Aroma aspal basah bercampur udara dingin memenuhi sekitar halte di perkotaan. Meski sudah tengah hari, langit siang pada hari itu diselimuti awan kelabu. Halte tidak seramai biasanya seperti hari Minggu sebelumnya. Cuaca pada hari itu membuat sebagian orang malas keluar. Berkebalikan dengan Nara yang tidak ingin mengurungkan rencananya untuk pergi ke toko buku. Selama menunggu kedatangan bus, Nara menikmati sejenak suasana halte yang lengang ditemani suara desir angin.
Saat sedang menikmati suasana, tiba-tiba tangan kanannya merasakan getaran dari ponselnya. Terlihat pesan masuk dari Keira yang tampak di notifikasi. Nara segera membuka pesan itu. Terdengar helaan napas pelan darinya setelah membaca pesan dari Keira
"Nara ... Aku hari ini gabisa ikut ke toko buku. Padahal ini pertama kali akhirnya kita bisa jalan lagi🥺. Aku harus bantu bimbing adek-adek OSIS. Maaf yaa😠"
Nara segera menurunkan ponselnya. Namun tak sampai 30 detik, dia merasakan getaran ponselnya lagi. Di beranda aplikasi pesan, terlihat Keira kembali mengirim lima stiker bernuansa sedih dan kecewa.
"Siapa juga yang nunggu," Gumam Nara datar dengan suara lirih setelah membaca pesan dari Keira.
- - - - -
Nara menyenderkan kepalanya di jendela bus. Kedua tangannya terlipat santai di depan dadanya. Sorot matanya sibuk memandangi suasana kota yang tampak lebih teduh setelah hujan di luar jendela. Di tengah suasana tenang itu, tangannya tiba-tiba tergerak untuk meraih ponsel dari dalam tasnya. Entah kenapa terbesit di pikirannya untuk membuka kembali riwayat pesan dengan Keira.
Nara membaca riwayat chat itu dengan seksama. Perbedaan percakapan mereka sekarang dan beberapa bulan lalu terasa begitu jelas baginya. Chat yang sekarang dipenuhi oleh pesan Keira yang tidak pernah dia balas. Sedangkan beberapa bulan lalu, chat percakapan mereka terasa biasa saja seperti chat kebanyakan orang yang saling bertukar pesan. Nara memang sudah terbiasa menerima pesan pembatalan mendadak Keira seperti sekarang. Namun, dulu setiap pesan atau balasan yang dikirim Keira selalu singkat.
"Nara, maaf aku gak bisa ke rumahmu.. Lain kali aja,"
Dari potongan pesan itu saja sudah cukup membuat Nara berpikir bahwa saat ini Keira sedang mencoba memperbaiki hubungan dengannya.
Jempol tangan Nara masih tidak berhenti menggulir layar ponselnya. Dan akhirnya, dia sampai di pesan terakhir yang dikirimnya. Setelah itu, hanya ada pesan masuk tanpa balasan darinya.
25 Maret 2026
"Makasih Keira, kamu mau luangin waktu buat aku di tengah kesibukanmu."
"Pertemuan kita di bioskop hari ini sudah cukup buat aku merasa lebih baik. Setelah itu aku janji gak akan ganggu waktu kamu lagi,"
"Sekali lagi maaf ya untuk hari ini,"
Nara menghela napas berat setelah membaca potongan chat itu. Pupil matanya mulai bergerak dengan gelisah. Kemudian Dia segera memejamkan matanya sejenak lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Di dalam bus yang lengang, hembusan napas keras Nara terdengar samar namun jelas, berusaha mencoba menenangkan dirinya. Tak sengaja matanya melirik sebuah tumbler yang tersimpan di saku tas selempangnya. Pada hari itu, sebenarnya Nara juga berencana akan mengembalikan tumbler milik Keira.
"Ternyata, aku nunggu juga," gumam Nara pelan sambil mengangkat sedikit satu sisi sudut bibirnya.
- - - - -
Pendingin ruangan membuat suasana toko buku semakin dingin namun menenangkan pasca hujan di luar. Terlihat beberapa pengunjung sibuk mondar-mandir mencari buku yang diinginkannya. Di sisi lain ada juga pengunjung yang diam membaca deskripsi buku di sudut rak. Termasuk Nara yang sedari tadi sibuk membaca deskripsi dan membandingkan buku-buku yang berjejer di rak. Setelah pertimbangan penuh, akhirnya dia memilih salah satu buku dan segera menghampiri kasir. Sebuah buku persiapan ujian sekolah tampak dijinjing santai oleh Nara, walau ujian itu masih akan dihadapinya beberapa bulan lagi.