Bisakah Kita Berteman Lagi?

DfaAaa
Chapter #6

Diam yang Menenangkan

"Traak" "Traak"

Terdengar bunyi kruk milik Keira menggema di suasana perpustakaan sekolah yang semakin sepi pengunjung. Dari pintu masuk, terlihat Nara sedang tidur telungkup di meja. Kebiasaan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dengan hati-hati, Keira menghampiri meja yang ditempati Nara. Kini posisi Keira hanya berjarak 50 cm dari Nara. Keira melirik kaki kanan Nara yang mengetuk sanggahan kaki meja dengan pelan pertanda dia sedang tidak tidur. Keira diam sejenak untuk mencari topik obrolan.


"Emm..Nara, ini aku mau balikin pensil punyamu, makasih ya," Ucap Keira sambil memegang sebuah pensil mekanik. Pensil yang dia pakai waktu rapat OSIS tadi.


Tidak ada respon apapun dari Nara. Dia masih tetap diam di tempat.


"Aku taruh di tempat pensil sini ya. Maaf kalau aku baru balikin ini," Lanjut Keira dengan suara lembut.


Akhirnya Keira meletakkan sendiri pensil di tempat pensil milik Nara. Saat menaruh pensil, Keira mendengar nafas Nara yang berat dan tidak teratur. Dari dekat, tampak tangan kanan Nara memegang erat baju di sekitar area perutnya. Wajah Keira seketika berubah panik begitu melihat kondisi Nara. Kini tanpa ragu, Keira menepuk pundak Nara secara perlahan.


"Nara,,kamu gapapa kan?" Tanya Keira dengan suaranya yang mulai bergetar.


Karena tidak merespon, Keira beranjak duduk tepat di samping kiri Nara. Setelah menyandarkan kruk di meja, kedua tangan Keira membangunkan tubuh Nara dari posisi telungkupnya. Begitu badannya terangkat, kepalanya langsung terjatuh di pundak kiri Keira. Mata Keira terbelalak melihat wajah Nara yang pucat pasi dengan dipenuhi keringat dinginnya.


"Nara,, Nara,," Teriak Keira memanggil Nara berkali-kali hingga mengundang ibu penjaga perpustakaan serta beberapa siswa yang masih di perpustakaan menghampiri mereka.


Dengan gerak cepat, ibu penjaga perpustakaan menempati kursi tepat di samping kanan Nara.


"Ayo kita bawa ke UKS, kamu masih kuat jalan? Kalau gak kuat ibu panggil dulu anak PMR." Tanya ibu penjaga ke Nara yang masih setengah sadar.


"Rumah sakit," jawab Nara dengan suara lirih, berusaha menahan rintihannya.


"Mungkin lebih baik Nara langsung dibawa ke rumah sakit aja Bu, biar saya antar," usul Keira dengan penuh keyakinan.


Kemudian Ibu penjaga perpustakaan segera memesankan taksi dan membantu menuntun Nara bersama dengan Keira sampai depan gerbang sekolah.


- - - - -

Lihat selengkapnya