Ada kalanya, hadiah yang paling menyentuh hati tidak datang dari mereka yang sedarah denganmu. Ia justru datang dari orang-orang asing yang tak sengaja kau temui di persimpangan jalan, namun bersedia membongkar celengan kasih sayangnya hanya untuk melukis seulas senyum di bibirmu. Dan terkadang... itulah definisi keluarga yang sesungguhnya.
***
Malam itu, sepulang dari rumah kos Salsa, rutinitas yang membekukan kembali menyapaku.
Begitu roda motorku berhenti di garasi dan kakiku melangkah melewati pintu utama, aku disambut oleh paduan suara yang teramat familiar: keheningan yang absolut. Tidak ada sapaan "Kamu sudah pulang, Nak?" atau sekadar tatapan mata yang beralih dari layar televisi. Rumah ini besar, megah, dan diisi oleh perabotan mahal, namun entah mengapa udaranya selalu terasa lebih tipis dan mencekik daripada di puncak gunung.
Aku tak repot-repot membuang suaraku untuk mengucapkan salam. Langsung saja kuarahkan kakiku menaiki anak tangga, menuju satu-satunya ruang aman yang kumiliki.
Klik. Kunci pintu kamarku berputar dua kali. Aku menghempaskan tas ranselku ke lantai, lalu menjatuhkan tubuhku yang remuk redam ke atas kasur tanpa melepaskan kemeja ospekku. Langit-langit kamarku yang berwarna putih polos menatapku balik dengan bisu.
Pikiranku sejenak melayang pada notifikasi pesan WhatsApp dari Badai beberapa jam yang lalu. "Lo dimana?" Dua kata yang sangat sederhana, namun sukses membuat otakku bekerja keras mencari konspirasi apa yang sedang direncanakan oleh adik laki-lakiku itu. Tumben sekali ia peduli pada koordinat keberadaanku? Apakah Ibu menyuruhnya? Ataukah Ayah marah karena aku pulang terlambat?
Ah, persetan dengan itu semua.
Energi fisik dan mentalku sudah terkuras habis hari ini. Dihukum menyanyi di depan kelas, berkenalan dengan Salsa, dan berpura-pura menjadi manusia ekstrovert di tengah ratusan maba benar-benar melelahkan. Aku meraih ponselku, mengabaikan chat dari Badai, lalu menyambar sebuah novel fiksi setebal batu bata dari atas meja nakas. Novel ini sudah menemaniku sejak tiga hari yang lalu dan tak kunjung selesai karena jadwalku yang padat.
Tiga atau empat bab lagi deh, habis itu baru mandi, batinku membuat negosiasi konyol dengan kemalasanku sendiri.
Membaca novel selalu menjadi pelarianku yang paling manjur. Di dalam lembaran kertas ini, aku bisa menjadi siapa saja. Aku bisa kabur dari realita keluargaku yang dingin, melupakan teka-teki tentang sikap Badai, dan sejenak mengistirahatkan mataku dari mencari-cari wujud Biru Samudra.
Keesokan harinya, matahari Jogja kembali terbit dengan semangat yang menggebu-gebu.
Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh seluruh maba se-universitas. Gladi bersih Papermob. Ini bukan sekadar latihan biasa; ini adalah gladi berskala masif yang melibatkan ribuan mahasiswa di lapangan terbuka untuk membentuk koreografi kertas raksasa.
Aku sudah bersiap sejak pagi buta. Setelah merapikan kemeja putih dan almamater, aku langsung memacu motorku membelah jalanan pagi. Destinasi pertamaku bukanlah kampus, melainkan rumah kos Salsa di daerah Pogung.
Sesuai kesepakatan kami kemarin sore, aku akan menjadi ojek pribadi dadakan untuk Salsa selama masa ospek ini. Toh, jalur dari rumahku menuju kampus memang searah dan harus melewati area kosannya. Daripada Salsa harus terus-menerus membakar uang jajannya untuk memesan ojek online, lebih baik uang itu dialokasikan untuk hal yang lebih berguna—seperti jajan pentol atau es teh jumbo di kantin. Sayang uangnya, hidup sebagai mahasiswa itu harus pandai berhitung.
"Udah siap, Nyonya?" godaku saat Salsa keluar dari gerbang kosnya, lengkap dengan tas ransel besar berisi lembaran kertas karton berwarna-warni yang diwajibkan oleh panitia.
"Siap, Kapten! Berangkat!" seru Salsa riang, naik ke boncengan motorku.
Sebelum menuju kampus, kami menyempatkan diri mampir ke sebuah gerobak bubur ayam di pinggir jalan Selokan Mataram untuk sarapan. Berdiri berjam-jam di lapangan nanti akan menjadi simulasi neraka bocor jika perut kami kosong. Kami menyantap bubur itu dengan cepat namun penuh khidmat, mengisi bahan bakar untuk fisik kami.
Setibanya di area kampus Universitas Gadjah Mada, lautan manusia beralmamater cokelat karung goni sudah tumpah ruah di mana-mana. Kami bergegas menuju Lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) yang mahaluas itu.
Panitia dari berbagai fakultas sudah sibuk berteriak menggunakan megaphone, mengarahkan barisan seperti komandan peleton di kamp militer.
"Fakultas Kehutanan! Barisan Kehutanan sebelah sini, Dek! Rapatkan barisannya!"
Aku dan Salsa segera mencari plang nama fakultas kami. Beruntung, plot barisan untuk Fakultas Kehutanan hari ini ditempatkan di sayap paling kiri lapangan, agak menepi. Posisi yang cukup strategis karena nanti saat matahari mulai naik ke atas kepala dan menyengat dengan beringas, barisan kami tidak akan terlalu terpanggang dibandingkan mereka yang berada di tengah-tengah lapangan.
Tepat saat aku dan Salsa baru saja meletakkan tas ransel kami di atas rumput lapangan untuk booking tempat, sebuah suara berat yang familiar merusak kedamaian pagiku.
"Pagi, Dek Maba. Cerah banget mukanya, udah siap dijemur?"
Aku mendongak, dan langsung memutar bola mataku dengan malas. Bumi. Si pemuda biang kerok itu berdiri menjulang di hadapanku dengan rompi panitianya, tersenyum tengil. Namun anehnya, kali ini tangannya tidak kosong. Ia menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
"Ngapain lo di sini? Divisi lo bukannya bagian logistik di belakang panggung?" tanyaku ketus, merapikan letak topi ospekku.
"Yee, ditanya baik-baik malah ngegas. Untung gue orangnya sabar dan berhati malaikat," Bumi mendecak pelan, lalu menarik tangannya dari balik punggung. Ia menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado rapi ke arahku. "Nih. Titipan."
Aku menatap kotak itu dengan dahi berkerut. "Apaan nih? Bom?"
"Mulut lo ya. Ini titipan dari Kak Nadine, bawel. Tadi subuh sebelum gue berangkat ke kampus buat briefing panitia, Kak Nadine nyamperin kosan gue. Katanya suruh ngasihin ini ke elo khusus hari ini."
Aku menerima kotak itu dengan tangan ragu. Titipan dari Kak Nadine? Tumben sekali. Kenapa harus repot-repot menitipkannya pada Bumi di tengah acara ospek yang hectic begini? Kenapa tidak diberikan langsung kepadaku nanti saat aku masuk kerja lagi setelah masa cutiku habis? Atau setidaknya, dikirim via paket ke rumah?
"Cieee..."
Sebuah suara bisikan bernada menggoda terdengar dari sebelah kananku. Aku menoleh. Salsa sedang menutupi mulutnya menahan tawa, matanya melirik bergantian ke arahku dan Bumi dengan tatapan penuh selidik.
Salsa merapatkan tubuhnya ke arahku, menyenggol lenganku pelan. "Kenalanmu, Sky? Kating, ya? Ganteng lho. Gebetan kamu?" bisiknya sepelan mungkin, namun rupanya telinga Bumi cukup tajam untuk menangkap gelombang suara itu.
Mataku langsung melotot horor. Sialan. Ini dia yang paling kutakutkan sejak awal! Kesalahpahaman!
Aku buru-buru mengibaskan tanganku ke arah Salsa, membantah dengan kecepatan kilat. "Sembarangan kalo ngomong! Nggak ada ya gebetan-gebetanan. Sal, dengerin aku baik-baik. Dia ini emang kating kita, tapi dia juga temen kerjaku di kafe. Kita murni cuma partner kerja yang kebetulan sering satu shift. Nggak lebih dari itu!"
Mendengar klarifikasi panikku, senyum di bibir Bumi malah semakin lebar dan menyebalkan. Alih-alih membantah, anak itu malah dengan sengaja memanfaatkan momentum untuk mengerjaiku.
"Ah, masa sih cuma temen kerja, Sky?" goda Bumi, mencondongkan wajahnya sedikit ke arahku dengan tatapan jenaka yang dibuat-buat. "Bukannya kemarin pas di Bromo lo bilang lo nyaman banget sama gue? Masa di depan temen lo, lo nggak mau ngakuin kedekatan kita?"
DUARR.
Rasanya kepalaku mau meledak mendengarnya. Urat kesabaranku putus seketika.
"BUMI! JAGA MULUT LO YA BANGSAT!" desisku dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian komdis, tapi tanganku dengan cepat mencubit keras pinggang pemuda itu hingga ia mengaduh kesakitan. "Jangan bikin fitnah pagi-pagi! Pergi sana lo! Hush! Hush! Ngerusak pemandangan aja!"