Suasana hiruk-pikuk di SMA Victoria selalu terjadi pada jam istirahat. Semua siswa berbondong-bondong keluar kelas. Ada yang antre makan di kantin, ada yang olahraga, ada yang sedang bercanda ria di taman sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Namun ada juga yang lari ke perpustakaan mencari ketenangan. Seperti yang dilakukan Nara seorang siswa yang baru saja menginjak kelas 12. Dengan tenang dia membaca buku matematika untuk mengulas materi yang tidak dia pahami selama pembelajaran kelas. Saat Nara mulai terlarut dengan rumus-rumus yang dia baca, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia buka ponselnya sekilas dan terlihat notifikasi pesan dari sahabatnya Keira. Atau mungkin sekarang udah bukan lagi. Karena terlihat Nara mengabaikan pesan dari Keira dan memilih melanjutkan bacaan matematikanya.
Tak terasa bel sudah berbunyi menandakan pembelajaran kelas akan dilanjutkan. Nara berjalan dengan santai sambil membawa buku matematika yang dia pinjam. Saat masuk kelas tatapannya langsung tertuju pada seorang siswi berambut cokelat pendek yang sudah duduk tepat di depan bangkunya. Tak lupa dia menyimpan tongkat kruk di bawah meja yang juga tampak kaki kirinya tertutup perban yang cukup tebal.
Iya itu adalah Keira yang tadi mengirim pesan menanyakan keberadaan Nara. Lambaian tangan dan senyum lebar Keira menyambut Nara yang sudah dia cari-cari daritadi. Namun Nara tidak membalas sedikitpun sambutan Keira dan langsung duduk di bangkunya.
"Kamu darimana sih tadi. Aku tadi di kantin sampai jam istirahat selesai tapi kamu gak muncul," Tanya Keira.
Tidak ada jawaban yang terlontar. Nara sibuk menyiapkan buku-buku di mejanya
"Kamu pasti tadi belum makan kan. Pulang sekolah nanti aku beliin makan yaa. Itung-itung balas budi karena kamu mau minjemin catatan matematika," Lanjut Keira seolah dia sudah terbiasa dengan sikap cuek Nara.
"Emm atau kalau kamu mau kita makan bareng aja sekalian. Kamu lagi kosong kan hari ini. Gimana mau gak?". Tanya Keira dengan antusias berharap ajakannya diterima.
"Aku nanti makan di rumah". Akhirnya terdengar jawaban singkat Nara.
"Hmm... Yaudah deh gapapa. Tapi nanti kita pulang naik bis bareng yaa. Ohh iya ini buku catatannya kemarin. Makasih yaa. Kalau aku gak ngumpulin catatan hari ini pasti aku bakal dimarahin Bu Yanti nanti," Jawab Keira sambil meletakan buku catatan matematika di bangku Nara lalu dia balik badan kembali ke bangkunya.
Nara menghembuskan nafas dengan pelan namun kuat setelah melihat Keira yang masih saja tidak menyerah mencari momen untuk mendekatinya. Tapi sekuat apapun dia ingin menghindar pada akhirnya dia juga tidak bisa mengabaikan Keira sepenuhnya.
Seperti kejadian kemarin ketika Nara sedang piket mengantar buku-buku teman sekelasnya ke ruang guru. Disana dia melihat Keira dimarahin Bu Yanti karena tidak pernah mencatat materi matematika dan menyuruhnya mengumpulkan catatan materi dari awal pertemuan kelas yang harus selesai besok.
Setelah jam pulang, Nara melihat Keira yang mondar-mandir mencari buku di perpustakaan dengan langkah kaki yang tertatih-tatih. Terlihat tangan kanannya agak gemetar karena terlalu lama bertumpu pada tongkat kruk membuat hati nurani Nara tergugah. Lalu Nara diam-diam meletakan buku catatannya di meja perpustakaan tempat Keira duduk.