(Lanjutan)
Ketika Nara sedang dalam pergulatan batin, tiba-tiba terdengar suara yang familiar memanggil namanya. Dia menoleh ke sumber suara yang ternyata itu adalah Keira.
Dengan jalannya yang pincang namun penuh semangat, Keira menghampiri Nara.
Tanpa meminta izin, Keira langsung duduk di satu kursi yang masih kosong berseberangan dengan Nara. Suasana di meja itu langsung terasa canggung begitu Keira datang. Rina dan teman-temannya dengan kompak memutar bola matanya dan saling bersikut pertanda rasa tidak suka dengan kehadiran Keira.
Namun Keira terlihat tidak peduli dengan mereka. Perhatiannya hanya tertuju pada Nara.
"Aduh, aku laper banget nih. Tadi aku masih harus ngarahin adik-adik panitia OSIS baru makanya jadi telat."
Kemudian Keira mengangkat tangan kanannya memanggil penjaga stan kantin untuk memesan makanan.
Saat Keira sibuk memesan makanan, Rina mulai berbisik ke Nara.
"Kita mau pindah tempat. Kamu mau ikut?"
"Gapapa aku disini aja." Jawab Nara dengan singkat.
"Yakin? Kamu ingat kan tadi omongan kita." Ucap Rina yang berusaha mengingatkan Nara.
"Kalau aku ikut, dia pasti juga ikut." Balas Nara dengan datar.
"Hmm..iya sih tapi..." belum sempat Rina menyelesaikan perkataannya, suara Keira menyaut memotong bisikan Rina.
"Kalau kalian gak nyaman disini, pindah aja. Tuh udah ada beberapa meja kosong. Nara biar sama aku aja disini. Ya kan Ra?" Saut Keira dengan tegas sembari menatap Nara seolah sedang meminta kepastiannya. Entah sejak kapan Keira sudah menyelesaikan pemesanan makanannya.
Rina merasa kesal ketika ucapannya dipotong. Dia menatap tajam ke Keira seakan bersiap untuk debat dengannya. Belum sempat Rina mengeluarkan kata-kata, pergelangan tangannya segera ditahan oleh Nara. Dia menggelengkan kepala dengan pelan dan menatap mata Rina seakan mengisyaratkannya untuk tidak perlu membalas perkataan Keira.