Berada di tengah lautan ribuan manusia asing adalah sebuah ironi. Di saat ragamu berdesakan dan telingamu disesaki oleh riuh rendah sorak-sorai, sepasang matamu justru diam-diam bekerja sebagai radar yang paling sepi. Ia menolak menatap ribuan wajah yang ada, dan hanya sibuk mencari satu wajah yang tiada.
***
Bulan berganti, dan roda waktu akhirnya membawaku tiba di ambang pintu gerbang metamorfosis. Hari ini adalah hari pertamaku secara resmi menyandang gelar yang paling mendebarkan bagi setiap remaja berusia belasan tahun, Mahasiswa Baru. Atau dalam bahasa gaul kampus yang sering dilontarkan Bumi dengan nada mengejek, Maba.
Memasuki dunia kampus yang seluas dan sekompleks Universitas Gadjah Mada nyatanya benar-benar sukses membuat lambungku terasa seperti sedang diaduk-aduk. Sensasi gugup yang menjalar di sekujur tubuhku pagi ini mengalahkan rasa tegang saat menunggu pengumuman SNBT tempo hari. Ini adalah transisi. Sebuah loncatan besar dari masa putih-abu-abu menuju alam kedewasaan yang sesungguhnya.
Seperti tradisi tahunan penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus negeri pada umumnya, kami para maba diwajibkan mengikuti serangkaian agenda masa orientasi atau pengenalan kehidupan kampus yang memakan waktu satu minggu penuh.
Jadwalnya sudah disusun sedemikian rupa hingga nyaris tak memberikan kami celah untuk bernapas. Mulai dari upacara pembukaan tingkat universitas yang sakral, dilanjutkan dengan materi-materi pengenalan dari fakultas, parade Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang jumlahnya ratusan, hingga sosialisasi program-program kampus. Dan tentu saja, sebagai obat pelipur lara sebelum kami disembelih habis-habisan oleh tugas dan deadline di semester awal, minggu orientasi ini akan ditutup dengan upacara penutupan dan inagurasi—sebuah malam puncak yang katanya akan menghadirkan konser dari artis ibukota papan atas.
Untuk menghadapi minggu neraka yang membanggakan ini, aku telah mempersiapkan diriku dengan sangat matang.
Selama seminggu terakhir, aku sibuk berburu perlengkapan kuliah. Mulai dari tas ransel yang kuat untuk menampung beban laptop, buku-buku catatan tebal bersampul polos, alat tulis lengkap, hingga kemeja-kemeja berkerah yang memenuhi standar aturan ospek. Semua barang itu, tanpa terkecuali, kubeli murni menggunakan uang tabunganku sendiri; uang hasil keringatku berdiri berjam-jam di balik mesin kasir Cafe Ceria selama satu tahun terakhir.
Bukan berarti orang tuaku lepas tangan sepenuhnya. Mereka memberiku "uang saku", yang nominalnya... yah, hanya cukup untuk biaya bensin motor matic-ku dan makan siang di kantin selama beberapa hari. Sebuah nominal yang lebih terasa seperti formalitas penggugur kewajiban daripada bentuk dukungan finansial.
Tapi aku menelan keluhan itu. Aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diuntung. Setidaknya, senyebalkan apa pun perlakuan diskriminatif mereka di rumah, mereka masih bersedia melunasi tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT) kampusku yang jumlahnya tidak bisa dibilang murah. Fakta itu saja sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk tetap merapatkan bibir dan tidak banyak menuntut.
Matahari pagi Jogja tampaknya sedang bersemangat menyambut kami.
Upacara pembukaan di lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) terasa berjalan sangat lambat, selambat siput yang merayap di atas aspal panas. Berdiri mematung di tengah lapangan terbuka bersama ribuan manusia berbalut jas almamater yang sama, di bawah terik matahari yang mulai menyengat kulit kepala, benar-benar menguji batas kesabaran dan ketahanan fisik. Keringat mengalir menuruni pelipisku, membasahi ujung hijabku.
Beruntung, aku adalah penganut sekte sarapan berat. Porsi nasi uduk yang kumasukkan ke dalam perut pagi tadi sukses menyelamatkanku dari tragedi pingsan massal yang mulai menimpa beberapa maba bertubuh ringkih di barisan depan.
Setelah pidato panjang lebar dari jajaran rektorat yang penuh dengan kata-kata motivasi berapi-api itu akhirnya diakhiri dengan ketukan palu, ribuan maba langsung dipecah dan digiring kembali menuju fakultas masing-masing.
Proses mobilisasi ini tak ubahnya seperti menggembala ribuan anak bebek. Kami diarahkan oleh barisan kakak-kakak panitia dari setiap fakultas yang memegang papan nama. Suara toa berdengung di mana-mana, meneriakkan instruksi agar kami merapikan barisan.
Dan di sanalah, di antara panitia berompi khusus fakultas kami, aku melihat wujud biang kerok itu.
Bumi berdiri dengan dada membusung, memegang sebuah megaphone kecil. Saat matanya tak sengaja menangkap sosokku yang berjalan di barisan maba Kehutanan, sebuah senyum miring yang teramat menyebalkan dan penuh kepuasan langsung tercetak di wajahnya. Seolah ia sedang berkata tanpa suara: 'Selamat datang di nerakaku, Maba.'
Aku sengaja membuang muka, pura-pura tidak melihat manusia menyebalkan itu.
Sebaliknya, mataku justru bekerja bagaikan radar yang sibuk menyapu sekeliling. Sambil berjalan mengikuti arus barisan, aku terus menoleh ke kiri dan ke kanan, mengamati satu per satu wajah kakak tingkat yang menjadi panitia. Logika sederhanaku mengatakan Jika Bumi yang notabene adalah cecenguk BEM ada di sini, maka Biru—yang kabarnya dicalonkan menjadi petinggi BEM—seharusnya juga ada di sekitar sini.
Bahkan dari kejauhan, aku sempat menangkap siluet Randy yang sedang sibuk mengatur barisan maba laki-laki. Namun anehnya, hanya dalam hitungan kedipan mata, wujud Randy menghilang tertelan kerumunan.
Dan Biru? Laki-laki berwajah suram itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Aku sudah memindai setiap sudut, mencari sosok jangkung dengan tatapan mata kosong itu, tapi nihil.
Sebuah sengatan kekecewaan kecil yang tak diundang mendadak mencubit sudut hatiku. Aku menggigit bibir bawahku. Kenapa dia nggak ada? Apa dia bolos jadi panitia? Atau dia ditempatkan di divisi yang nggak turun ke lapangan? Berbagai spekulasi mulai memenuhi kepalaku, membuatku sedikit kesal karena harapanku untuk bisa curi-curi pandang di hari pertama ini kandas begitu saja.
Setibanya kami di area Fakultas Kehutanan, barisan mulai diistirahatkan sejenak sebelum kami digiring masuk ke dalam ruang-ruang kelas besar untuk menerima materi fakultas.
Saat aku sedang memijat pelan betisku yang pegal, sebuah bayangan menghalangi sinar matahari di atasku. Aku mendongak. Bumi berdiri menjulang dengan senyum tengil andalannya.
"Cieee, yang udah resmi pake almamater karung goni," goda Bumi, menyenggol lenganku dengan papan clip-board yang dibawanya. "Gimana rasanya dijemur dua jam, Dek Maba? Belum ada niatan mau nangis minta pulang, kan?"
Aku mendengus keras, memberikan tatapan tajam setajam silet. "Berisik lo. Minggir sana, gue lagi males ngeladenin orang caper."
Bumi tertawa renyah, sama sekali tidak tersinggung. Ia justru sengaja sedikit menundukkan wajahnya. "Eits, dijaga ya omongannya ke Kating. Ntar gue laporin ke komdis (komisi disiplin) lho, maba kurang ajar sama panitia ganteng."
"Ganteng dari sedotan. Udah sana pergi, Bum! Ntar temen-temen gue pada mikir yang nggak-nggak!" usirku dengan suara pelan namun menekan.
Aku murni tidak ingin mencari perkara di hari pertama. Dunia kampus adalah sarang gosip yang mengerikan. Aku tidak mau hari pertamaku dirusak oleh isu-isu murahan yang menuduhku sebagai maba gatal yang mencoba mencari perhatian atau dekat-dekat dengan kating panitia. Apalagi jika sampai muncul rumor bahwa aku adalah pacarnya Bumi. Ogah banget! Membayangkannya saja membuatku ingin menenggelamkan diri ke dasar kawah Merapi.
Menyadari perubahan raut wajahku yang mulai serius, Bumi akhirnya mengalah. "Iya, iya, Tuan Putri. Gue balik ke posisi. Semangat ya dengerin materinya. Jangan ketiduran lo, ntar gue fotoin terus gue kirim ke grup kafe."
Ancaman receh itu ia tutup dengan kedipan sebelah mata sebelum akhirnya ia berlari kembali menuju barisan panitia.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah duduk kaku di salah satu kursi dalam ruang kelas berkapasitas besar. Pendingin ruangan (AC) yang menyala maksimal sedikit banyak mendinginkan kepalaku yang mendidih.
Namun, rasa sejuk itu tak mampu menutupi kekecewaan dan rasa asing yang menggerogotiku.
Ruangan ini dipenuhi oleh wajah-wajah baru dari berbagai daerah. Suara dengung obrolan mereka terdengar meriah, beberapa di antaranya sudah mulai sok akrab satu sama lain. Sedangkan aku? Aku duduk diam seperti patung di sudut tengah. Aku tidak mengenal siapa pun di sini. Dan yang paling menyebalkan, eksistensi Biru yang sejak pagi kutunggu-tunggu untuk menyegarkan mata, sama sekali tidak membuahkan hasil.
Merasa bosan dan kesepian, aku diam-diam mengeluarkan ponselku dari saku celana, menyembunyikannya di bawah meja, dan membuka aplikasi WhatsApp. Tanganku dengan lincah mengetik pesan ke Kak Nadine.
Tak sampai satu menit, balasan dari Kak Nadine masuk. Seniorku itu pasti sedang senggang di dapur kafe.
Aku menghela napas panjang membaca balasan itu. Kak Nadine benar. Bos pemilik Cafe Ceria memang orang yang luar biasa baik. Begitu beliau tahu aku diterima di UGM, beliau langsung memaksaku untuk mengambil cuti kerja selama satu tahun pertama—hingga semester tiga nanti—agar aku bisa belajar memanajemen waktu antara tugas kuliah yang padat dan istirahat. Katanya, posisiku sebagai kasir akan selalu aman menungguku.
Masalahnya, untuk orang sepertiku yang gampang akrab tapi sangat kesulitan untuk memulai percakapan lebih dulu, berada di lingkungan baru tanpa satu pun orang yang dikenal ini terasa sangat mengintimidasi. Aku butuh seseorang yang melemparkan umpan pembicaraan terlebih dahulu, baru aku bisa membalasnya dengan luwes.
Aku mematikan layar ponselku dan kembali menatap ke depan dengan bosan.
"Permisi..."
Sebuah suara lembut yang halus tiba-tiba terdengar tepat di sebelah kiriku.
Aku menoleh. Seorang gadis berdiri di sana, tersenyum dengan sangat ramah. Penampilannya sangat rapi dan tertutup. Ia mengenakan hijab bergo yang menjulur panjang menutup dada, rok panjang yang longgar, dan auranya benar-benar memancarkan aura anak pondokan atau pesantren yang teduh. Berbanding terbalik dengan gayaku yang memakai kemeja kebesaran dan celana bahan yang lebih kasual.