri untuk memerankan sang Putri Kerajaan. Dan dengan kekuasaan yang sama, ia menunjuk Biru untuk menjadi sang Pangeran Katak.

Lalu, di mana posisiku? Dengan senyum manis yang penuh dengan bisa kebanggaan, Indah menyerahkan selembar naskah tipis kepadaku. Aku ditugaskan menjadi sang Penyihir Jahat.

Bisa kalian bayangkan bagaimana hancurnya perasaanku saat itu? Di usia remaja di mana hormon sedang mekar-mekarnya, aku harus berdiri di sudut panggung dengan jubah hitam konyol, memegang tongkat sapu, dan dipaksa menyaksikan cowok yang kusukai diam-diam beradu akting romantis dengan gadis lain. Setiap hari, selama satu bulan penuh masa latihan, aku menelan pil pahit kecemburuan. Aku harus melihat bagaimana Indah memanfaatkan perannya sebagai sang Putri untuk mencuri-curi kedekatan fisik dengan Biru. Memegang tangannya, menatap matanya, dan berpura-pura jatuh cinta—yang kutahu persis, bagi Indah itu bukanlah pura-pura.

Puncaknya terjadi di hari pementasan.

Aula sekolah dipenuhi oleh ratusan pasang mata. Semuanya berjalan sesuai naskah hingga adegan terakhir tiba. Adegan di mana sang Putri harus memberikan 'ciuman pembebas kutukan' kepada sang Pangeran Katak. Tentu saja itu hanyalah ciuman bohongan, sebuah trik panggung di mana Indah hanya perlu memiringkan kepalanya dan menutupinya dengan punggung tangan.

Namun, saat melihat Indah mencondongkan tubuhnya perlahan ke arah Biru di tengah panggung yang disorot lampu terang, dengan wajah yang merona dan mata terpejam penuh harap... pertahananku jebol.

Emosi yang kutahan selama satu bulan meledak tanpa ampun. Otakku kehilangan kewarasan.

Aku, sang Penyihir Jahat yang seharusnya sudah mati di adegan sebelumnya, tiba-tiba bangkit berdiri. Aku berlari menyerbu ke tengah panggung, melupakan seratus persen naskah yang sudah kami hafal mati-matian. Dengan gerakan yang sangat teatrikal namun didorong oleh amarah nyata, aku mendorong bahu Indah dengan sangat keras hingga gadis itu jatuh terduduk ke lantai panggung dengan wajah terkejut setengah mati.

Tidak berhenti di situ, aku langsung menarik kerah kostum pangeran yang dikenakan Biru, lalu menyeretnya lari bersamaku turun dari atas panggung, meninggalkan Indah yang melongo tak percaya di bawah sorot lampu sorot.

Aula seketika hening. Mati sunyi selama lima detik.

Lalu, meledaklah tawa dan sorakan gemuruh dari seluruh siswa satu angkatan dan guru-guru yang menonton. Tepuk tangan standing ovation bergema memenuhi ruangan. Mereka mengira itu adalah bagian dari naskah. Sebuah plot twist komedi yang brilian di mana sang penyihir jahat bangkit kembali, menggagalkan cinta sejati, dan menculik sang pangeran!

Kelompok kami mendapatkan nilai A Plus yang sempurna dari guru kesenian karena dianggap memiliki "inovasi luar biasa yang mendobrak pakem dongeng klasik". Tentu saja, di balik panggung, aku langsung dimusuhi habis-habisan oleh Indah dan kroni-kroninya. Aku dikucilkan selama berminggu-minggu setelahnya.

Tapi tahukah kalian? Aku sama sekali tidak menyesal.

Karena di balik layar panggung hari itu, saat aku menyeret Biru berlari menyusuri lorong sekolah yang sepi dengan napas tersengal-sengal... untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku melihat Biru tertawa.

Bukan tawa sinis atau tawa formalitas. Itu adalah tawa yang sangat lepas, renyah, dan tulus. Wajah datarnya yang selalu terlihat murung itu tiba-tiba memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan. Matanya menyipit, bahunya terguncang karena ia tak bisa menahan kegelian melihat tingkah random-ku yang mengacaukan pementasan demi menyelamatkannya dari ciuman Indah.

Tawa itu... senyum tulus itu... adalah bayaran yang lebih dari cukup meski aku harus dimusuhi oleh satu kelas. Dan detik itu juga, aku tahu, hatiku telah jatuh dan terperangkap ke dalam lubang yang terlalu dalam untuk bisa diselamatkan.

Namun sekarang, setelah enam tahun terpisahkan oleh jarak dan waktu, apakah kepingan memori itu masih tersimpan di dalam ruang kepala Biru?

Aku sangat yakin jawabannya adalah: Tidak. Biru tak mungkin mengenaliku hari ini.

Dulu, saat di Jember, seluruh teman sekolah memanggilku dengan nama depanku, Aira. Tak ada satu pun yang memanggilku Sky. Panggilan 'Sky' itu lahir dari lidah Kak Nadine satu tahun yang lalu saat aku mulai bekerja di kafe. Katanya, 'Langit' itu terlalu panjang untuk diteriakkan saat kafe sedang ramai, jadi ia memelesetkannya menjadi bahasa Inggris: Sky. Dan sejak saat itu, seluruh rekan kerjaku memanggilku dengan nama itu.

Keberuntungan benar-benar berpihak padaku beberapa menit yang lalu. Saat Kak Nadine memperkenalkanku pada rombongan Biru, ia hanya menyebut nama 'Sky', bukan Aira Langit Az-Zahra. Fakta itu menjadi tameng pelindungku. Biru tidak menyadari bahwa gadis SNBT yang menabraknya tempo hari, yang kini berdiri di pucuk Bromo ini, adalah Aira; teman satu kelasnya sekaligus teman dekatnya.

Biar saja. Biarlah ini menjadi rahasia yang kusimpan sendiri.

Aku menghembuskan napas panjang, mengusir kabut nostalgia itu, lalu kembali melangkah menghampiri posisi Kak Lisa. Di bibir tebing ini, pemandangan luar biasa sedang terhampar.

Kak Nadine, Bumi, Kak Rangga, dan ketiga teman Biru tampaknya lebih memilih untuk menikmati sunrise sambil duduk santai di atas karpet yang sudah kami gelar tadi, bertukar candaan dan membuka bekal sarapan. Hanya aku dan Kak Lisa yang berdiri di batas aman tebing ini, menatap lurus ke arah cakrawala.

Perlahan, sinar keemasan mulai merobek selimut awan. Bias sinarnya menyentuh wajahku, menghangatkan kulit yang kebas oleh suhu dua derajat celcius.

Tiba-tiba, dari sudut mata kananku, aku menangkap sebuah pergerakan. Seseorang melangkah mendekat dan akhirnya berdiri mematung hanya berjarak satu lengan di sebelah kananku.

Itu dia. Biru.

Ia tidak bergabung duduk dan tertawa bersama Randy atau Bumi di belakang sana. Laki-laki itu memilih memisahkan diri, berdiri menatap kemegahan fajar yang perlahan merekah.

Lihat selengkapnya