8 April 2026
"Awalnya pihak sekolah ingin Keira mengundurkan diri dari jabatannya karena mau bagaimana kasus korupsi keluarga Keira mempengaruhi nama baik sekolah." Ucap seorang guru wanita yang juga merupakan pembina OSIS.
"Karena popularitas Keira sebagai kapten tim voli yang mewakili sekolah kami, otomatis namanya terus jadi sorotan publik walaupun bukan dia yang bersalah," Lanjut pembina OSIS dengan hati-hati menjelaskan ke mama Keira.
Suasana perbincangan di ruang kepala sekolah itu cukup dingin. Selain pembina OSIS dan mama Keira, ada juga bapak kepala sekolah SMA Victoria dan Rafael sebagai ketua OSIS pada masa itu. Dan tentunya ada Keira, yang sedari awal menundukkan kepalanya dengan badannya yang sedikit membungkuk.
Kepala sekolah menimpali penjelasan pembina OSIS. Dia menjelaskan pihak sekolah tetap mempertimbangkan keaktifan Keira dalam menjalankan kewajiban OSIS dan prestasi Keira dalam bidang voli yang dinilai sangat baik oleh pihak sekolah. Selain itu, nilai akademik Keira dinilai pihak sekolah cukup baik yang mampu mempertahankan peringkat 20 besar dari 100 siswa seangkatan.
"Dari semua pencapaian Keira, tidak ada alasan pihak sekolah memutus jabatan Keira. Ditambah lagi masa jabatan Keira juga akan habis dan ibu pembina tidak punya banyak waktu untuk mencari pengganti." Lanjut kepala sekolah dengan suaranya yang berwibawa.
"Setelah berbagai pertimbangan dengan penuh kehati-hatian, kami pihak sekolah memutuskan bahwa jabatan Keira akan dinonaktifkan selama 1 bulan untuk meredakan situasi di luar sekolah dan Keira akan difokuskan membimbing calon wakil OSIS yang baru untuk sisa jabatan nantinya," Tutup pembina OSIS dengan ramah.
Mama Keira menghela nafas lega mendengar hasil keputusan yang masih mempertimbangkan pencapaian anaknya. Kemudian mama Keira menoleh ke samping kiri dan tangan kirinya menggenggam tangan putri kesayangannya. Namun, Keira masih dengan posisi menunduk. Terlihat pandangannya yang sayu tersirat rasa keputusasaan.
Sementara di sisi lain, Rafael memandang Keira dengan tatapan yang tak biasa.
||
Gumpalan uap putih keluar dari mulut Keira berbaur dengan udara area tangga darurat sekolah yang jarang dilewati orang. Ada kesuraman yang tersirat di matanya, menyimpan luka yang belum sembuh. Pundaknya tampak terasa lebih berat pada hari itu. Setelah Keira merasa dipermalukan oleh Rafael. Hingga Keira harus mengingat kembali ingatan pahit saat dia mulai kehilangan arah.
Biasanya di saat seperti ini, dia selalu menghampiri Nara. Berada di dekatnya saja sudah membuat Keira merasa tenang. Tetapi sudah 4 hari ini bahkan hanya sekedar duduk di samping Nara sudah tidak bisa dia lakukan. Memang Nara selalu bersikap cuek namun beberapa hari itu, Keira merasa Nara benar-benar menghindar darinya.