2 Februari 2026
Terdengar suara sorak-sorai bergemuruh memenuhi Gedung olahraga (GOR) di Jakarta. Semua kursi di lantai 2&3 sudah dipenuhi oleh gerombolan siswa dari 2 sekolah yang sedang bertanding yaitu SMA Antariksa dan SMA Victoria. Berbagai spanduk dan atribut menghiasi suasana dalam gedung. Pertandingan voli perempuan antar 2 sekolah tersebut berjalan sengit dengan skor yang saling berkejaran. Di lapangan, terlihat Keira dengan rambut pendeknya dikuncir setengah sedang mengatur strategi timnya. Saat itu skor tim voli Keira lebih unggul dan hanya butuh satu poin lagi untuk memenangkan pertandingan.
Babak penentuan dimulai tepat setelah wasit meniup peluitnya. Bola terus dipukul melayang bergantian dari satu sisi ke sisi lain. Suasana yang sebelumnya penuh dengan suara kerumunan pendukung pun mendadak hening sejenak, menyaksikan sengitnya pertandingan dari 2 tim ini. Setelah satu smash tajam dari Keira menembus pertahanan lawan, peluit ditiup panjang pertanda pertandingan telah selesai. Tim voli SMA Victoria berhasil masuk babak final. Semua pendukung dan siswa SMA Victoria bersorak merayakan kemenangan. Banyak flash kamera dari wartawan yang menangkap momen pertandingan.
Diantara keramaian tim pendukung SMA Victoria, terlihat Nara bertepuk tangan dengan tenang menyaksikan kemenangan tim sahabatnya. Kemudian dia segera mengambil kamera polaroid dari dalam tasnya. Kedua tangannya memegangi kamera bersiap akan memotret.
Cekrek
Keluar lembar foto dari alat kamera. Nara mengibaskan sebentar lalu dia tersenyum lebar seolah merasa puas dengan hasil fotonya. Kamera itu menangkap momen tim Keira sedang berpelukan merayakan kemenangan. Setelah itu, Nara menyisipkan fotonya ke dalam buku komik.
Nara memandangi buku itu dan tak sadar dia bergumam sendiri. "Dia pasti suka hadiah ini,"
Pada hari kemenangan itu ternyata juga bertepatan dengan hari ulang tahun Keira yang ke-17. Hari yang sangat ditunggu oleh Nara untuk merayakan ulang tahun sekaligus keberhasilan tim Keira masuk ke babak final. Dia menjadi orang pertama yang memberi Keira hadiah karena rasa antusiasnya yang besar.
"Ini beneran, aku paling duluan ngasih hadiah ke kamu," tanya Nara setelah dia memberi hadiahnya ke Keira yang saat itu sudah berpindah posisi di aula sekolah.
"Iya Nara, tapi aku udah duga sih pasti kamu duluan yang ngucapin. Makasih banyak yaa." Balas Keira sambil memeluk Nara.
Setelah melepas pelukan, Keira mengundang Nara di restoran tempat perayaan ulang tahunnya. Awalnya Nara menolak karena dia merasa canggung dengan teman-temannya Keira. Tapi Keira berusaha meyakinkan Nara untuk mau hadir di pesta ulang tahunnya.
"Udah gapapa gausah malu, kan ada aku disana. Nanti aku temenin. Mau ya, please?" Rayu Keira sambil merapatkan kedua telapak tangannya.
Akhirnya Nara menerima undangan Keira dengan harapan dia bisa ikut jadi bagian penting di perayaan momen ulang tahun sahabatnya bersama dengan temannya yang lain.
Tapi harapannya musnah seketika. Disana, Nara duduk sendirian. Di tengah keramaian teman-teman OSIS dan voli Keira yang tidak ada satupun dia kenal. Pandangan Nara tak lepas dari Keira, seseorang yang sangat dia harapkan untuk sesekali datang menemani. Semua orang disana sedang asyik bersenda gurau tanpa ada yang mengajaknya. Seolah hanya dia satu-satunya orang asing yang lancang menerobos kehidupan sosial Keira.
||
Kenangan menyakitkan itu kembali muncul di ingatan Nara yang saat ini sedang sendirian di gedung aula yang redup. Nara menatap langit gedung dengan pandangan kosong. Tak lama kemudian dia tersenyum tipis, bukan senyum manis. Tapi senyum sinis. Merasa miris dengan dirinya sendiri.