Terkadang, rahasia paling besar milik seorang perempuan tidak pernah terbongkar lewat kata-kata. Ia bocor melalui celah-celah kecil yang tak disadari; lewat seulas senyum yang ditahan, lewat sepasang mata yang tiba-tiba berbinar, atau lewat salah tingkah yang gagal disembunyikan. Dan di hadapan perempuan lain yang memiliki frekuensi yang sama, rahasia itu tak ubahnya seperti kaca transparan.
***
Hari keempat masa orientasi mahasiswa baru.
Udara di dalam ruang auditorium fakultas siang ini terasa jauh lebih pengap dari biasanya. Ratusan tubuh berbalut kemeja putih dan almamater karung goni—julukan sayang kami untuk almamater kebanggaan UGM—telah duduk berjam-jam mendengarkan rentetan materi yang seolah tak ada habisnya. Kelopak mataku rasanya sudah seberat bandul timbangan. Jika bukan karena takut diseret oleh komisi disiplin (komdis) yang berpatroli dengan wajah garang di sisi ruangan, mungkin aku sudah merebahkan kepalaku di atas meja dan bermimpi indah.
Namun, di balik rasa kantuk yang menyiksa ini, ada satu sesi materi yang diam-diam sangat kutunggu. Sesi pengenalan struktur organisasi kemahasiswaan.
Berdasarkan silabus ospek hari ini, para petinggi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas akan melakukan presentasi dan perkenalan kabinet baru mereka. Ini adalah momen krusial bagiku. Sejak obrolan di puncak Bromo tempo hari, aku benar-benar buta akan informasi. Aku tidak tahu siapa yang akhirnya memenangkan Pemilihan Raya (Pemira) untuk kursi BEM.
Aku murni tidak berani bertanya kepada Bumi. Menanyakan kabar Biru lewat mulut Bumi sama saja dengan menggali kuburanku sendiri. Insting Bumi itu sangat tajam jika menyangkut bahan ejekan. Jika ia mencium sedikit saja gelagat ketertarikanku pada Biru, ia pasti akan menggunakannya sebagai senjata untuk merundungku setiap hari di kafe, atau yang lebih parah, ia bisa saja mulutnya bocor ke Biru langsung.
Sistem organisasi di sini memang sedikit unik. Untuk rekrutmen staf atau anggota biasa BEM (seperti posisi yang ditawarkan Randy padaku), pendaftarannya baru akan dibuka pada akhir semester dua nanti. Jadi, anak-anak seangkatan Bumi dan Biru sebenarnya baru saja resmi menjadi anggota. Namun, untuk posisi puncak seperti Presiden dan Wakil Presiden BEM, pemilihannya sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu, tepatnya sekitar tiga minggu sebelum jadwal pendakian kami ke Bromo. Dan pengumuman hasil akhirnya baru dirilis sebulan yang lalu.
Karena itulah saat di Bromo kemarin, Dimas dan Randy dengan pedenya sudah mempromosikan BEM kepadaku, karena mereka sudah tahu siapa yang akan memegang tampuk kepemimpinan.
Kini, aku hanya duduk berdoa dalam hati. Mataku menatap tajam ke arah layar proyektor raksasa di depan sana. Aku hanya ingin melihat satu nama. Biru Samudra. Jangan sampai nama Bumi yang muncul di sana. Bisa kiamat dunia perkuliahan ini jika dipimpin oleh pemuda tengil itu.
"Baiklah, teman-teman maba sekalian," suara Master of Ceremony (MC) menggema memecah lamunanku. "Sekarang kita akan memasuki sesi yang paling ditunggu. Mari kita sambut kedatangan nakhoda baru fakultas kita. Inilah Presiden dan Wakil Presiden BEM periode terbaru!"
Suara tepuk tangan gemuruh memenuhi auditorium.
Di layar proyektor, slide presentasi berganti. Sebuah transisi animasi yang dramatis menampilkan dua buah foto close-up berukuran besar, lengkap dengan nama dan jabatan mereka yang dicetak tebal.
Foto pertama, seorang mahasiswi cantik dengan jas almamater yang rapi dan senyum berwibawa. Presiden BEM: Sherly Anindita.
Dan di sebelahnya...
Foto kedua menampilkan wajah yang sangat, sangat kukenal. Laki-laki dengan rambut hitam lebat belah tengah, mengenakan kemeja putih yang dasinya sedikit dilonggarkan di balik almamaternya. Wajahnya menatap lurus ke arah kamera dengan ekspresi datar yang khas, namun entah mengapa aura kepemimpinannya menguar begitu kuat.
Wakil Presiden BEM: Biru Samudra.
Bingo!
Tanpa sadar, sebuah lengkungan senyum lebar terbit di bibirku. Hatiku bersorak kegirangan layaknya supporter bola yang timnya baru saja mencetak gol di menit terakhir. Rasa lega yang luar biasa menyiram dadaku. Dia menang. Biru dan Kak Sherly benar-benar memenangkan pemilihan itu! Prediksiku tidak meleset, pesona Biru (meskipun dengan wajah datarnya itu) pasti berhasil meraup banyak suara, apalagi ditambah rekam jejak Kak Sherly yang memang sudah menjadi wakil ketua di periode sebelumnya.
Aku terus menatap foto Biru di layar itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga yang mekar diam-diam di hatiku. Laki-laki yang dulu begitu antisosial, kini menjelma menjadi sosok penting yang akan memimpin ratusan mahasiswa. Ini adalah sebuah lompatan karakter yang sangat besar.
Saat aku masih asyik tersenyum sendiri layaknya orang gila, sebuah sikutan pelan mendarat di tulang rusukku.
"Ekhem."
Aku menoleh. Salsa, teman pondokan-ku yang kini resmi menjadi sahabat karibku, sedang menatapku dengan posisi kepala sedikit dimiringkan. Senyum di bibir Salsa tertahan, dan matanya memicing penuh arti.
"Kenapa senyum-senyum sendiri gitu ngeliatin layar?" bisik Salsa pelan, suaranya halus namun mematikan. "Fokus banget ngeliatin foto Mas Wapres BEM kita. Kamu suka ya sama Kak Biru?"
Deg.
Tembakan sniper yang tidak terprediksi itu sukses membuat jantungku anjlok. Aku salah tingkah seketika.
"Hah? Apaan sih, Sal?! Nggak usah ngarang deh!" bisikku panik, buru-buru memalingkan wajah dan menatap lurus ke depan dengan postur setegak tiang bendera. Wajahku pasti sudah memerah matang sampai ke telinga. "Siapa juga yang senyum-senyum? Orang aku lagi... lagi kagum aja sama design layout power point-nya. Iya, rapi banget font-nya."
Alasan terbodoh abad ini baru saja meluncur dari mulutku.
Salsa tidak tertawa keras, ia hanya menutupi mulutnya dengan punggung tangan, terkekeh pelan dengan cara yang sangat elegan namun sukses membuatku mati kutu.
"Alah, nggak usah bohong sama aku, Sky. Kita sesama cewek punya insting, tau," goda Salsa, masih dengan suara berbisik. "Lagian wajar kok kalo kamu naksir. Kak Biru emang secakep itu. Mukanya tuh tipe-tipe cool, berwibawa, tegas, pantes banget jadi penerusnya Kak Sherly nanti. Auranya aja beda dari cowok-cowok lain di sini. Setuju, kan?"
Aku menggigit bibir bawahku. Sialan. Insting perempuan yang satu ini ternyata terlalu tajam untuk dikelabui.
Menyadari bahwa penyangkalanku tak akan membuahkan hasil, dan karena aku memang sudah sangat nyaman berteman dengan Salsa, aku akhirnya mengibarkan bendera putih. Aku menoleh kembali ke arahnya, memberikan tatapan pasrah yang kalah.
"Kelihatan banget ya, Sal?" cicitku merana.
Salsa mengangguk mantap sambil tersenyum lebar. "Banget. Mata kamu pas liat fotonya tadi tuh berbinar-binar kayak anak kecil dikasih kembang gula. Jadi beneran nih, kamu naksir Kak Biru?"