Biru untuk Langit

Asrofi
Chapter #8

7. Senior Kampus

\Jika takdir adalah seorang penulis skenario, maka ia pasti memiliki selera humor yang sangat kelam sekaligus indah. Ia menjauhkan dua manusia ribuan hari lamanya, membiarkan mereka melupa, lalu secara tiba-tiba mempertemukan mereka kembali di atas awan, hanya untuk menertawakan salah satu hati yang ternyata... tak pernah benar-benar beranjak pergi.



***

Angin puncak Bromo menerbangkan ujung hijabku. Aku menoleh ke belakang untuk yang terakhir kalinya. Di bibir tebing itu, Biru masih berdiri mematung. Punggungnya yang tegap terbalut hoodie hitam tampak begitu kontras dengan latar belakang langit ufuk timur yang kini telah sepenuhnya terbakar warna jingga dan emas. Laki-laki itu masih asyik menyelami kesunyiannya sendiri, seolah ia sedang berdialog dengan matahari terbit.

Meninggalkannya di sana dengan ruang pribadinya, aku melangkah kembali menuju karpet plastik yang telah digelar oleh rombongan kami.

Begitu kakiku menginjak area karpet, sambutan luar biasa heboh langsung menghujani gendang telingaku.

"Nah! Ini dia nih srikandi baru rimbawan kita!" seru Randy dengan suara baritonnya yang menggelegar, bertepuk tangan layaknya menyambut seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

Dimas dan Raihan—dua senior kampusku yang baru saja kukenal hitungan menit lalu—ikut tersenyum lebar dan memberikan tepuk tangan kecil yang ramah. Di sudut karpet, Bumi tak mau kalah. Pemuda tengil itu ikut-ikutan bertepuk tangan dengan gaya yang teramat berlebihan sambil bersiul nyaring.

Aku langsung memberikan tatapan sinis paling mematikan ke arah Bumi, seolah mengirimkan pesan telepati: Diem lo, nggak usah caper. Bumi hanya meresponsnya dengan cengiran kuda yang menyebalkan.

Aku menjatuhkan diri duduk bersila di sebelah Kak Nadine.

"Santai aja, Sky. Jangan tegang gitu mukanya," kata Randy membuka sesi obrolan. Di antara rombongan Biru, Randy ini jelas adalah tipe social butterfly sejati. Mesin pembuka obrolan. "Kenalin lingkungan fakultas dari sekarang itu penting. Asal lo tau ya, di Fakultas Kehutanan UGM itu lingkungannya asyik-asyik parah. Dosennya santai, katingnya humble, dan yang pasti, prodi ini tuh surga banget buat anak-anak yang emang jiwanya menyatu sama alam kayak lo gini. Suka naik gunung, kan?"

Mendengar asumsi Randy, aku hanya bisa tersenyum canggung sambil mengangguk samar.

Jujur saja, jika harus membedah isi hatiku, aku ini belum sepenuhnya pantas disebut sebagai 'pecinta alam' garis keras. Aku menyukai sensasi berdiri di puncak gunung, menghirup udara murni, dan melihat awan dari atas. Itu benar. Tapi apakah aku menyukai proses mendakinya yang membuat paru-paru mau pecah? Atau proses turun gunungnya yang menghancurkan engsel lutut dan ibu jari kaki? Oh, tentu saja tidak. Aku murni hanya menyukai hasil akhirnya. Ketinggian adalah tempat pelarianku, bukan medan bermainku.

"Bener tuh kata Randy," tambah Raihan yang sedari tadi lebih banyak diam mengamati. "Biarpun di Kehutanan itu prodinya cuma satu, tapi lo jangan salah sangka. Peminatnya tiap tahun itu membludak. UGM itu ibarat magnet raksasa. Bisa lolos dan pake almamater karung goni—eh maksudnya almamater kebanggaan UGM—itu udah jadi sebuah prestasi dan privilege tersendiri. Lo harus bangga, Sky."

"Iya, Kak. Makasih. Aku juga masih ngerasa kayak mimpi bisa lolos kemarin," balasku sopan, menundukkan kepala sedikit.

Belum sempat aku mengambil napas, Dimas yang duduk di sebelah Randy langsung memotong pembicaraan. Matanya berbinar dengan kilat seorang pemasar ulung.

"Eh, mumpung lagi ngomongin kampus, gue sekalian mau promosi nih," kata Dimas antusias. Ia menepuk dadanya sendiri. "Gue, Randy, sama beberapa anak angkatan kita itu aktif di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas. Bentar lagi kan musimnya ospek penerimaan maba. Nah, kita-kita ini yang bakal jadi panitia inti yang ngurusin kalian. Biar relasi lo makin luas, mending ntar pas udah aktif kuliah, lo open recruitment (oprec) masuk BEM aja, Sky! Dijamin link lo bakal tembus ke mana-mana."

Aku mengerutkan kening. BEM?

"Emangnya... manfaat ikut BEM itu apa ya, Kak? Selain nambah relasi?" tanyaku ragu-ragu.

Sebenarnya, aku sama sekali tidak memiliki agenda untuk bergabung dengan organisasi mana pun di kampus nanti. Rencana awal yang telah kususun rapi di kepalaku adalah menjadi mahasiswa kupu-kupu (Kuliah - Pulang, Kuliah - Pulang). Datang ke kampus untuk menyerap ilmu, mendapat IPK tinggi, lulus cepat, lalu mencari pekerjaan mapan untuk membungkam mulut orang tuaku.

Lagipula, impianku masuk Fakultas Kehutanan ini sebenarnya lahir dari sebuah memori sederhana di masa lalu. Dulu, saat aku masih SD dan aktif mengikuti kegiatan Pramuka, aku memiliki seorang kakak pembina yang sangat keren. Beliau adalah seorang alumni Fakultas Kehutanan UGM. Setiap kali kami berkemah, beliau selalu menceritakan kisah-kisah menakjubkan tentang hutan tropis Indonesia, tentang konservasi alam, dan betapa kerennya menjadi mahasiswa di sana. Secara tidak sadar, cerita-cerita itu tertanam di alam bawah sadarku, mematri sebuah obsesi kecil yang terus tumbuh hingga aku lulus SMA. Dan hobi baruku mendaki gunung bersama Kak Nadine selama setahun terakhir ini hanyalah bahan bakar tambahan yang memvalidasi pilihan itu.

Organisasi politik mahasiswa seperti BEM? Ah, rasanya itu terlalu rumit untuk isi kepalaku yang sudah ruwet.

Di saat Dimas baru saja membuka mulut untuk menjelaskan rentetan proker (program kerja) dan manfaat BEM, sebuah bayangan tinggi menutupi sinar matahari pagi yang menimpa karpet kami.

Aku mendongak. Biru telah kembali.

Laki-laki itu melangkah gontai, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana cargo, lalu menjatuhkan dirinya duduk bersila di sela-sela antara Randy dan Dimas. Tepat berseberangan lurus denganku. Aroma khas udara dingin yang bercampur dengan wangi maskulin yang menguar dari jaketnya perlahan menyapa indra penciumanku.

Kehadirannya sukses membuat jantungku kembali salah tingkah.

"Nah, pas banget lo dateng, Bi," Dimas menyeringai ke arah Biru. Ia lalu menatapku lagi. "Sky, lo wajib tau. BEM Kehutanan tahun depan bakal dipimpin sama orang-orang keren. Bentar lagi bakal ada Pemira (Pemilihan Raya). Dan asal lo tau, Biru ini bakal maju nyalonin diri jadi kandidat Calon Wakil Ketua BEM, berpasangan sama Kak Sherly—Wakil Ketua BEM kita yang sekarang!"

Pernyataan itu sontak membuat mataku membulat sempurna. Biru? Mencalonkan diri jadi Wakil Ketua BEM?!

Laki-laki yang anti-sosial, pendiam, dan memiliki mata sebeku es ini mau memimpin ratusan mahasiswa? Ini adalah plot twist paling tidak masuk akal yang kudengar pagi ini.

Mendengar ucapan Dimas, raut wajah Biru seketika berubah masam. Alis tebalnya menukik tajam, memancarkan aura permusuhan yang kental. Ia menatap Dimas dan Randy bergantian dengan tatapan ingin membunuh.

"Siapa juga yang mau lanjut ikut gituan," desis Biru dengan suara baritonnya yang berat dan mematikan. "Gue cuma dijebak sama manusia kerdil di sebelah gue ini." Biru menyikut keras rusuk Randy hingga temannya itu meringis.

"Sakit, anjir!" umpat Randy.

"Dari awal pendaftaran staf BEM tahun lalu, gue udah dipaksa dan diancem macem-macem sama dia," Biru memberikan klarifikasinya dengan nada ketus, sama sekali tidak peduli ada aku dan senior kafe yang mendengarkan.

"Nama gue dimasukin diem-diem ke form oprec. Padahal pas masuk tahap interview, gue sengaja jawab semua pertanyaan kating sengawur dan senyolot mungkin biar gue gak lolos. Logikanya gue pasti di-blacklist. Eh, taunya nama gue tetep tembus diterima. Pas gue telusuri, ternyata si bajingan ini..." Biru menunjuk Randy dengan dagunya, "...punya kakak sepupu yang jadi Kadiv (Kepala Divisi) di BEM. Main ordal (orang dalam) dia buat ngelolosin gue biar ada temennya. Sialan emang."

Lihat selengkapnya